Kisah Hidup Daniel Mananta?

Belajar dari perjalanan hidup seorang Daniel Mananta yang pada awalnya merasa sebagai seorang pecundang dan dinilai sebagai orang aneh (weirdo?) oleh lingkungan sekitar.

Sukacitanya melambung tinggi ke satu ekstrim lainnya, saat didapuk sebagai VJ MTV sehingga merasa sangat ketagihan dengan ‘manis’nya popularitas dan tanpa sadar menjadikan popularitas sebagai “tuhan”nya.

Dalam pernyataan pribadinya, tanpa popularitas seorang Daniel Mananta bukanlah siapa siapa dan hanyalah seorang aneh yang mengganggu kenyamanan lingkungan.

Perasaan euforianya semakin menjadi jadi saat berada dipuncak popularitasnya sebagai host Indonesian Idol, namun ironinya justru saat di ajang inilah seorang Daniel Mananta mengalami krisis identitas terburuk, saat pita suaranya tiba tiba mengalami gangguan medis.

Ibarat seorang pelukis terkenal yang tiba tiba harus kehilangan penglihatannya, atau seorang pemain gitar hebat yang tiba tiba harus kehilangan jarinya.

Jadi sukses hidup sesungguhnya justru bukan saat seorang pecundang berhasil menjadi seorang pemenang, melainkan justru bagaimana seseorang bisa selalu bangkit dan mengambil hikmah dari setiap keterpurukan.

Dengan kata lain, menjadi populer bukanlah solusi dari trauma sebagai pecundang, menjadi kaya bukanlah solusi karena dulu pernah hidup miskin, menyalahkan diri bukanlah solusi agar tidak dinilai buruk oleh orang lain.

Jadi mulailah berdamai dengan diri sendiri, menerima diri apa adanya, terus menerus menyempurnakannya agar bisa berguna bagi orang lain dan semakin menyayanginya (baca: bersyukur).

Ingin menjadi pribadi yang bahagia dan produktif? KLIK > https://servo.clinic/alamat/

Fantasi Kebaya Merah?

Akhir akhir ini media sosial dihebohkan dengan viralnya video berjudul “Kebaya Merah” dimana didalamnya terdapat adegan seronok, namun sebetulnya hal tersebut memang sengaja diproduksi untuk memenuhi kebutuhan fantasi para ‘budak seks’ berdasarkan imajinasi atau fantasi penulis skenario.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, imajinasi/ima·ji·na·si/ n di definisikan sebagai 1 daya pikir untuk membayangkan (dalam angan-angan) atau menciptakan gambar (lukisan, karangan, dan sebagainya) kejadian berdasarkan kenyataan atau pengalaman seseorang; 2 khayalan

Sedang fantasi/fan·ta·si/n di definisikan sebagai 1 gambar (bayangan) dalam angan-angan; khayalan: cerita itu berdasarkan — , bukan kejadian yang sebenarnya2 daya untuk menciptakan sesuatu dalam angan-angan: pengarang harus kuat — nya;3 hiasan tiruan: gaun itu diberi kancing dan saku –;— biologis bayangan secara biologi: karena — biologis itu, keinginan untuk melakukan eksplorasi terhadap wilayah yang masih menyimpan misteri ilmu pengetahuan tersebut makin meningkat;

Dalam sebuah aktivitas berfikir, kemampuan seseorang untuk berimajinasi yang merupakan sebuah kerja akal dari apa yang pernah dilihat, didengar atau dirasakan sebelumnya maupun berfantasi yang tidak berdasarkan realita sebenarnya, sama sama berpotensi menguntungkan dan merugikan seseorang, karena sama sama memberikan makna dan kesan yang lebih luas, lebih kuat dan lebih dalam.

Pada sebuah peristiwa yang traumatis, seperti pengalaman di bully, KDRT, orang tua bercerai, pelecehan seksual, imajinasi ataupun fantasi berlebihan dapat membuat seseorang mengalami kecemasan kronis ataupun serangan panik. Namun jika dikaitkan dengan mata pelajaran ataupun keterampilan, imajinasi ataupun fantasi berlebihan dapat membantu ybs. menjadi lebih mudah dalam mengingat pelajaran atau menjadi lebih cepat menguasai sebuah keterampilan.

Begitu pula dengan imajinasi ataupun fantasi berlebihan yang diterapkan dalam kehidupan perkawinan yang sah (baca: fantasi seksual) dapat semakin meningkatkan keharmonisan suami istri, namun jika melanggar norma hukum atau agama dapat meningkatkan resiko perselingkuhan, penyakit seksual, kelainan seksual ataupun jatuh dalam dosa.

Jadi semuanya tergantung diri kita sendiri, mau diterapkan dalam hal yang positif atau dalam hal yang negatif.

Ingin menjadi pasutri yang harmonis? KLIK > https://servo.clinic/alamat/

Impulsif dan Kompulsif

Terdapat perbedaan nyata antara impulsif dan kompulsif, meski keduanya sama sama dikuasai oleh dorongan tidak terkendali.

Impulsif adalah dorongan tidak terkendali untuk melakukan suatu tindakan, misal dorongan belanja, dorongan untuk pamer, dorongan merokok, dorongan pornografi dsb. Jenis jenis kebiasaan buruk dan kecanduan biasanya termasuk dalam kelompok impulsif.

Sedang kompulsif adalah dorongan tidak terkendali untuk mengulang ulang sebuah aktifitas, seperti mengecek pintu berulang kali, cuci tangan berkali kali, biasanya dikenal sebagai Obsessive Compulsive Disorder (OCD).

Kedua jenis dorongan tersebut bekerja secara otomatis dan tidak disadari oleh yang bersangkutan, guna menurunkan ketegangan akibat adanya kecemasan yang sudah berlangsung lama (kronis).

Meski secara psikologis kebutuhan untuk meminta bantuan profesional dapat saja ditunda, namun dorongan tersebut berpotensi menimbulkan kelelahan psikis kronis.

Apalagi jika dorongan tersebut dapat membahayakan atau memiliki konsekwensi hukum seperti dorongan untuk memukul anak, dorongan untuk bunuh diri, dorongan memamerkan alat kelamin (eksibisionis), dorongan untuk mengutil (kleptomania) dsb., sebaiknya diterapi pada kesempatan pertama.

Yang penting untuk disadari, terapi gangguan impulsif ataupun kompulsif, hanya efektif jika diinginkan sendiri oleh yang bersangkutan, bukan karena permintaan anggota keluarga.

Ingin bebas dari dorongan tidak terkendali? KLIK > https://servo.clinic/alamat/