Aplikasi Pencari Jodoh?

Terdapat beberapa aplikasi yang menawarkan fitur pertemanan atau pencari jodoh internasional seperti Tinder, MeetMe, Badoo, OkCupid, Bumble, Tantan atau pencari jodoh nasional seperti Taaruf ID, Setipe, Kepo, Taman Surga, Jodoh Ideal dll.

Masing masing aplikasi menawarkan kemudahan dan keunggulan sesuai dengan kriteria masing masing seperti basis pengguna yang besar, filter konten pornografi, kemudahan navigasi, khusus wanita atau pria yang memulai inisiatif atau bisa keduanya, kesamaan suku, minat atau agama, radius tempat tinggal yang berdekatan, layanan konsultasi, berbasis ilmu psikologi, proteksi yang lebih aman terhadap perempuan dsb.

Namun terdapat beberapa resiko penyalah gunaan yang patut diwaspadai seperti penggunaan profil atau identitas palsu, sebagai sarana kejahatan, para pemburu seks dsb. Hal ini tentu saja kurang menguntungkan bagi kaum wanita, kenapa demikian?

Jika pihak wanita bersikap pasif atau menunggu, maka ybs. menjadi rentan untuk ditipu atau dimanfaatkan oleh lawan jenis. Sebaliknya jika pihak yang wanita bersikap aktif, maka ybs. dapat dipersepsikan sebagai wanita agresif atau “perempuan matre”, padahal sebelum memutuskan apakah sebuah hubungan layak dilanjutkan atau tidak, diperlukan banyak informasi akurat mengenai calon pasangan yang akan dipilih.

Itu sebabnya menjadi penting jika aplikasi memungkinkan si pengguna melakukan cross check atau memperoleh rekomendasi dari pihak ketiga yang independen.

Atau jika tidak, pastikan calon pasangan pria sendiri yang secara aktif meyakinkan kepada para wanita, tanpa diminta.

Ingin tips mencari jodoh? KLIK > https://servo.clinic/alamat/

Berhenti Sebelum Kecanduan?

Pernahkah kita merasa sulit sekali menghentikan kebiasaan tertentu seperti sulit menghentikan kebiasaan makan banyak, kebiasaan main HP, kebiasaan mabuk, kebiasaan judi, kebiasaan merokok, kebiasaan seks, kebiasaan korupsi, kebiasaan bersih bersih, kebiasaan ngerumpi, kebiasaan menghujat dsb.?

Jika iya, berarti kita secara tanpa sadar sudah menjadikan kebiasaan tersebut sebagai zona nyaman untuk menurunkan kecemasan tersembunyi yang ada di dalam diri kita. Akibatnya jika kita menghentikan kebiasaan tersebut, maka diri kita akan kembali bergeser ke area kecemasan tersembunyi.

Itu sebabnya meminta seseorang untuk berhenti dari kecanduan adalah sebuah hal yang sangat mustahil, kecuali diri yang bersangkutan sendiri yang menginginkannya karena jika dipaksa untuk melepaskan kebiasaan tersebut sama artinya meminta yang bersangkutan untuk merasakan cemas kembali, padahal justru rasa cemas inilah yang ingin dihindari.

Jadi cara untuk mengatasi kecanduan adalah dengan menghilangkan akar masalah yang menjadi penyebab rasa cemasnya muncul sehingga jika rasa cemasnya turun maka kebutuhan yang bersangkutan untuk bersembunyi di zona nyaman juga menjadi berkurang bahkan hilang.

Jadi berhenti sebelum kecanduan, menandakan seseorang memiliki kendali yang baik atas dirinya dan menjadi tanda bahwa pertumbuhan emosional yang bersangkutan sangat sehat dan ini sering terjadi dikeluarga yang memiliki latar belakang komunikatif, terbuka dan harmonis.

Ingin bebas dari kecanduan? KLIK > https://servo.clinic/alamat/

Kecanduan Pornografi?

Heboh soal komedian Marshel Widianto yang diduga menjadi pelanggan konten pornografi buatan Dea OnlyFans, bahkan ybs. rela mengeluarkan uang sebesar 1,5 juta rupiah untuk membeli 76 video asusila tersebut melalui tautan Google Drive.

Yang menarik untuk disimak adalah alasan kenapa yang bersangkutan sampai bersedia mengeluarkan sejumlah uang untuk membeli konten pornografi tersebut? “Kenapa beli? Gue penasaran juga, tuker konten akhirnya. Dia kasih konten gue kasih uang,” ujar Marshel Widianto saat ditemui di Polda Metro Jaya, Kamis (7/4/2022).

Sama seperti bentuk bentuk kecanduan lain seperti kecanduan seks, kecanduan internet atau media sosial, kecanduan belanja, kecanduan makan, kecanduan alkohol, kecanduan judi, kecanduan rokok dll., kecanduan pornografi sama sama tidak memiliki kendali atas subjek tersebut.

Sebaliknya, seseorang yang sudah terjebak pada kecanduan, biasanya tanpa sadar menjadikan subjek kecanduan sebagai sarana untuk lari dari masalah, guna menurunkan kecemasan yang timbul akibat tekanan pekerjaan, masalah kesehatan, kesulitan ekonomi, beban kuliah, problem keluarga dsb.

Itu sebabnya jauh lebih sulit mengobati seseorang yang mengalami kecanduan, dibanding dengan seseorang yang masih dalam tahapan terpapar dengan sumber stress.

Hanya Tuhan dan keinginan kuat dari dalam dirinya sendiri yang bisa menghentikan kecanduannya.

Adapun hal hal eksternal yang bisa mendorong dirinya menginginkan perubahan antara lain karena ancaman hukuman, vonis dokter, takut kehilangan orang yang dicintai.

Ingin bebas dari kecanduan? KLIK > https://servo.clinic/alamat/