Impulsif dan Kompulsif

Terdapat perbedaan nyata antara impulsif dan kompulsif, meski keduanya sama sama dikuasai oleh dorongan tidak terkendali.

Impulsif adalah dorongan tidak terkendali untuk melakukan suatu tindakan, misal dorongan belanja, dorongan untuk pamer, dorongan merokok, dorongan pornografi dsb. Jenis jenis kebiasaan buruk dan kecanduan biasanya termasuk dalam kelompok impulsif.

Sedang kompulsif adalah dorongan tidak terkendali untuk mengulang ulang sebuah aktifitas, seperti mengecek pintu berulang kali, cuci tangan berkali kali, biasanya dikenal sebagai Obsessive Compulsive Disorder (OCD).

Kedua jenis dorongan tersebut bekerja secara otomatis dan tidak disadari oleh yang bersangkutan, guna menurunkan ketegangan akibat adanya kecemasan yang sudah berlangsung lama (kronis).

Meski secara psikologis kebutuhan untuk meminta bantuan profesional dapat saja ditunda, namun dorongan tersebut berpotensi menimbulkan kelelahan psikis kronis.

Apalagi jika dorongan tersebut dapat membahayakan atau memiliki konsekwensi hukum seperti dorongan untuk memukul anak, dorongan untuk bunuh diri, dorongan memamerkan alat kelamin (eksibisionis), dorongan untuk mengutil (kleptomania) dsb., sebaiknya diterapi pada kesempatan pertama.

Yang penting untuk disadari, terapi gangguan impulsif ataupun kompulsif, hanya efektif jika diinginkan sendiri oleh yang bersangkutan, bukan karena permintaan anggota keluarga.

Ingin bebas dari dorongan tidak terkendali? KLIK > https://servo.clinic/alamat/

Kecerdasan Diri?

Terdapat perbedaan nyata antara kecerdasan mengendalikan pikiran (intelligence quotient) dengan kecerdasan mengendalikan emosi atau perasaan (emotional quotient) dan dengan kecerdasan mengendalikan spiritual (spiritual quotient).

Kemampuan seseorang dalam mengendalikan pikiran (IQ) merupakan sebuah keterampilan dalam membangun sebuah gagasan, imajinasi, alasan/argumen, pemilihan diksi, alibi, persiapan, penalaran, perencanaan, solusi yang sistematis dan logis dari sebuah tindakan terukur, sehingga mencapai hasil atau memperoleh manfaat sebesar besarnya dengan resiko sekecil kecilnya.

Adapun kemampuan mengendalikan perasaan (EQ) merupakan sebuah keterampilan seseorang dalam mengelola persepsi, penerimaan diri, respon bawah sadar, keinginan, dorongan (obsesi), cara bereaksi, kepedulian, penghargaan, kepercayaan sehingga ybs. merasa lebih nyaman.

Sedang kecerdasan spiritual (SQ) merupakan keterampilan seseorang dalam membuat pilihan yang sesuai dengan makna atau paling tidak mendekati dengan nilai nilai kebenaran atau norma, moral, keyakinan ataupun agama yang diyakininya.

Pada kenyataannya ketiga keterampilan tersebut harus diterapkan secara bersamaan (simultan) dan pada timing yang tepat agar ybs tumbuh dalam kepribadian yang positif, sehat dan produktif.

Dengan demikian saat seseorang mengalami sebuah peristiwa yang dirasa tidak sesuai dengan yang diinginkan, maka yang bersangkutan tetap bereaksi dengan cara yang tepat, proporsional, halal dan dengan resiko yang sekecil kecilnya.

Ingin mampu mengendalikan diri? KLIK > https://servo.clinic/alamat/

Kleptomania?

Heboh soal pencurian coklat di sebuah mini-market di Tangerang Selatan oleh seorang wanita yang mengendarai mobil mewah cukup menyita perhatian publik di media sosial.

Hal tersebut menjadi kontroversi karena karyawan mini-market tersebut malah yang dituntut balik oleh pelaku pencurian karena dengan menyebarkan video peristiwa tersebut di media sosial, ybs. dianggap telah melanggar UU ITE.

Mudah mudahan hal tersebut dapat diselesaikan dengan cara yang bijak karena memang hal tersebut bukanlah hal yang penting.

Dalam terminologi psikologi, tindakan mencuri seperti peristiwa di atas, biasa disebut sebagai kleptomania yaitu sebuah dorongan untuk mencuri barang yang tidak berharga atau tidak penting (impulse control disorder) meskipun secara finansial yang bersangkutan mampu untuk membelinya.

Sama halnya dengan dorongan negatif lainnya seperti keinginan untuk memamerkan alat kelamin atau payudara (eksibisionis), keinginan untuk melukai atau menyakiti orang lain dsb., meski secara keilmuan hal tersebut dapat dikecualikan sebagai sebuah kesengajaan, namun tetap beresiko mendapat hukuman sosial bahkan pidana.

Biasanya dorongan tersebut dilakukan tanpa sadar atau kalaupun yang bersangkutan menyadari bahwa tindakan tersebut berimplikasi hukum, ybs. merasa tidak berdaya untuk melawannya.

Itu sebabnya jika Anda merasa memiliki dorongan abnormal yang beresiko dituntut secara hukum, segeralah meminta bantuan profesional, pada kesempatan pertama.

Terapi hanya bisa dilakukan jika terapi memang diinginkan sendiri oleh ybs.

Ingin bebas dorongan negatif yang beresiko hukum? KLIK > https://servo.clinic/alamat/