Selalu Ada Dua Sisi

Dalam sebuah tindakan, entah itu perbuatan baik ataupun perbuatan buruk, selalu ada dampak dua sisi yang menyertainya.

Dampak tersebut bisa memberdayakan namun juga bisa melumpuhkan, bisa merugikan sekaligus mengandung pembelajaran, sangat melelahkan namun menghasilkan, sangat menegangkan tetapi menyenangkan dsb.

Misal, tindakan orang tua yang selalu melindungi anak secara berlebihan (dengan alasan sangat menyayangi) justru berpotensi membuat anak menjadi tidak percaya diri karena ybs. tidak pernah belajar membuat keputusan.

Sebaliknya memberi ruang kepada anak untuk mengambil hikmah dan bangkit dari setiap kekhilafan justru semakin menyempurnakan kedewasaannya.

Jadi sekalipun perbuatan yang dilakukan sudah diawali dengan iktikad baik, namun jika dilakukan tanpa ilmu maka hasilnya menjadi tidak maksimal bahkan tidak jarang berubah menjadi “bumerang”. Misal, ditipu oleh orang yang kita tolong, dikhianati pasangan yang dipercaya dengan penuh ketulusan.

Sebaliknya dalam sebuah musibah tidak semuanya mengandung keburukan ataupun kegagalan, asal kita dapat memetik pelajaran.

Bukankah sudah banyak contoh, banyak orang sukses justru karena memiliki banyak masalah dan selalu menghadapinya?

Ingin selalu menyelesaikan masalah? KLIK > https://servo.clinic/alamat/

Kisah Hidup Daniel Mananta?

Belajar dari perjalanan hidup seorang Daniel Mananta yang pada awalnya merasa sebagai seorang pecundang dan dinilai sebagai orang aneh (weirdo?) oleh lingkungan sekitar.

Sukacitanya melambung tinggi ke satu ekstrim lainnya, saat didapuk sebagai VJ MTV sehingga merasa sangat ketagihan dengan ‘manis’nya popularitas dan tanpa sadar menjadikan popularitas sebagai “tuhan”nya.

Dalam pernyataan pribadinya, tanpa popularitas seorang Daniel Mananta bukanlah siapa siapa dan hanyalah seorang aneh yang mengganggu kenyamanan lingkungan.

Perasaan euforianya semakin menjadi jadi saat berada dipuncak popularitasnya sebagai host Indonesian Idol, namun ironinya justru saat di ajang inilah seorang Daniel Mananta mengalami krisis identitas terburuk, saat pita suaranya tiba tiba mengalami gangguan medis.

Ibarat seorang pelukis terkenal yang tiba tiba harus kehilangan penglihatannya, atau seorang pemain gitar hebat yang tiba tiba harus kehilangan jarinya.

Jadi sukses hidup sesungguhnya justru bukan saat seorang pecundang berhasil menjadi seorang pemenang, melainkan justru bagaimana seseorang bisa selalu bangkit dan mengambil hikmah dari setiap keterpurukan.

Dengan kata lain, menjadi populer bukanlah solusi dari trauma sebagai pecundang, menjadi kaya bukanlah solusi karena dulu pernah hidup miskin, menyalahkan diri bukanlah solusi agar tidak dinilai buruk oleh orang lain.

Jadi mulailah berdamai dengan diri sendiri, menerima diri apa adanya, terus menerus menyempurnakannya agar bisa berguna bagi orang lain dan semakin menyayanginya (baca: bersyukur).

Ingin menjadi pribadi yang bahagia dan produktif? KLIK > https://servo.clinic/alamat/

Fantasi Kebaya Merah?

Akhir akhir ini media sosial dihebohkan dengan viralnya video berjudul “Kebaya Merah” dimana didalamnya terdapat adegan seronok, namun sebetulnya hal tersebut memang sengaja diproduksi untuk memenuhi kebutuhan fantasi para ‘budak seks’ berdasarkan imajinasi atau fantasi penulis skenario.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, imajinasi/ima·ji·na·si/ n di definisikan sebagai 1 daya pikir untuk membayangkan (dalam angan-angan) atau menciptakan gambar (lukisan, karangan, dan sebagainya) kejadian berdasarkan kenyataan atau pengalaman seseorang; 2 khayalan

Sedang fantasi/fan·ta·si/n di definisikan sebagai 1 gambar (bayangan) dalam angan-angan; khayalan: cerita itu berdasarkan — , bukan kejadian yang sebenarnya2 daya untuk menciptakan sesuatu dalam angan-angan: pengarang harus kuat — nya;3 hiasan tiruan: gaun itu diberi kancing dan saku –;— biologis bayangan secara biologi: karena — biologis itu, keinginan untuk melakukan eksplorasi terhadap wilayah yang masih menyimpan misteri ilmu pengetahuan tersebut makin meningkat;

Dalam sebuah aktivitas berfikir, kemampuan seseorang untuk berimajinasi yang merupakan sebuah kerja akal dari apa yang pernah dilihat, didengar atau dirasakan sebelumnya maupun berfantasi yang tidak berdasarkan realita sebenarnya, sama sama berpotensi menguntungkan dan merugikan seseorang, karena sama sama memberikan makna dan kesan yang lebih luas, lebih kuat dan lebih dalam.

Pada sebuah peristiwa yang traumatis, seperti pengalaman di bully, KDRT, orang tua bercerai, pelecehan seksual, imajinasi ataupun fantasi berlebihan dapat membuat seseorang mengalami kecemasan kronis ataupun serangan panik. Namun jika dikaitkan dengan mata pelajaran ataupun keterampilan, imajinasi ataupun fantasi berlebihan dapat membantu ybs. menjadi lebih mudah dalam mengingat pelajaran atau menjadi lebih cepat menguasai sebuah keterampilan.

Begitu pula dengan imajinasi ataupun fantasi berlebihan yang diterapkan dalam kehidupan perkawinan yang sah (baca: fantasi seksual) dapat semakin meningkatkan keharmonisan suami istri, namun jika melanggar norma hukum atau agama dapat meningkatkan resiko perselingkuhan, penyakit seksual, kelainan seksual ataupun jatuh dalam dosa.

Jadi semuanya tergantung diri kita sendiri, mau diterapkan dalam hal yang positif atau dalam hal yang negatif.

Ingin menjadi pasutri yang harmonis? KLIK > https://servo.clinic/alamat/