Banyak manajer terlampau gampang mengkritik, tetapi sangat kikir memuji, sehingga membuat karyawannya merasa bahwa pekerjaannya hanya diperhatikan bila mereka membuat kesalahan. Kecenderungan untuk mengkritik ini semakin parah bila manajer manajer menunda memberi umpan balik dalam jangka waktu lama.
“Sebagian besar kesulitan dalam kinerja seseorang tidak terjadi dengan mendadak; kesulitan kesulitan itu berkembang perlahan lahan bersama dengan waktu ,” kata J.R. Larson, seorang ahli Psikologi University of Illinois di Urbana. Apabila atasan tidak segera mengutarakan perasaan perasaannya, maka kekecewaannya lambat laun akan menumpuk. Kemudian pada suatu hari amarahnya akan meledak karenanya.
Apabila kritik disampaikan jauh jauh hari, karyawan tersebut tentunya akan mampu mengatasi masalahnya. begitu sering orang mengkritik hanya apabila semua sudah terlambat, ketika mereka sudah terlampau marah untuk menahan diri. Dan pada saat itulah, mereka menyampaikan kritikan dengan cara yang paling menyakitkan, yaitu dengan nada sarkasme yang pedas, melontarkan daftar panjang lebar keluhan keluhan yang dipendamnya sendiri atau mengancam.
Serangan semacam itu akan berbalik. Serangan itu diterima sebagai penghinaan, sehingga penerimanya menjadi marah sebagai tanggapannya.
Ini merupakan cara terburuk untuk memotivasi seseorang !
Sumber : Daniel Goleman, Kecerdasan Emosional, 1996.
Ingin cepat berubah? KLIK > https://servo.clinic/alamat/