Cemas Tertular Virus Corona

Adalah manusiawi jika kita merasa cemas tertular virus Corona atau Covid-19.

Apalagi pemberitaan mengenai eskalasi penularan virus tersebut yang sedemikian cepat, akut dan masif berpotensi membuat siapapun merasa khawatir, jika sewaktu waktu diri atau keluarganya menjadi korban.

Adapun gejala seseorang rentan mengalami gangguan panik adalah sebagai berikut: yang bersangkutan selalu dihantui perasaan was was, pikiran jangan jangan tertular, keluar keringat dingin, dada berdebar debar dan tidak mampu mengendalikan pikiran liar tersebut.

Untuk itu diperlukan kemampuan mensikapi peristiwa tersebut secara tepat dan proporsional agar tidak mengalami serangan panik.

Cara yang bisa membantu menghilangkan kepanikan adalah dengan mengembalikan apapun yang belum terjadi ataupun yang tidak mungkin kita kendalikan ke Tuhan dan pada saat bersamaan berikhtiar untuk hal hal yang bisa kita lakukan seperti mencuci tangan, menjaga jarak saat berkomunikasi, menghindari keramaian, mandi sehabis bepergian dll.

Namun jika hal tersebut dirasa tidak membantu, silakan hubungi profesional.

Ingin bebas serangan panik? KLIK > https://servo.clinic/alamat/

Panic Buying

Dengan adanya pernyataan resmi dari pemerintah tentang 2 orang yang positif terkena virus Covid 19 menimbulkan kepanikan baru.

Kali ini tidak hanya terjadi kelangkaan masker saja, melainkan tisu basah, hand sanitizer, bahkan sembakopun ikut ikutan habis diborong.

Hal ini tentu saja semakin memperburuk keadaan dan jika tidak teratasi dalam jangka panjang berpotensi menimbulkan masalah baru berupa perilaku belanja yang tidak rasional seperti panic buying.

Kenapa hal tersebut dapat terjadi?

Sudah menjadi fitrah manusia tentang adanya kebutuhan akan rasa aman dan nyaman dalam melakukan aktifitas sehari hari seperti ke sekolah, ke kantor, ke mall, ke tempat tempat umum dll.

Untuk itu diperlukan jaminan keselamatan, terbebas dari resiko terkena Covid 19 selama melakukan aktifitas sosial dan jika hal tersebut tidak bisa diperoleh dari lingkungan yang kondusif, maka secara otomatis melakukan panic buying sarana pelindung diri.

Dan jika wabah berlangsung lama, apalagi jika disertai tindakan pembatasan mobilitas, karantina, isolasi oleh instansi terkait, dapat mendorong penduduk untuk memborong apa saja guna melindungi kebutuhan keluarganya.

Jika setelah wabah usai, namun dorongan untuk menyetok barang masih tetap tinggi, maka hal tersebut merupakan salah satu gejala terkena CBD (compulsive buying dissorder).

Ingin bebas CBD? KLIK > https://servo.clinic/alamat/

Psikosomatis

Psikosomatis atau yang biasa dikenal dengan somatisasi adalah gangguan fisik yang disebabkan oleh gangguan psikis.

Gejalanya bisa bermacam macam seperti perasaan nyeri ditusuk, rasa panas terbakar, gatal, sendawa, kembung, berdebar, kesemutan, mati rasa, migrain, maag, susah tidur, berdebar, keringat dingin, psoriasis dsb dan tidak jarang sering berpindah tempat dan berulang ulang.

Hal tersebut bisa disebabkan oleh pola respon emosi terhadap ujian kehidupan (stimulus) yang terbalik. Jadi ibarat jalan searah, seharusnya kita berjalan searah dengan arah jalan menuju cita cita, harapan ataupun keinginan yang ada di depan, bukan malah menghindar atau menjauh.

Akibatnya terjadi situasi paradoks seperti pada kasus bipolar dimana jika kita berusaha menghadapinya akan menimbulkan rasa cemas, panik. Sebaliknya, jika kita menghindar dapat menimbulkan rasa kesal, malas, depresi dsb. dan jika keadaan tarik-menarik ini berlangsung secara terus menerus, maka berpotensi menimbulkan gangguan psikosomatis atau somatisasi.

Adapun pilihan terapi bisa dilakukan melalui dua cara yaitu pengobatan simptomatis dimana gejala yang menyertainya dihilangkan menggunakan obat obatan atau pengobatan causalis dimana penyebab cemasnya dihilangkan menggunakan psikoterapi, hipnoterapi atau Servoterapi, hanya saja pada pengobatan simptomatis biasanya hasil tidak permanen.

Ingin bebas dari psikosomatis? KLIK > https://atomic-temporary-10061447.wpcomstaging.com/kesaksian/