Gafatar

DISCLAIMER : Kisah nyata berikut ini tidak dimaksudkan sebagai jaminan bahwa hasil terapi yang dicapai akan sama pada setiap orang, karena setiap kasus bersifat individu, tergantung dari kesediaan klien untuk berubah dan seberapa cepat akar masalah ditemukan !

“Kasus hilangnya dr. Rica Tri Handayani diduga terkait dengan Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar).” demikian disampaikan Kapolda DIY, Brigjen Erwin Triwanto Senin, 11/1/2016.

Bahkan MUI di beberapa daerah seperti Aceh, Ternate, Yogyakarta, Jawa Timur sudah menyatakan Gafatar adalah aliran sesat dan menyesatkan karena merupakan metamorfose dari gerakan Al Qiyadah Al Islamiyah bentukan nabi palsu Ahmad Mushadeq yang dianggap telah melakukan penistaan terhadap agama, khususnya Islam dan diduga kuat terkait dengan banyaknya laporan orang hilang.

Terlepas dari soal benar atau tidaknya Gafatar, yang menarik dari kasus ini adalah kenapa banyak anak muda yang berpendidikan, begitu mudah percaya dan patuh pada sebuah ajaran yang tidak jelas.

Kami jadi teringat, pernah menangani kasus seorang remaja yang terjebak dalam perkumpulan sejenis dimana ybs. menjadi seperti hilang kesadaran, berbohong pada orang tua, mengambil uang orang tua, meninggalkan kuliah, padahal sebelumnya ybs. sangat patuh kepada orang-tua dan rajin beribadah.

Untungnya pihak keluarga segera menyadarinya dan meminta bantuan profesional untuk mengatasinya.

Pada tahap awal ybs. merasa sangat sulit untuk meninggalkan perkumpulan tersebut karena selalu dipantau oleh para seniornya, merasa selalu dibayang bayangi oleh wajah pemimpinnya dan dihantui oleh rasa takut yang hebat jika melanggar janji.

Alhamdulillah, setelah melalui beberapa kali terapi, mulai dari pemaparan peta emosi, apa itu sumber stres dan sumber nyaman, pemahaman tentang alat dan tujuan hidup serta dibantu dengan terapi untuk menghilangkan bayang bayang pemimpin, akhirnya ybs. bersedia meninggalkan perkumpulan tersebut dan mau menyelesaikan kuliahnya.

Ingin terbebas dari aliran sesat ? KLIK > https://servo.clinic/alamat/

Terapi Detoksifikasi ?

DISCLAIMER : Kisah nyata berikut ini tidak dimaksudkan sebagai jaminan bahwa hasil terapi yang dicapai akan sama pada setiap orang, karena setiap kasus bersifat individu, tergantung dari kesediaan klien untuk berubah dan seberapa cepat akar masalah ditemukan !

Alhamdulillah senang sekali saya hari ini, saat menerima laporan dari klien bahwa ybs. tidak lagi mengalami sakau (withdrawal effect) dan kejang, saat berangsur angsur menghentikan penggunaan obat-obatan psikis.

Hal ini menjadi jawaban bagi para pecandu obat-obatan ataupun junkies bahwa kecanduan obat-obatan dapat diatasi tanpa harus melalui “kesakitan” yang hebat (sakau), jika dilakukan dengan cara yang benar dan oleh profesional.

Agar proses detoksifikasi berjalan dengan aman dan terkendali, maka urut-urutan yang harus dilalui sebagai berikut :

  1. Putuskan untuk menghentikan ketergantungan pada obat secara bertahap dan dibawah supervisi profesional
  2. Jika masih remaja dan masih bergantung kepada orang tua, berterus teranglah kepada mereka agar mendapatkan dukungan moril dan finansial
  3. Berobatlah  ke dokter, psikiater, puskesmas, rumah sakit, dan atau lembaga rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial yang ditunjuk Pemerintah guna mendapatkan obat pengganti (substitusi) secara resmi.
  4. Agar terlindung dari masalah hukum selama masa rehabilitasi, mintalah kartu lapor diri kepada institusi penerima wajib lapor (PP 25-2011 : Ps. 10, ayat 1)
  5. Untuk mengendalikan efek sakau selama proses detoksifikasi ataupun efek relapse pasca rehabilitasi, lengkapi dengan terapi S.E.R.V.O®!

Catatan : Terapi S.E.R.V.O® hanya merupakan terapi pendukung atas terapi yang dilakukan oleh psikiater dan tidak dimaksudkan sebagai pengganti peran psikiater.

Ingin mengendalikan efek sakau ? KLIK > https://servo.clinic/alamat/

Hambatan Pasutri ?

DISCLAIMER : Kisah nyata berikut ini tidak dimaksudkan sebagai jaminan bahwa hasil terapi yang dicapai akan sama pada setiap orang, karena setiap kasus bersifat individu, tergantung dari kesediaan klien untuk berubah dan seberapa cepat akar masalah ditemukan !

Entah disadari atau tidak, kualitas hubungan pasutri, merupakan miniatur kualitas komunikasi Anda dengan pasangan.

Datang ke SERVO Clinic, seorang wanita “mandiri” yang marah atas tindakan perselingkuhan yang dilakukan sang suami.

Yang membuat dirinya tidak habis pikir adalah, bagaimana mungkin, suami yang dalam keadaan “jobless” tetap nekat melakukan perselingkuhan.

Identifikasi masalah menunjukkan, letak persoalannya bukan pada “jobless” nya sang suami, karena sejak awal pernikahan, kedua belah pihak tidak mempersoalkan siapa yang harus menjadi sumber utama nafkah keluarga, karena keduanya bekerja secara freelance.

Namun justru sikap “mandiri” sang stri yang secara tidak disadari membuat dirinya mengambil posisi pasif saat berhubungan intim, dengan alasan “capek”, padahal dulu keduanya sangat menikmati aktifitas tersebut.

Akibatnya sang suami mulai kehilangan sarana mengekspresikan “kemampuan” dirinya dan menemukan penggantinya di komunitas sosial.

Setelah dilakukan pemahaman ulang atas pola interaksi seksual ybs., dilaporkan keduanya mulai kembali menikmatinya, bahkan ya…ya…ya…

Ingin kembali harmonis ? KLIK > https://servo.clinic/alamat/