Rusuh lagi, rusuh lagi !

Partai laga terakhir, babak delapan besar Copa Dji Sam Soe 2006 antara Persebaya dan Arema rusuh, sehingga tiga mobil dibakar dan 13 polisi cedera. Waktu itu pertandingan tinggal lima menit dan jika sampai akhir pertandingan Persebaya tidak mampu mencetak gol maka posisi Persebaya akan tersingkir.

Mengapa kerusuhan terjadi ?

Saat ini, olah raga tidak hanya sekedar simbol kesehatan ataupun sportifitas, tetapi sudah berkembang menjadi alat hiburan (baca : kompensasi ?) dalam menghadapi sulitnya hidup sehari hari. Disanalah jadi tempat nyaman, tempat katarsis atau tempat membebaskan diri dari tekanan hidup.

Kemenangan kesebelasan idola akan menjadi simbol ke”hidup”an sedang kekalahan kesebelasan akan menjadi simbol ke”mati”an. Kemenangan akan menjadi “candu” yang memabukkan, sedang kekalahan akan jadi “duri” yang menyakitkan. Itu sebabnya, saat tanda tanda kekalahan kesebelasan favoritnya muncul, kecemasan yang luar biasa serta merta mencuat. Kondisi seperti inilah yang membuatnya sangat “mudah terbakar”. Sedikit saja “percikan api” dari provokator, sudah cukup “meledakkan” amarah suporternya. Belum lagi “label” bonek yang identik dengan jati diri berani mati konyol, semakin mendorong terjadinya kerusuhan tersebut.

Kalo mau kasih “candu” mbok yang netral dan satu arah saja, misalnya “pentas dangdut” atau “pasar malam” !

Ingin cepat berubah? KLIK > https://servo.clinic/alamat/