Arteria Dahlan dan Edy Mulyadi?

Masih ingat dengan peribahasa “Mulutmu harimaumu?” yang berarti ‘harga diri atau keselamatan seseorang sangat ditentukan dari cara yang bersangkutan berbicara atau bertutur kata’?

atau peribahasa “Karena mulut, bisa binasa?” yang artinya ‘seseorang berpotensi mendapat celaka karena lisan atau ucapannya’?.

Peribahasa sebagai budaya bertutur dimasa lalu, meski saat ini sudah sangat jarang digunakan dalam kehidupan sehari hari, namun sebagai sebuah kata kata bijak atau kata kata mutiara tidak lekang oleh waktu dan selalu relevan pada setiap zaman.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mendefinisikan peribahasa/pe·ri·ba·ha·sa/ n sebagai 1 kelompok kata atau kalimat yang tetap susunannya, biasanya mengiaskan maksud tertentu (dalam peribahasa termasuk juga bidal, ungkapan, perumpamaan); 2 ungkapan atau kalimat ringkas padat, berisi perbandingan, perumpamaan, nasihat, prinsip hidup atau aturan tingkah laku.

Begitu pula dengan apa yang baru saja dialami oleh saudara kita Arteria Dahlan dan Edy Mulyadi, dimana akibat kurang hati hati dalam menjaga lisannya (belum lagi ada resiko dipolitisir?), akhirnya dengan sukarela atau terpaksa harus meminta ma’af secara terbuka kepada suku yang merasa tersinggung akibat ucapannya.

Sebagai seorang politikus ataupun publik figur seharusnya “Pandai berminyak air” yang artinya ‘pandai pandailah memainkan kata untuk mencapai suatu maksud, tanpa harus melukai perasaan pihak lain atau memiliki “Mulut manis mematahkan tulang” yang artinya ‘perkataan lemah lembut dapat menyebabkan orang lain tunduk atau menurut, bukan malah tersinggung.

Jadi sangat tepat jika ada peribahasa yang mengatakan “Bahasa menunjukkan bangsa” yang artinya budi bahasa atau perangai serta tutur kata menunjukkan sifat dan tabiat seseorang (baik buruk kelakuan menunjukkan tinggi rendah asal atau keturunan).

Ingin terampil dalam bertutur kata? KLIK > https://servo.clinic/alamat/

Asam Lambung Gak Sembuh Sembuh?

Apakah Anda merasa jengkel karena gangguan lambung tidak sembuh sembuh?

Berbagai terapi sudah dicoba, puluhan dokter sudah dikunjungi, banyak suplemen dan obat sudah diminum, bahkan berbagai pengobatan alternatifpun sudah dilakukan, namun hasilnya masih saja tetap sama. Zonk!

Kalaupun merasa sedikit terbantu, biasanya bersifat sementara dan begitu efek obat atau suplemennya habis, gejala atau keluhannya berangsur angsur muncul kembali dan tidak jarang justru semakin parah.

Lalu mengapa gangguan lambung tidak kunjung sembuh, padahal hasil pemeriksaan laboratorium, semuanya menunjukkan hasil normal?

Berdasarkan banyak hasil penelitian dan pengalaman pribadi kami sebagai terapis, kebanyakan asam lambung berlebih disebabkan oleh adanya kecemasan yang sudah berlangsung lama (kronis).

Dalam jumlah tertentu, asam lambung diperlukan tubuh untuk membantu proses pencernaan, namun pada penderita gangguan kecemasan, biasanya produksi asam lambung cenderung meningkat atau berlebih.

Hal ini tentunya berpotensi meningkatkan resiko terjadinya peradangan pada dinding lambung, apalagi jika jadwal makan ybs. tidak teratur dan atau disertai pilihan menu yang dapat memicu produksi asam lambung.

Itu sebabnya pengobatan simptomatis menggunakan obat obatan ataupun suplemen biasanya meredakan sesaat karena cuma berfungsi menurunkan keasaman lambung.

Jadi agar sembuh permanen, terapi justru harus difokuskan pada akar masalah yang menjadi penyebab produksi asam lambung berlebih.

Ingin bebas gangguan lambung? KLIK > https://servo.clinic/alamat/

Efek Nocebo?

Menurut studi terbaru yang dipublikasikan oleh jurnal JAMA Network Open mengungkapkan bahwa hampir dua pertiga dari kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) diduga disebabkan oleh sugesti bawah sadar diri sendiri yang disebut sebagai Nocebo.

Ted J. Kaptchuck, penulis senior yang juga seorang profesor Harvard Medical School mengatakan kepada New York Post :”Banyaknya informasi yang beredar, mengenai kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) yang paling umum, berupa gejala non spesifik seperti sakit kepala dan kelelahan, dapat menyebabkan orang salah mengartikan sensasi yang dirasakan pasca vaksinasi Covid 19.

Bahkan kewaspadaan terhadap hal yang lainpun dapat diterjemahkan secara keliru sebagai kecemasan atau kekhawatiran terhadap efek samping vaksin.

Lebih dari 35 persen penerima plasebo, mengalami setidaknya satu gejala sistemik berupa sakit kepala sebesar 19,6 persen dan sisanya berupa perasaan lelah sebesar 16,7 persen, sementara 46 persen penerima vaksin asli merasakan setidaknya satu gejala sistemik.

Dari data tersebut, dapat disimpulkan bahwa setidaknya dua pertiga dari KIPI yang dilaporkan ada kaitannya dengan efek nocebo karena gejala yang sama juga banyak terjadi pada kelompok placebo.

Artinya rasa cemas atau khawatir yang dirasakan setelah disuntik vaksin Covid-19 bisa jadi sebagian besar hanya disebabkan oleh efek Nocebo, akibat terlalu banyaknya informasi yang beredar.

Kaptchuk berharap, penelitian ini dapat membantu mengurangi kekhawatiran tentang vaksinasi Covid-19, dan dapat mengurangi keraguan terhadap vaksin.

Ingin bebas fobia terhadap vaksin? KLIK > https://servo.clinic/alamat/