Bagaimana Kepribadian Terbentuk?

23/02/2017

kepribadian

Pernahkah kita bertanya-tanya bagaimana kepribadian manusia terbentuk? Apa yang menggerakkan seseorang untuk melakukan sesuatu? Apakah ada energi lain yang menggerakkan manusia tanpa di sadari? Ternyata pertanyaan tersebut sudah pernah terlintas di pikiran seseorang ratusan tahun yang lalu. Sigmund Freud adalah salah satu orang yang berusaha meneliti lebih jauh tentang kepribadian manusia. Setelah ditelitinya, dia menyimpulkan bahwa pada dasarnya manusia adalah makhluk biologis sebelum munculnya hal-hal lain misalnya pergaulan sosial, akal sehat, tingkah laku, adat istiadat, moralitas dan lain-lain, yang ada pertama kali adalah tubuh. Awalnya manusia adalah darah dan daging. Sebagai makhluk biologis, maka manusia digerakkan oleh insting insting biologisnya dan hasrat hasrat kedagingannya yakni hasrat untuk memperoleh kenikmatan dan menghindari ketidaknikmatan (pleasure principle).

Oleh karena hasrat biologisnya manusia mencari kenikmatan dan menghindari ketidaknikmatan. Manusia mana yang secara biologis lebih menyukai puasa daripada makan, lawan jenis yang buruk rupa daripada yang tampan atau cantik, kerja daripada rekreasi, penderitaan daripada kenikmatan. Semua manusia mencari kenikmatan tersebut. Pada dasarnya realitas internal manusia adalah dunia biologis tersebut.

Menurut pandangan freud, kehidupan psikis berakar dari kehidupan biologis. Oleh karena itu penggerak kehidupan psikis (kepribadian) adalah merupakan suatu usaha untuk memenuhi hasrat hasrat biologis dalam kehidupan manusia di dunia, yaitu saat manusia berhadapan dengan realitas eksternal. Ketika manusia berinteraksi dengan realitas eksternal, hal itu tidak lain sebagai upaya untuk memenuhi hasrat hasrat biologisnya.

Untuk memenuhi hasrat hasrat biologisnya, manusia perlu berinteraksi dengan realitas eksternal. Dalam interaksinya dengan realitas eksternal terjadilah dialog antara manusia dengan realitas eksternal, akan tetapi terkadang realitas eksternal menghambat manusia dalam mencapai pleasure principle. Misalnya untuk memperoleh kenikmatan yang sederhana contohnya makan manusia tidak bisa langsung memenuhi kebutuhannya, ia harus bekerja dulu untuk mendapatkannya . Sama seperti makhluk lainnya misalnya hewan. Hidup ini adalah tentang survival, bedanya jika hewan menggunakan berbagai strategi biologis dan ketangguhan fisik untuk dapat survive, maka manusia menggunakan “kesadaran dan kemampuan unuk mengenal realita” untuk survive.

Dengan semakin berkembangnya kesadaran manusia semakin mengenal realitas eksternal dan semakin manusia mengenal realitas eksternal semakin ia dapat menguasai realitas eksternal tersebut. Agar dapat menguasai realitas eksternal dan memenuhi berbagai hasratnya, manusia harus mampu menunda pemenuhan hasratnya agar semakin besar tingkat kepuasan yang diperoleh. Misalnya jika manusia ingin kaya, maka ia harus bisa menunda kebutuhannya untuk berfoya-foya, menabungkan uangnya agar mencapai cita-citanya yaitu kekayaan. Manusia yang ingin sukses dalam hal apapun harus mau berjerih payah dahulu dan menunda segala hasratnya untuk bersenang-senang agar memperoleh kesenangan yang lebih besar di kemudian hari. Lalu bagaimana dengan orang yang mencapai kenikmatan tanpa menunda hasratnya terlebih dahulu misalnya seperti koruptor? Maka dia tidak akan merasakan kenikmatan sebesar orang yang mau bekerja keras dan menunda hasratnya. Itulah paradoks yang dialami manusia(tidak dialami makhluk lain) yaitu agar dapat merasakan kenikmatan, pertama ia harus mampu menunda atau bahkan menyangkal hasrat tersebut. Bukankah kita lebih menikmati kelezatan makanan setelah seharian berpuasa? Demikianlah manusia belajar untuk mensublimasikan hasrat biologisnya yang primitive menjadi hasrat lain yang lebih manusiawi.

Harga yang dibayar manusia untuk menguasai realitas eksternal tidaklah sedikit. Semakin manusia menyangkal hasrat hasrat biologisnya, maka semakin lama hasrat biologis itu menjadi asing baginya, artinya manusia mulai tidak menyadari apa yang menjadi kebutuhannya. Dengan semakin berkembangnya kesadaran dan penguasaan terhadap realitas akibatnya muncullah kesenjangan antara yang sadar dan yang tidak sadar. Semakin manusia berusaha mencapai kesempurnaan dalam penguasaan realitas eksternal semakin ia terasing dengan realitas internalnya yaitu hasrat hasrat biologisnya. Dari sinilah lahir apa yang disebut alam bawah sadar, yaitu sesuatu yang sebenarnya sangat kita kenali akan tetapi lama kelamaan dilupakan hingga menjadi tidak disadari

Dinamika kepribadian manusia adalah hasil interaksi antara realitas internal (yang berakar pada hasrat biologis) dengan realitas eksternal. Kepribadian akan tegak jika manusia berhasil menjaga dialog antara dunia internal dan eksternal dengan mulus, sehingga manusia bisa memuaskan keinginannya tanpa bertentangan dengan realitas. Misalnya ketika manusia lapar dan di meja ada makanan maka ia harus menunda keinginannya untuk makan dan bertanya kepada pemilik makanan tersebut agar ketika memenuhi hasratnya tidak bertentangan dengan realitas. Bila dialog antara manusia dan realitas eksternal terganggu atau bahkan terputus maka keberadaan manusia itu menjadi terancam. Dalam kondisi seperti itu, pribadian akan mengalami gangguan baik gangguan ringan sampai yang berat seperti skizofrenia.

Sumber

Arif, I S. (2006). Dinamika kepribadian, gangguan dan terapinya (understtanding the unconcious). Bandung: PT Refika Aditama

Ingin menjadi pribadi yang menarik ? KLIK > https://servo.clinic/kesaksian/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s