Pernahkah Anda merasa puas sejenak setelah membeli sesuatu yang tidak benar-benar Anda butuhkan—hanya untuk disusul oleh rasa bersalah, cemas, bahkan ketakutan akan masa depan?
Anda membuka marketplace di tengah malam, “cuma lihat-lihat,” tapi ujung-ujungnya checkout barang jutaan rupiah. Lalu esok harinya, Anda gelisah: “Kenapa aku boros terus, ya?”
Jika kebiasaan belanja Anda tak bisa dikendalikan dan mulai memengaruhi emosi, relasi, bahkan kesehatan, Anda mungkin sedang mengalami kondisi yang disebut squandermania—dorongan kompulsif untuk menghamburkan uang atau harta, bahkan saat sadar bahwa hal itu merugikan. 💳🌀
❗ Ini Bukan Sekadar “Kurang Bijak Finansial”
Mereka yang mengalami squandermania bukan hanya kurang bisa mengatur uang. Banyak dari mereka sesungguhnya tahu bahwa perilaku borosnya membahayakan. Namun tetap saja, dorongan itu muncul dan terasa melegakan sesaat—meski kemudian menyesakkan.
Squandermania sering kali berakar dari tekanan psikologis seperti:
- Overthinking berkepanjangan
- Kecemasan eksistensial (takut mati, takut gagal, takut sendirian)
- Gangguan tidur atau insomnia kronis
- Psikosomatis seperti gangguan lambung, nyeri dada, jantung berdebar tanpa sebab medis
- Emosi yang tidak tertangani, seperti marah, kecewa, atau merasa hampa
Membelanjakan uang terasa seperti pelarian, bahkan bisa menjadi cara bawah sadar untuk menenangkan diri dari luka batin yang belum sembuh. 💔🛍️
🔄 Dampak Nyata: Tak Hanya Finansial, Tapi Menyeluruh
Squandermania tak hanya menyentuh dompet, tapi bisa merusak seluruh dimensi kehidupan:
- Pribadi: Munculnya rasa malu, harga diri menurun, hingga takut menghadapi kenyataan.
- Keluarga & Relasi: Konflik dengan pasangan, orang tua, atau teman karena utang dan ketidakjujuran.
- Karier: Fokus kerja menurun, sulit berkembang karena stres keuangan.
- Finansial: Terjerat utang kartu kredit, pinjaman online, kehilangan tabungan, bahkan menjual aset.
- Sosial: Menjauh dari lingkungan karena rasa bersalah atau takut dihakimi.
- Kesehatan: Gangguan tidur, lambung, tekanan darah naik, jantung berdebar, hingga panic attack.
- Hukum: Dalam beberapa kasus ekstrem, bisa menjurus ke penipuan atau pelanggaran etika kerja. ⚠️
đź’ Ayo Merenung: Apa yang Sebenarnya Ingin Kita Beli?
Pikirkan sejenak: apakah benar yang kita butuhkan itu sepatu baru, gawai terbaru, atau liburan dadakan…
Atau sebenarnya kita sedang mencari rasa tenang, rasa aman, rasa dicintai?
Pertanyaan ini sulit dijawab jika kita terbiasa menutupi luka batin dengan aktivitas konsumtif. Tapi, menyadarinya adalah langkah pertama menuju pemulihan. Tidak perlu merasa malu. Anda bukan satu-satunya.
đź§ Saatnya Bicara dengan Profesional
Boros yang mengganggu bukan sekadar masalah keuangan. Ini bisa menjadi tanda distress mental yang lebih dalam, dan itu perlu ditangani secara ilmiah.
📍Di S.E.R.V.O® Clinic, Anda akan dibantu memahami mengapa perilaku itu muncul, lalu bagaimana mengatasinya dengan cara yang aman, efektif, dan tanpa obat.
Terapi di S.E.R.V.O® Clinic memadukan Hipnoterapi, NLP, Visualisasi Kreatif, Psikologi Modern, dan pendekatan nilai-nilai universal untuk menyembuhkan akar psikis, bukan hanya gejalanya.
Prosesnya cepat, nyaman, rasional, dan profesional—tanpa menghakimi.
🌿 Penutup: Boros Itu Bisa Sembuh, Jika Kita Mau Jujur pada Diri Sendiri
Mengakui bahwa kita punya kecenderungan untuk boros bukan berarti kita lemah. Justru itu adalah tanda kekuatan: berani jujur dan ingin sembuh. Anda berhak hidup tenang, cukup, dan merdeka dari tekanan batin yang memicu perilaku impulsif.
✨ Jaga kesehatan mental Anda, karena itu pondasi bagi semua hal baik dalam hidup—termasuk kebebasan finansial yang sesungguhnya.
Dan jika Anda siap untuk sembuh, S.E.R.V.O® Clinic siap mendampingi dengan tangan terbuka.
💳💔🧠💡🌿 — Jangan tunggu dompet kering dan hati semakin kosong. Sembuhkan diri Anda sekarang. Anda pantas hidup dengan damai.