Pernahkah Anda merasa harus terus scroll berita, update media sosial, nonton video edukasi, atau dengar podcast seolah tak bisa berhenti? Meskipun mata lelah dan tubuh ingin istirahat, pikiran berkata: “Satu info lagi. Jangan ketinggalan.” Bahkan di tempat tidur, jemari masih sibuk membuka tab demi tab, berharap menemukan ājawabanā untuk rasa gelisah yang tidak kunjung reda.
Ini bukan soal malas detoks digital. Ini bisa jadi tanda bahwa Anda sedang mengalami information addiction ā atau dalam istilah psikologi, infomania.
š§· Bukan Sekadar Kurang Fokus, Tapi Luka yang Tak Disadari
Kebutuhan untuk terus mencari informasi sering kali bukan karena rasa ingin tahu yang sehat, melainkan bentuk pelarian dari tekanan batin. Otak mencoba menenangkan diri dengan ākonsumsi pengetahuanā tanpa hentiāpadahal yang dibutuhkan adalah keheningan dan penyembuhan dari dalam.
Kecanduan informasi kerap disertai gejala seperti:
- 𤯠Overthinking dan sulit mengambil keputusan
- š“ Gangguan tidur akibat stimulasi mental berlebihan
- š Sakit lambung atau GERD karena stres kronis
- š Jantung berdebar tanpa sebab yang jelas
- š Rasa cemas, takut mati, atau panik saat tidak terhubung dengan info terbaru
- š Rasa malu, marah pada diri sendiri, atau bahkan frustasi jika ātertinggalā
Semua ini bisa muncul tanpa disadari, menjalar dari pikiran ke fisik ā itulah psikosomatis.
š Mengapa Kita Bisa Kecanduan Informasi?
Secara psikologis, ini berkaitan erat dengan mekanisme koping yang salah arah. Saat kita merasa terancam, tak berdaya, atau bingung, otak mencoba mencari kendali dengan memperbanyak ābekal informasiā. Ini seperti membuat benteng ilusi: kalau saya tahu lebih banyak, saya akan lebih aman.
Namun alih-alih membuat tenang, informasi yang berlebihan justru membuat kewalahan. Kita menjadi lebih bingung, lebih cemas, dan lebih sulit mempercayai intuisi.
Dari sisi konsep diri, ini bisa berasal dari kebutuhan untuk selalu ātahuā agar merasa cukup, pintar, atau diterima. Bagi sebagian orang, ini menjadi bagian dari coping defense untuk menutupi rasa tidak aman, takut gagal, atau bahkan luka masa lalu yang belum disadari.
ā ļø Dampaknya Tidak Main-main
Jika dibiarkan, kecanduan informasi bisa merusak banyak aspek hidup:
- Kesehatan mental: Meningkatkan risiko gangguan kecemasan umum (Generalized Anxiety Disorder), insomnia, bahkan depresi.
- Karier dan produktivitas: Sulit fokus, lambat mengambil keputusan, kehilangan efisiensi.
- Relasi sosial & keluarga: Kurang hadir secara emosional, mudah terdistraksi, dan merasa sulit terhubung secara mendalam.
- Kesehatan fisik: Picu psikosomatis seperti nyeri otot, migrain, gangguan pencernaan, jantung berdebar.
- Aspek hukum & privasi: Bisa tergelincir ke perilaku menyebar info tanpa validasi atau terlibat hoaks, yang berisiko hukum.
š¤ Waktunya Merenung: Apakah Ini Tentang Ingin Tahu, atau Takut Tidak Tahu?
Cobalah tanyakan pada diri sendiri:
“Apakah saya mencari informasi karena saya ingin belajar, atau karena saya takut merasa tertinggal?”
“Apakah saya lebih tenang setelah dapat info baru, atau malah makin cemas dan bingung?”
Kesadaran ini bisa menjadi titik balik. Karena penyembuhan selalu dimulai dari kejujuran kepada diri sendiri.
š§ Saatnya Mencari Bantuan yang Tepat
Jika Anda merasa sulit berhenti mengakses informasi meski sudah lelah, saatnya mencari bantuan profesional. Ini bukan tentang melemahkan diriājustru ini bentuk self-respect tertinggi: berani memulihkan kesehatan mental sebelum runtuh lebih dalam.
S.E.R.V.OĀ® Clinic adalah tempat yang tepat untuk itu. Klinik ini menawarkan terapi berbasis ilmu psikologi modern, tanpa obat, dan menangani akar masalah psikis seperti overthinking, kecemasan, gangguan tidur, dan psikosomatis. Di S.E.R.V.OĀ® Clinic, Anda akan dibimbing untuk memahami pola pikir dan luka bawah sadar yang mendorong perilaku kompulsif seperti kecanduan informasi.
š± Menjaga Mental = Tanggung Jawab Cinta Pada Diri Sendiri
Kecanduan informasi bisa menyamar sebagai āsemangat belajarā, tapi jika sudah menguras jiwa, itu tanda Anda perlu jeda. Tenangkan pikiran. Rawat tubuh. Pulihkan luka yang tak terlihat. Anda berhak merasakan kedamaian tanpa harus tahu segalanya. šæš“
š¬ Karena hidup bukan tentang mengetahui semua hal, tapi tentang hadir sepenuhnya dalam apa yang benar-benar penting.
š Dan jika Anda siap memulainya, S.E.R.V.OĀ® Clinic siap membantu Anda kembali tenang.
šā”š§ šļøšæ ā Jangan biarkan rasa ingin tahu membungkam kebutuhan jiwa untuk istirahat. Anda bisa sembuh. Anda layak hidup damai.