Terapi Detoksifikasi ?

DISCLAIMER : Kisah nyata berikut ini tidak dimaksudkan sebagai jaminan bahwa hasil terapi yang dicapai akan sama pada setiap orang, karena setiap kasus bersifat individu, tergantung dari kesediaan klien untuk berubah dan seberapa cepat akar masalah ditemukan !

Alhamdulillah senang sekali saya hari ini, saat menerima laporan dari klien bahwa ybs. tidak lagi mengalami sakau (withdrawal effect) dan kejang, saat berangsur angsur menghentikan penggunaan obat-obatan psikis.

Hal ini menjadi jawaban bagi para pecandu obat-obatan ataupun junkies bahwa kecanduan obat-obatan dapat diatasi tanpa harus melalui “kesakitan” yang hebat (sakau), jika dilakukan dengan cara yang benar dan oleh profesional.

Agar proses detoksifikasi berjalan dengan aman dan terkendali, maka urut-urutan yang harus dilalui sebagai berikut :

  1. Putuskan untuk menghentikan ketergantungan pada obat secara bertahap dan dibawah supervisi profesional
  2. Jika masih remaja dan masih bergantung kepada orang tua, berterus teranglah kepada mereka agar mendapatkan dukungan moril dan finansial
  3. Berobatlah  ke dokter, psikiater, puskesmas, rumah sakit, dan atau lembaga rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial yang ditunjuk Pemerintah guna mendapatkan obat pengganti (substitusi) secara resmi.
  4. Agar terlindung dari masalah hukum selama masa rehabilitasi, mintalah kartu lapor diri kepada institusi penerima wajib lapor (PP 25-2011 : Ps. 10, ayat 1)
  5. Untuk mengendalikan efek sakau selama proses detoksifikasi ataupun efek relapse pasca rehabilitasi, lengkapi dengan terapi S.E.R.V.O®!

Catatan : Terapi S.E.R.V.O® hanya merupakan terapi pendukung atas terapi yang dilakukan oleh psikiater dan tidak dimaksudkan sebagai pengganti peran psikiater.

Ingin mengendalikan efek sakau ? KLIK > https://servo.clinic/alamat/

Manfaat Kartu Lapor Diri Pecandu Narkotika

Sehubungan dengan ketentuan Pasal 55 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dimana orang tua atau wali dari Pecandu Narkotika yang belum cukup umur wajib melaporkan (ayat 1) atau Pecandu Narkotika yang sudah cukup umur diwajibkan melaporkan diri atau dilaporkan oleh keluarganya kepada Institusi Penerima Wajib Lapor.

Adapun institusi penerima wajib lapor meliputi : pusat kesehatan masyarakat (puskesmas), rumah sakit, dan/atau lembaga rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial yang ditunjuk oleh Pemerintah guna mendapatkan pengobatan dan/atau perawatan melalui rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial.

Pecandu Narkotika yang telah melaporkan diri atau dilaporkan kepada Institusi Penerima Wajib Lapor akan diberi kartu lapor diri setelah menjalani asesmen (PP 25-2011 : Ps. 10, ayat 1).

Kartu Lapor Diri dimaksudkan untuk melindungi ybs., jika tersangkut masalah hukum. Yang bersangkutan dapat menunjukkan kartu lapor diri kepada pihak yang berwajib, agar dilakukan rujukan kembali kepada Lembaga / Institusi yang mengeluarkan kartu lapor diri tersebut.

Catatan : Kartu lapor diri ini hanya berlaku untuk 2x razia.

Ingin mencegah relapse ? KLIK > https://atomic-temporary-10061447.wpcomstaging.com/kesaksian/

Jatuh Kembali pada Lubang yang Sama ?

Tertangkapnya kembali artis Fari* RM pada kasus narkoba, menambah panjang daftar artis yang berulangkali terjerat pada kasus yang sama.

Sebut saja artis lainnya seperti Ibr* Azhar*, Ro* Marte*, Revald*, Pol* Srimula*, Doyo* dan banyak lagi arti lainnya. Hal ini tentunya sangat memprihatinkan, mengingat mereka dulunya adalah orang orang yang berprestasi dan menjadi model bagi penggemarnya.

Lalu mengapa mereka “jatuh” kembali pada lubang yang sama ? Adakah yang salah dengan pola penanganan baik hukum, sosial maupun rehabilitasi ?

Mereka adalah tipe orang orang yang bekerja di dua ekstrim. Di saat jaya, mereka adalah “subjek” sebagai pekerja aktif, memiliki pengaruh, banyak uang, banyak teman dsb., namun pada yang sama mereka adalah “objek” dengan jadwal padat, pola tidur dan makan tidak teratur, komunikasi keluarga berkurang dll.

Tekanan pekerjaan yang sangat tinggi inilah yang membuat mereka menjadi sangat rentan terhadap sumber rasa nyaman yang semu seperti alkohol, obat obatan, seks, judi dll., hal tersebut akibat adanya kebutuhan bawah sadar untuk menurunkan ketegangan.

Ironisnya, seiring dengan mulai memudarnya popularitas, berkurangnya penghasilan mereka apalagi jika disertai masalah keluarga, dapat semakin meningkatkan kecemasan mereka dan ini berarti pula semakin meningkatkan kebutuhan mereka akan rasa nyaman.

Klimaksnya, saat mereka tertangkap menggunakan barang haram inilah yang membuat semuanya menjadi terbalik, seperti rasa bersalah kepada keluarga atau penggemar, rasa marah diri sendiri dan ini tentu saja semakin menempatkan diri mereka dalam posisi objek (baca : pesakitan).

Selanjutnya, pola penanganan hukum, sosial ataupun rehabilitasi yang tidak tepat, dapat pula membuat ybs. semakin terpuruk karena semakin menurunkan harga diri (self esteem) mereka. Tidak heran jika mereka mudah terjatuh kembali pada lubang yang sama.

Bagaimana jika dengan hukuman rehabilitasi, disertai hukuman kerja sosial seperti menjadi pengajar/mentor musik, pelawak, akting dsb. dapat semakin mempercepat proses penemuan kembali jati diri mereka ?

Ingin kembali berguna ? KLIK > https://atomic-temporary-10061447.wpcomstaging.com/kesaksian/