ABG Labil?

Dalam sebuah proses pencarian jati-diri, khususnya di usia belasan tahun, remaja sering dibingungkan dengan suasana hati yang berubah ubah, tidak jarang berpindah dengan cepat dari satu ekstrim ke ekstrim lainnya.

Hal tersebut dapat dimengerti karena pada usia pertumbuhan, kerja hormonal sedang pesat pesatnya sehingga memiliki enerji kinestetik yang besar, semangat yang menggebu gebu, tidak kenal lelah, rasa ingin tau yang tinggi, tidak kenal rasa takut, dorongan menyukai lawan jenis dsb.

Disisi lain, adanya fase peralihan dari dunia anak anak yang penuh kebebasan, kegembiraan, tidak mengenal resiko, tidak perlu rencana dan tanpa aturan ke dunia dewasa yang mulai menitik beratkan pada keteraturan, perencanaan, resiko, tanggung jawab menempatkan ybs. pada posisi yang sulit, belum lagi jika orang orang dewasa yang berada disekitarkan bersikap kaku, dominan dan suka memaksakan kehendak.

Akibatnya mereka berada pada fase yang kritis, labil sehingga sangat rentan terhadap sugesti yang negatif, propaganda yang menyesatkan, lingkungan pergaulan yang buruk, pengaruh iklan yang manipulatif, gaya hidup hedonis dsb.

Untuk itu diperlukan orang orang dewasa disekitarnya yang bijak, memahami psikologi remaja, kesediaan untuk berkompromi, serta menguasai keterampilan berkomunikasi karena mereka bukanlah para pecundang atau perusuh, melainkan seorang remaja dengan enerji turbo yang jika diarahkan dengan tepat dapat menghasilkan karya atau prestasi yang gemilang.

Jadi sebelum ananda memasuki masa remaja, sebaiknya para orang tua ataupun guru, membekali diri dengan pengetahuan mengenai psikologi remaja, rajin membaca buku, majalah ataupun mengikuti seminar parenting.

Ingin anak remaja Anda berprestasi dan bahagia? KLIK > https://servo.clinic/alamat/

Penganiayaan Anak ?

Tingginya kasus penganiayaan ataupun penelantaran anak dapat dijadikan indikasi rapuhnya lembaga perkawinan sebagai sebuah lembaga pelahir generasi unggul (perlu diteliti lebih lanjut).

Padahal dari kelahiran generasi yang bebas trauma inilah kita bisa berharap banyak memiliki generasi penerus yang sehat, cerdas, produktif dan bahagia.

Sayangnya, keterampilan dalam mengasuh anak (parenting skills), keterampilan hidup (life skills), keterampilan memecahkan masalah (problem solving skills)  belum terintegrasi dalam sistem pendidikan dan kesehatan nasional sehingga kebanyakan pasangan muda belum memiliki persiapan saat masalah keluarga tiba.

Akibatnya mudah ditebak, mereka cenderung tanpa sadar kembali menggunakan pola asuh yang pernah mereka kenal, persis seperti cara cara orang tua mereka dulu membesarkan dirinya, padahal situasinya sudah tentu sangat jauh berbeda.

Untuk itu sebelum menikah, pastikan Anda menyadari adanya dua hal yang dapat mengancam kesehatan emosi calon putra putri Anda yaitu hambatan pribadi, hambatan yang dimiliki oleh masing masing pasangan seperti gangguan kecemasan, mudah panik, takut, depresi, malas, kebiasaan buruk, kecanduan dsb. serta hambatan komunikasi, hambatan yang timbul saat perbedaan sifat / karakter dipadukan dalam sebuah lembaga perkawinan.

Ingin bebas penganiayaan anak ? KLIK > https://atomic-temporary-10061447.wpcomstaging.com/kesaksian/

Ingin Anak Berprestasi ?

DISCLAIMER : Kisah nyata berikut ini tidak dimaksudkan sebagai jaminan bahwa hasil terapi yang dicapai akan sama pada setiap orang, karena setiap kasus bersifat individu, tergantung dari kesediaan klien untuk berubah dan seberapa cepat akar masalah ditemukan !

Apakah prestasi belajar anak remaja Anda biasa biasa saja ?

Jika ya, bisa jadi karena orang-tua mengirimkan “pesan” yang keliru kepada buah hatinya, seolah-olah belajar merupakan kepentingan orang-tua, bukan kepentingan dirinya.

Adakah cara mudah untuk mengetahui apakah orang-tua telah mengirim “pesan” yang salah mengenai manfaat belajar atau pentingnya sekolah kepada ananda ?

Indikatornya sangat mudah.

Perhatikan, apakah anak Anda senantiasa mempersiapkan buku pelajaran dan mengerjakan tugas sekolahnya sendiri, apakah anak Anda bangun dan mandi pagi sendiri ? Ataukah sebaliknya, harus senantiasa diingatkan atau dikejar kejar oleh orang-tua ?

Apakah orang-tua mudah panik ataupun marah, jika anak tidak mengerjakan PR, malas bangun, mandi terlambat atau sarapan lelet ? Apakah orang-tua sering mengomel karena kuatir ananda ketinggalan jemputan ?

Jika jawabannya ya, hampir dipastikan persoalannya justru ada pada orang-tua.

Maksud baik orang tua yang tidak disampaikan dengan cara yang tepat, seolah memberi “pesan” bahwa gara-gara sekolah, telah membuat dirinya menderita. Gara gara sekolah, telah membuat sikap orang-tua berubah, dari yang sebelumnya menyenangkan, menjadi “monster” yang super cerewet.

Bagaimana jika anak sudah cukup mandiri, dan orang-tua tidak terlalu banyak ikut campur, namun prestasi belajarnya masih tetap biasa biasa saja ?

Anda tidak usah kuatir, kemungkinannya bisa karena  sang anak belum menemukan sisi yang menyenangkan dari belajar atau bisa jadi karena memiliki ketertarikan di bidang lain seperti musik, olah-raga, menulis dsb. Untuk itu sudah menjadi tugas orang-tua untuk membantu menemukannya.

Jadi jika Anda tidak dapat membantu buah hati Anda dalam menemukan “passion”nya, paling tidak pastikan diri Anda tidak menjadi “monster” yang menyebalkan bagi dirinya.

Jika perlu, mintalah bantuan profesional.

Ingin anak berprestasi ? KLIK > https://servo.clinic/alamat/