Sulit Membuang Pasangan Selingkuh?

Sebagai sebuah hiburan, tidak ada hal yang lebih menyenangkan selain selingkuh.

Seseorang akan berlimpah janji, perhatian, pujian, kebersamaan bahkan hadiah yang tidak pernah diperoleh dari pasangan resmi.

Itu sebabnya kenapa membuang pasangan selingkuh menjadi sulit, selain disebabkan oleh banjir adrenalin saat komunikasi dilakukan secara sembunyi sembunyi, juga berpotensi semakin terkunci, jika disertai kontak seksual.

Jadi sebelum tersesat terlalu jauh segera putar arah pada kesempatan pertama dan jika perlu mintalah bantuan profesional agar mudah membuang pasangan selingkuh dan sekaligus merekatkan kembali dengan pasangan resmi.

Ingin membuang pasangan selingkuh ? KLIK > https://servo.clinic/alamat/

 

Terapi Suami Selingkuh

Apakah suami Anda menunjukkan tanda tanda selingkuh?

Dalam kehidupan perkawinan yang berlangsung rutin, pernah menolak ajakan suami ataupun diwarnai konflik, berpotensi menyebabkan suami selingkuh.

Begitu pula dengan status sosial istri yang lebih tinggi seperti tingkat pendidikan ataupun penghasilan.

Sikap posesif yang berlebihan seperti rasa kepo/ingin tau, rasa cemburu, seringkali tidak efektif mencegah terjadinya perselingkuhan ataupun menyelesaikan masalah apalagi jika disertai nasihat, omelan ataupun larangan.

Untuk ini Anda sebaiknya segera memperbaiki pola komunikasi Anda dan pastikan kualitas dan kuantitas hubungan pasutri ditingkatkan.

Namun jika berbagai upaya yang telah Anda lakukan tetap tidak “bekerja”, ada baiknya meminta bantuan profesional karena bisa jadi penolakan ataupun konflik dimasa lalu sudah terlanjur menimbulkan luka batin yang menggores dalam.

Ingin suami tidak selingkuh ? KLIK > https://servo.clinic/alamat/

Frigid vs Ejakulasi Dini

 

Sebagai seorang suami, apakah saat berhubungan intim, Anda cenderung menggebu gebu diawal, lalu mudah mengalami ejakulasi dini? Jika iya, hampir dipastikan pasangan Anda cenderung merasa kesakitan, kecewa dan berikutnya menjadi enggan.

Sebagai seorang istri, apakah saat berhubungan intim, Anda cenderung pasif, dingin dan tidak jarang merasa terpaksa? Jika iya, hampir dipastikan pasangan Anda merasa frustasi, tidak jantan dan gagal sebagai seorang pria.

Padahal hubungan intim suami istri merupakan sarana yang efektif untuk meningkatkan kebahagiaan dan produktifitas keduanya. Saat kedua belah pihak merasa puas, daya tahan tubuh dalam menghadapi tekanan dan rutinitas pekerjaan juga semakin meningkat.

Begitu juga potensi terjadinya perbedaan pendapat, pertengkaran, perselingkuhan bahkan perceraian juga semakin menurun dan ini tentu saja membuat pertumbuhan emosi anak anak menjadi sangat positif dan sehat.

Bagaimana jika dengan diterapi S.E.R.V.O® semua pihak dapat merasakan manfaatnya?

Ingin meningkatkan kualitas hubungan pasutri ? KLIK > https://servo.clinic/alamat/

Komunikasi antar Pasangan ?

Pernahkah Anda terlibat pertengkaran yang tidak perlu dengan pasangan ?

Biasanya hal tersebut dipicu oleh hal hal yang tidak penting seperti lupa mematikan kran air, tidak mengembalikan gunting ketempat semula, meletakkan handuk basah di tempat tidur, lupa mematikan lampu, dandan kelamaan, mematikan rokok pasangan, mengubah saluran TV tanpa ijin pasangan, menyodorkan alat cukur ke suami, buang angin ataupun sendawa di depan pasangan dsb.

Meskipun terkesan sepele, namun pertengkaran tersebut menjadi indikasi adanya gangguan komunikasi antar pasangan dimana maksud baik ataupun ketiadaan maksud buruk pasangan, dipersepsikan negatif oleh pasangan lainnya.

Adapun penyebabnya bisa bermacam macam, antara lain :

  1. Perbedaan kebiasaan yang dibawa oleh masing masing pribadi, sebelum menikah
  2. Struktur kalimat yang tidak efektif sehingga terkesan meng-kritik atau memberi perintah
  3. Cara penyampaian yang bersifat merendahkan ataupun menyerang karakter pasangan
  4. Maksud baik yang diharuskan, padahal pasangan belum ingin melakukannya
  5. Perbedaan kecepatan dalam berubah, akibat skala prioritas yang berbeda
  6. “Timing” penyampaian yang tidak tepat sehingga mempermalukan pasangan
  7. Perbedaan sudut pandang dan tingkat kepentingan masing masing pasangan
  8. Pasangan sedang fokus pada hal lain seperti TV, game, SMS, internet dll.

Untuk itu perlu disadari sejak awal bahwa tujuan pernikahan adalah suami harus menjadi sumber nyaman bagi istri dan istri harus menjadi sumber nyaman bagi suami.

Jadi pernikahan tidak dimaksudkan untuk saling menyeragamkan pasangan, melainkan cuma saling melengkapi.

Ingin keluarga harmonis ? KLIK > https://atomic-temporary-10061447.wpcomstaging.com/kesaksian/

Penganiayaan Anak ?

Tingginya kasus penganiayaan ataupun penelantaran anak dapat dijadikan indikasi rapuhnya lembaga perkawinan sebagai sebuah lembaga pelahir generasi unggul (perlu diteliti lebih lanjut).

Padahal dari kelahiran generasi yang bebas trauma inilah kita bisa berharap banyak memiliki generasi penerus yang sehat, cerdas, produktif dan bahagia.

Sayangnya, keterampilan dalam mengasuh anak (parenting skills), keterampilan hidup (life skills), keterampilan memecahkan masalah (problem solving skills)  belum terintegrasi dalam sistem pendidikan dan kesehatan nasional sehingga kebanyakan pasangan muda belum memiliki persiapan saat masalah keluarga tiba.

Akibatnya mudah ditebak, mereka cenderung tanpa sadar kembali menggunakan pola asuh yang pernah mereka kenal, persis seperti cara cara orang tua mereka dulu membesarkan dirinya, padahal situasinya sudah tentu sangat jauh berbeda.

Untuk itu sebelum menikah, pastikan Anda menyadari adanya dua hal yang dapat mengancam kesehatan emosi calon putra putri Anda yaitu hambatan pribadi, hambatan yang dimiliki oleh masing masing pasangan seperti gangguan kecemasan, mudah panik, takut, depresi, malas, kebiasaan buruk, kecanduan dsb. serta hambatan komunikasi, hambatan yang timbul saat perbedaan sifat / karakter dipadukan dalam sebuah lembaga perkawinan.

Ingin bebas penganiayaan anak ? KLIK > https://atomic-temporary-10061447.wpcomstaging.com/kesaksian/

Maaf, Tolong dan Terima Kasih ?

Meski terkesan sepele, tiga kata “maaf”, “tolong” dan “terima kasih” adalah tiga kata sakti dalam kehidupan.

Adapun penerapannya, biasanya dikaitkan dalam konteks sosial. Ketiga kata sakti tadi dapat dijadikan jembatan komunikasi yang sangat efektif dengan pihak lain.

Ketiga kata sakti tadi dapat menembus mekanisme pertahanan diri pihak lain, khususnya pihak asing yang baru dikenal. Dalam konteks budaya, ketiga kata sakti tadi dapat dijadikan indikator apakah seseorang berpendidikan atau tidak, bahkan lebih jauh lagi dapat digunakan untuk menilai kualitas kepribadian orang-tua ybs.

Meski ketiga kata tersebut dapat diucapkan oleh siapa saja, kapan saja dan untuk tujuan tertentu, namun yang membedakannya terletak pada “ketulusannya”.

Seseorang yang telah dididik untuk mengucapkan ketiga kata sakti tersebut sejak kecil, biasanya akan terasa lebih spontan, lebih tulus dan lebih ramah.

Ketiga kata sakti inilah yang kelak dikemudian hari dapat membuat seseorang lebih dihargai, dihormati dan disegani oleh pihak lain.

Ingin menjadi pribadi yang sopan ? KLIK > https://atomic-temporary-10061447.wpcomstaging.com/kesaksian/

Group Keluarga ?

Entah disadari atau tidak, beban kehidupan yang semakin kompleks membuat “ruang” komunikasi antar bapak, ibu dan anak menjadi semakin “mewah”.

Hal tersebut dikarenakan masing masing pihak terjebak pada aktivitas rutin yang melelahkan seperti mencari nafkah pada bapak dan tidak jarang juga ibu, urusan rumah tangga dan aktifitas sekolah pada anak.

Akibatnya suasana komunikasi menjadi tidak “cair”, berjarak, transaksional, terburu buru dsb. dan ini tentu saja berpotensi menimbulkan salah faham dan lebih buruk lagi jika terjadi konflik.

Padahal apapun bentuk konflik yang tidak diselesaikan pada kesempatan pertama dapat menimbulkan “luka” di salah satu pihak sehingga menghilangkan rasa hormat, kepercayaan, kepedulian pada pihak lain.

Kita dapat membayangkan kira kira apa yang akan dirasakan oleh masing masing pihak, jika keluarga yang seharusnya menjadi sumber nyaman bagi satu sama lain, berubah menjadi sumber stress bagi satu sama lain ?

Apakah kita harus menunggu menunggu sampai terjadi kegagalan komunikasi seperti anak mogok sekolah, kasus narkoba, perselingkuhan dsb., baru kita bersedia berubah ?

Untungnya saat ini sudah ada fasilitas media sosial seperti Fb, BBM, WA dsb. yang bisa jadi dulunya baru dimanfaatkan sebatas rekreasi sosial seperti nostalgia masa sekolah, mencari daftar mantan, grup main, grup hobi, chatting dsb.

Sudahkah Anda memiliki BBM atau WA keluarga ? Bagaimana jika dengan membuat BBM atau WA keluarga, Anda justru kembali memiliki “ruang” komunikasi antar keluarga ?

Ingin memiliki keluarga harmonis ? KLIK > https://atomic-temporary-10061447.wpcomstaging.com/kesaksian/

Interaksi yang Saling Menghancurkan ?

DISCLAIMER : Kisah nyata berikut ini tidak dimaksudkan sebagai jaminan bahwa hasil terapi yang dicapai akan sama pada setiap orang, karena setiap kasus bersifat individu, tergantung dari kesediaan klien untuk berubah dan seberapa cepat akar masalah ditemukan !

Seorang wanita menghubungi SERVO Clinic, sehubungan dengan kebiasaan berhutang sang ibu.

Pada awalnya, hal tersebut dikira hanya bersifat sementara, sehingga semua kewajiban membayar tagihan dilakukan oleh sang anak.

Namun semakin lama kebiasaan tersebut semakin tidak terkendali dan sudah sampai pada tahap yang mengkhawatirkan karena hubungan komunikasi dengan sang suami mulai terganggu, disisi lain adik-adiknya mulai berlepas diri, bahkan sang ayahpun mulai tidak peduli terhadap istrinya.

Saat hal tersebut dikonfirmasikan, sang Ibu beralasan kebiasaan berhutang tersebut muncul, akibat sikap suami yang dulu sangat pelit kepadanya.

Berbagai upaya telah dilakukan mulai dari marah, membuat perjanjian tertulis hingga ancaman akan dipidanakan, namun hal tersebut tidak membuat sang ibu menjadi jera.

Solusi :   Pola interaksi di dalam keluarga harus kembali di tata ulang, mulai dari sikap sang ayah yang abai terhadap istrinya dan yang tidak kalah penting adalah menghilangkan kebiasaan mengambil alih tanggung jawab sang ibu.

Ingin kembali harmonis ? KLIK > https://servo.clinic/alamat/

Kecewa pada Anak ?

Adalah wajar jika sebagai orang tua, kita merasa sedih saat buah hati tidak lulus Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN).

Namun menganggap sang anak, tidak peduli terhadap masa depannya juga bukanlah hal yang bijak karena seburuk apapun hasil tes, didalamnya tetap ada pengorbanan anak yang harus dihargai seperti kerelaan bangun pagi saat masih mengantuk, melawan dinginnya air mandi pagi dan mengorbankan waktu bermainnya.

Jadi menyalahkan atau memarahi anak saat belum berhasil masuk perguruan tinggi negeri, sama sekali tidak ada gunanya karena hal tersebut justru dapat membuat anak menjadi semakin stres dan merasa gagal. Justru yang dibutuhkan anak anda saat ini adalah dukungan, bukan tudingan, solusi masalah, bukan nasihat.

Sekarang adalah waktu yang tepat untuk mengajarkan ke anak tentang realita hidup, mengambil hikmah, menerima “hasil” sebagai resiko dan bagaimana menyempurnakannya ke depan, sehingga sang anak menyadari bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana, ada saat jatuh dan ada cara bangkit dsb.

Ingat, menasihati anak tentang masa depan adalah baik dan mengajarkan anak untuk realistis juga penting.

Ingin bisa berubah ? KLIK > https://atomic-temporary-10061447.wpcomstaging.com/kesaksian/

Marah pada Mertua ?

DISCLAIMER : Kisah nyata berikut ini tidak dimaksudkan sebagai jaminan bahwa hasil terapi yang dicapai akan sama pada setiap orang, karena setiap kasus bersifat individu, tergantung dari kesediaan klien untuk berubah dan seberapa cepat akar masalah ditemukan !

Datang ke Servo Clinic seorang pengusaha dengan keluhan malas, depresi, sulit bergaul dan sulit tersenyum.

Keluhan ini mulai dirasa mengganggu sejak terjadi konflik hebat dengan pihak mertua akibat masalah bisnis.  Yang bersangkutan merasa kewenangan dan kewibawaannya sebagai pemimpin perusahaan menjadi “lumpuh” akibat terlalu banyaknya campur tangan pihak mertua yang juga memiliki beberapa perusahaan ditempat lain dan saudara istri yang juga bekerja di perusahaan tersebut.

Walaupun istri mendukung penuh terhadap apapun keputusan yang diambil suami, namun ybs. sulit bersikap tegas karena tidak ingin melukai perasaan sang istri sebab adanya resiko rusaknya hubungan sang istri dengan orang-tua dan keluarganya.

Akibatnya tanpa disadari ybs., malah menarik diri dan mengubah jati-dirinya dari seseorang yang pada awalnya penuh percaya diri menjadi pribadi yang kikuk, takut, grogi, minder, tidak tegas, mudah emosi dsb.

Pada waktu dilakukan penelusuran ulang terhadap masa lalunya, ditemukan telah terjadi pengulangan pola terhadap perasaan dizalimi, dimanfaatkan persis seperti yang dulu dialami sang ibu dari pihak keluarganya, sehingga membuat dirinya merasa tidak berdaya.

Disimpulkan bahwa telah terjadi proses identifikasi antara persoalan bisnis yang sedang dihadapi dirinya, dengan meniru bagaimana cara orang yang dihormatinya (baca : ibunya) mengatasi persoalan. Meskipun sebagai sebuah mekanisme pertahanan diri, “identifikasi” dapat mereduksi kecemasan, namun sebagai makhluk independen, dapat menyebabkan fungsi dirinya menjadi lumpuh.

Setelah dilakukan pemetaan ulang terhadap masalah, berikut resiko yang harus ditanggung, hanya dengan sedikit mengubah cara pandang akhirnya ybs. dapat pulang dengan perasaan yang lega dan “melihat” bahwa gentong pundi2nya justru sedang diisi oleh pihak mertuanya.

Ingin bebas marah ? KLIK > https://servo.clinic/alamat/