Group Keluarga ?

Entah disadari atau tidak, beban kehidupan yang semakin kompleks membuat “ruang” komunikasi antar bapak, ibu dan anak menjadi semakin “mewah”.

Hal tersebut dikarenakan masing masing pihak terjebak pada aktivitas rutin yang melelahkan seperti mencari nafkah pada bapak dan tidak jarang juga ibu, urusan rumah tangga dan aktifitas sekolah pada anak.

Akibatnya suasana komunikasi menjadi tidak “cair”, berjarak, transaksional, terburu buru dsb. dan ini tentu saja berpotensi menimbulkan salah faham dan lebih buruk lagi jika terjadi konflik.

Padahal apapun bentuk konflik yang tidak diselesaikan pada kesempatan pertama dapat menimbulkan “luka” di salah satu pihak sehingga menghilangkan rasa hormat, kepercayaan, kepedulian pada pihak lain.

Kita dapat membayangkan kira kira apa yang akan dirasakan oleh masing masing pihak, jika keluarga yang seharusnya menjadi sumber nyaman bagi satu sama lain, berubah menjadi sumber stress bagi satu sama lain ?

Apakah kita harus menunggu menunggu sampai terjadi kegagalan komunikasi seperti anak mogok sekolah, kasus narkoba, perselingkuhan dsb., baru kita bersedia berubah ?

Untungnya saat ini sudah ada fasilitas media sosial seperti Fb, BBM, WA dsb. yang bisa jadi dulunya baru dimanfaatkan sebatas rekreasi sosial seperti nostalgia masa sekolah, mencari daftar mantan, grup main, grup hobi, chatting dsb.

Sudahkah Anda memiliki BBM atau WA keluarga ? Bagaimana jika dengan membuat BBM atau WA keluarga, Anda justru kembali memiliki “ruang” komunikasi antar keluarga ?

Ingin memiliki keluarga harmonis ? KLIK > https://atomic-temporary-10061447.wpcomstaging.com/kesaksian/

Interaksi yang Saling Menghancurkan ?

DISCLAIMER : Kisah nyata berikut ini tidak dimaksudkan sebagai jaminan bahwa hasil terapi yang dicapai akan sama pada setiap orang, karena setiap kasus bersifat individu, tergantung dari kesediaan klien untuk berubah dan seberapa cepat akar masalah ditemukan !

Seorang wanita menghubungi SERVO Clinic, sehubungan dengan kebiasaan berhutang sang ibu.

Pada awalnya, hal tersebut dikira hanya bersifat sementara, sehingga semua kewajiban membayar tagihan dilakukan oleh sang anak.

Namun semakin lama kebiasaan tersebut semakin tidak terkendali dan sudah sampai pada tahap yang mengkhawatirkan karena hubungan komunikasi dengan sang suami mulai terganggu, disisi lain adik-adiknya mulai berlepas diri, bahkan sang ayahpun mulai tidak peduli terhadap istrinya.

Saat hal tersebut dikonfirmasikan, sang Ibu beralasan kebiasaan berhutang tersebut muncul, akibat sikap suami yang dulu sangat pelit kepadanya.

Berbagai upaya telah dilakukan mulai dari marah, membuat perjanjian tertulis hingga ancaman akan dipidanakan, namun hal tersebut tidak membuat sang ibu menjadi jera.

Solusi :   Pola interaksi di dalam keluarga harus kembali di tata ulang, mulai dari sikap sang ayah yang abai terhadap istrinya dan yang tidak kalah penting adalah menghilangkan kebiasaan mengambil alih tanggung jawab sang ibu.

Ingin kembali harmonis ? KLIK > https://servo.clinic/alamat/

Kecewa pada Anak ?

Adalah wajar jika sebagai orang tua, kita merasa sedih saat buah hati tidak lulus Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN).

Namun menganggap sang anak, tidak peduli terhadap masa depannya juga bukanlah hal yang bijak karena seburuk apapun hasil tes, didalamnya tetap ada pengorbanan anak yang harus dihargai seperti kerelaan bangun pagi saat masih mengantuk, melawan dinginnya air mandi pagi dan mengorbankan waktu bermainnya.

Jadi menyalahkan atau memarahi anak saat belum berhasil masuk perguruan tinggi negeri, sama sekali tidak ada gunanya karena hal tersebut justru dapat membuat anak menjadi semakin stres dan merasa gagal. Justru yang dibutuhkan anak anda saat ini adalah dukungan, bukan tudingan, solusi masalah, bukan nasihat.

Sekarang adalah waktu yang tepat untuk mengajarkan ke anak tentang realita hidup, mengambil hikmah, menerima “hasil” sebagai resiko dan bagaimana menyempurnakannya ke depan, sehingga sang anak menyadari bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana, ada saat jatuh dan ada cara bangkit dsb.

Ingat, menasihati anak tentang masa depan adalah baik dan mengajarkan anak untuk realistis juga penting.

Ingin bisa berubah ? KLIK > https://atomic-temporary-10061447.wpcomstaging.com/kesaksian/