Jati Diri ?

Jati diri, ada yang menyebutnya identitas diri ataupun kepribadian merupakan suatu resultante dari sebuah proses pencarian identitas diri yang terus menerus dan baru selesai saat kematian tiba. Proses pencarian jati diri seseorang dapat saja terjadi sepanjang hidupnya, tergantung karakter awal, pola asuh, pendidikan, pengalaman ybs

Pada tahap awal pembentukan jati diri bersifat pasif dan apa adanya. Modelling, meniru, meneladani adalah “cara” paling primitif dan mudah untuk dilakukan siapapun sejak lahir. Posisi diri adalah dalam posisi “objek” atau posisi korban orang orang disekitar kita (dibimbing, diarahkan, diatur). Dengan demikian kualitas model, orang tua, lingkungan turut menentukan pembentukan jati diri seseorang.

Seiring dengan berjalannya waktu, posisi “objek/korban” berangsur angsur berubah menjadi posisi “subjek/pelaku” dan mulailah aspek aspek ke “aku” an berperan (belajar membuat keputusan, mengambil resiko, dsb.). Proses pencarian jati diri, dirasa paling kuat saat puber / baliq.

Melalui siklus mengalami, memory, menghadapi kembali, mempersepsikan ulang, menyimpulkan, menyimpan sebagai pengalaman baru menjadikan peneguhan atas sikap dan perilaku seseorang. Secara parsial kebiasaan baik ataupun kebiasaan buruk turut menentukan “warna” jati diri seseorang.

Dalam skala yang lebih besar, jati diri akan tumbuh dalam bentuk kebiasaan keluarga, adat, budaya lokal dan akhirnya jati diri” bangsa.

Hanya saja, dulu kebiasaan, adat, budaya difahami sebagai sesuatu yang “given” atau sudah dari sononya, akan tetapi sesungguhnya kesemua hal tersebut dapat di “rekayasa”, diubah sesuai dengan nilai nilai positif yang kita inginkan.

Semakin awal seseorang menemukan jati dirinya, semakin awal pula mencapai kemuliaannya.

Ingin cepat berubah? KLIK > https://servo.clinic/alamat/