Jati Diri ?

09/03/2007

  

Jati diri, ada yang menyebutnya identitas diri ataupun kepribadian merupakan suatu resultante dari sebuah proses pencarian identitas diri yang terus menerus dan baru selesai saat kematian tiba. Proses pencarian jati diri seseorang dapat saja terjadi sepanjang hidupnya, tergantung karakter awal, pola asuh, pendidikan, pengalaman ybs

Pada tahap awal pembentukan jati diri bersifat pasif dan apa adanya. Modelling, meniru, meneladani adalah “cara” paling primitif dan mudah untuk dilakukan siapapun sejak lahir. Posisi diri adalah dalam posisi “objek” atau posisi korban orang orang disekitar kita (dibimbing, diarahkan, diatur). Dengan demikian kualitas model, orang tua, lingkungan turut menentukan pembentukan jati diri seseorang.

Seiring dengan berjalannya waktu, posisi “objek/korban” berangsur angsur berubah menjadi posisi “subjek/pelaku” dan mulailah aspek aspek ke “aku” an berperan (belajar membuat keputusan, mengambil resiko, dsb.). Proses pencarian jati diri, dirasa paling kuat saat puber / baliq.

Melalui siklus mengalami, memory, menghadapi kembali, mempersepsikan ulang, menyimpulkan, menyimpan sebagai pengalaman baru menjadikan peneguhan atas sikap dan perilaku seseorang. Secara parsial kebiasaan baik ataupun kebiasaan buruk turut menentukan “warna” jati diri seseorang.

Dalam skala yang lebih besar, jati diri akan tumbuh dalam bentuk kebiasaan keluarga, adat, budaya lokal dan akhirnya jati diri” bangsa.

Hanya saja, dulu kebiasaan, adat, budaya difahami sebagai sesuatu yang “given” atau sudah dari sononya, akan tetapi sesungguhnya kesemua hal tersebut dapat di “rekayasa”, diubah sesuai dengan nilai nilai positif yang kita inginkan.

Semakin awal seseorang menemukan jati dirinya, semakin awal pula mencapai kemuliaannya.

Ingin Cepat Berubah ? KLIK > http://servoclinic.com/kesaksian/

Iklan

10 Responses to “Jati Diri ?”

  1. Fist Says:

    Mas Isywara saya mau tanya nih,

    1. Biasanya proses pencarian Jati Diri itu berapa tahun kah..?
    2. Sejak 2,5 tahun belakangan ini sifat saya seperti terkekang oleh sesuatu yang berlainan dengan sifat saya yang lain, kenapa ya pak..?
    3. Bagaimana menyiasatinya agar saya dapat menjadi diri sendiri Be Our Self?

    Sekian pertanyaan dari saya. saya sangat mengharapkan pencerahan dari Mas Isywara. Terimakasih.

    Salam

    • Servo Clinic Says:

      Fist yang lagi nyari Jati Diri ?

      Proses pencarian jati diri seseorang dapat saja terjadi sepanjang hidupnya, tergantung karakter awal, pola asuh, pendidikan, pengalaman ybs.

      Proses pencarian jati diri, dirasa paling kuat saat puber / baliq (sekitar usia 11 tahun) yaitu saat terjadi pergeseran posisi objek (dibimbing, diarahkan, diatur) menjadi posisi subjek (belajar membuat keputusan, mengambil resiko, dsb.).

      Cara paling cepat menemukan jati diri adalah dengan “hadapi” setiap persoalan dan apapun hasilnya, terima sebagai resiko. Karena memang hanya dengan tantanganlah seseorang menjadi tumbuh dan menuju pada kemuliaan.

      Semakin awal seseorang menemukan jati dirinya, semakin awal pula mencapai kemuliaannya.

      Jika belum menemukan juga, hubungi S.E.R.V.O Clinic, Sekarang !.

  2. Fist Says:

    Terimakasih sebelum dan sesudahnya Mas Isywara…

    Sebelum Saya berubah menjadi pribadi yang lain ini, saya sebelumnya memang selalu mengahadapi masalah apapun, baik masalah Mental, Begitu Juga dengan Fisik…karena dengan bertindak seperti itu sayapun seperti memiliki sesuatu yang seperti teman bagi saya, dan saya juga merasa terlindungi karenanya…..Mental itu seperti sahabat dan pelindung buat saya, sehingga saya merasa nyaman dan percaya diri.

    Lalu entah kapan perasaan nyaman dan percaya diri saya hilang, tanpa saya sadari. Ketika umur 21-an saya tersadar bahwa saya menjadi pribadi yang berbeda, sama sekali tidak tersisa kepribadian yang dulu saya miliki dan yang saya banggakan….seperti tulang yang nyaris tidak mempunyai tulang untuk sanggahan mentalnya…

    Kalau boleh saya tahu dimana saya dapat mendapatkan buku tentang memperbaiki mental dan kepercayaan diri.
    Nama Pengarang,…..Terbitan,……dan mendapatkannya dimana ?

    Terimakasih saya kepada Bapak Isywara untuk yang kedua kalinya.

    Salam saya,
    Achmed

    • Servo Clinic Says:

      Fist yang ingin Berubah.

      Setiap orang selalu mengalami perubahan.

      Hanya saja yang perlu dipastikan apakah berubah menjadi lebih baik atau berubah menjadi lebih buruk. Lihat artikel : Mekanisme Problem.

      Dari pengalaman saya memberikan terapi, dapat saya yakinkan bahwa selalu ada solusi untuk setiap problem psikis. Syaratnya “kebutuhan” berubah harus datang dari diri kita sendiri.

      Tentang buku buku yang direkomendasikan, hampir kebanyakan buku buku yang mengupas tentang Kecerdasan Emosi, Motivasi, Kesuksesan, Pemrograman Otak Kanan memiliki keunggulan dan keunikan masing masing..

  3. desi apria... Says:

    Assalmkum…..Bp. Isywara

    *Pada tahap pembentukan jati diri bersifat pasif dan apa
    adanya, tlng jelaskan maksud dari itu ? & tolong berikan contohnya…

    * Untuk pembentukan jati diri, cara yg plng mudah yaitu dgn meniru &meneladani..trs bagaimana saat kita meniru dan meneladani seseorang…Qt malah tenggelam dalam keribadian orang itu…dan malah bukan menjadi diri sendiri, pikiran Qt selalu pd orang itu..& terkadang hal itu mbuat kita pusing.

    *Gmn cara memperkuat jati diri ? Apakah kepribadian bisa berubah ?&bagaimana cara
    mengatasi kelebihan dan kekurangan Qt?

    O ya apakah jati diri itu penting…trs gmn dgn seseorang yg tdk memikirkan jati dirinya ?

    #Terimakasih sebelumnya..,WssL@m.

    • Servo Clinic Says:

      Sebagai tumpuan kasih sayang orang tua dan lingkungan disekitarnya secara otomatis menempatkan anak pada posisi objek (korban).

      Itu sebabnya ditahap awal bersifat pasif dan apa adanya tergantung kualitas input yang orang tua, teman main dan guru berikan. Kalau yang diajarkan adalah tentang kekerasan maka si anak berpotensi dekstruktif.

      Yang ditiru (modelling) adalah spiritnya bukan asesorisnya misal semangat juangnya, sikap suka menolongnya, sikap profesionalnya, sikap tepat waktunya dsb.

      Cara memperkuat jati diri dengan selalu menetapkan tujuan atau target kemudian bersabar, ambil hikmah dan ubah cara. Jika hasil belum sesuai dengan yang diinginkan, ulangi terus siklus tsb. sampai hasil yang diinginkan tercapai dan jika sudah tercapai bersyukur kemudian tetapkan tujuan atau target berikutnya.

      Kepribadian bsa diubah hanya jika kita ijinkan.

      Berfokuslah hanya pada kelebihan yang kita miliki dan ambil hikmah terhadap kekurangan yang kita miliki.

      Jati diri adalah identitas diri yang membuat kita menyukai diri kita sendiri (bersyukur).

  4. Joe Tanto Says:

    Saya selalu mncoba untuk menjadi diri saya sendiri, tapi orang-orang di sekitar saya mengatakan saya ini “sok” dalam segala bidang. Tapi saya merasa saya tidak seperti itu !

    Apa yang harus saya lakukan, ketika saya harus hidup ditengah-tengah orang-orang yang membenci saya ini ?

    Akankah saya menemukan diri saya yang sesutuhnya ? Dan satu hal lagi, Saya selalu bisa memecahkan persoalan orang lain tapi saya tidak bisa memecahkan persoalan saya sendiri, bahkan saya ingin kabur dari masalah tersebut.

    • Servo Clinic Says:

      Yang bisa kita kendalikan (baca : ubah) adalah yang dalam zona kendali kita yaitu diri kita sendiri, sedang “pikiran” orang lain termasuk diluar zona kendali kita.

      Namun demikian orang lain tsb. tetap masih dapat kita pengaruhi. Caranya, perluas zona kendali kita dalam hal berkomunikasi seperti kemampuan membaca timing, kemampuan ber-argumen, kemampuan persuasi dsb.

      Perbaiki pula konsep diri kita. Lihat artikel : Konsep Diri.

  5. habibi2015 Says:

    nama saya dini umur 25t th,sudah menikah selama 7th.mempunyai 2 anak
    mas saya mau tanya
    dalam hari hari yg saya alami selama 2th
    belakangan ini sifat saya 100% persen berubah,selalu berprasangka buruk tidak bisa mengontrol emosi saya sendiri,itu pun karena saya mempunyai masalah yg tak terselesai kn.karena saya pernah mendengar telingah sendiri orang mencerita kan kejelek an diri saya,menertawa kan saya, saya menjadi mudah marah, kadang saya bertanya kepada diri saya sendri apa salah saya sampai orang begitu,saya jdi mudah sensitif padahal pemikiran dan pendapat saya selalu positif,mudah tersinggung,saya menjadi was was,tidak pd,malu di depan orang ramai mudah panik,tidak bisa mendengar suara2 keras,kalaw orang ngomong sma saya dgn suara keras saya kaget,napas tidak beraturan.sering sesak nafas padahal sya tidak mengidap penyakit asma.saat marah saya marah selalu melampias kn k anak saya.kadang saya sadar keadaan sya seperti itu.saya menjadi tidak terkontrol.
    saya kepingin berubah dan mendapat kn jati diri saya sebenar nya.
    yg saya takut kan berpengaruh dengan pertumbuhn anak2 saya klw berkepribadian negatif,saya ingin berubah dan dlm sadar saya ingin menjadi kembali seperti diri saya dulu yg baik bermasyarakat.bagaimana saya bisa kembali seperti diri saya dulu yang bnyak berteman .,ramah penyayang?

    • Servo Clinic Says:

      Apa yang ibu Dini rasakan biasa disebut sebagai kehilangan jati diri.

      Hambatan pribadi tersebut bisa jadi sudah cukup lama terbentuk akibat pola asuh, trauma masa kecil, persepsi yang terbalik, masalah yang tidak terselesaikan dsb dan menjadi aktif saat dipicu oleh peristiwa ekstrim 2 tahun yang lalu.

      Sebaiknya diterapi !


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s