Ada bermacam macam tipe orang tua dalam “memfasilitasi” masa depan anaknya.
Ada yang bersikap cuek ataupun memberikan kepercayaan penuh pada sang anak tentang bidang pendidikan / pekerjaan apa yang akan ditekuni anaknya kelak, namun ada pula yang “mengarahkan” hingga “memaksakan” anak mengambil jurusan tertentu yang notabene merupakan keinginan (obsesi) tersembunyi dari orang tuanya yang tidak kesampaian.
Namun sikap memaksakan kehendak tersebut sering menimbulkan masalah emosional pada sang anak di kemudian hari karena si anak merasa “terpaksa” menjalani sesuatu yang bukan keinginannya sendiri. Selanjutnya mudah ditebak bahwa anak tersebut akan tumbuh menjadi pribadi yang sangat menderita dan sulit berprestasi.
Walau “salah jurusan” belum tentu selalu disebabkan oleh kehendak orang tua, misal pada kasus sekedar “mengikut teman”, tidak memiliki informasi yang cukup sebelum memutuskan jurusan yang akan diambil, asal kuliah / bekerja atau karena mendapatkan pengalaman buruk atas pilihan sendiri, namun situasi tersebut berpotensi membuat seseorang selalu “menghindar” dan masuk ke siklus “uzur” yang semakin memperburuk keadaan.
Tidak jarang perasaan tidak bahagia tersebut berkembang menjadi perasaan minder, tidak mampu, tidak berdaya, benci pada diri sendiri, benci pada kehidupan, merasa kalah, gagal, putus asa, depresi kronis dan terkadang disertai keinginan bunuh diri.
Tentu saja bila sampai hal “paling buruk” terjadi pada putra kesayangan kita maka tujuan orang tua bekerja keras dan menyayangi anak menjadi hal yang sia sia. Bukankah pendidikan, pekerjaan, kehidupan pernikahan hanyalah “alat” seseorang untuk mengenal jati-dirinya sendiri dan sebagai sarana mengaktualisasikan dirinya.
Sebaliknya seorang anak yang tumbuh bahagia dan tau apa yang diinginkan dirinya berpeluang tau apa yang dinginkan orang tuanya sekaligus membahagiakan dirinya.
Ingin kembali nyaman? KLIK > https://servo.clinic/alamat/