Salah Jurusan ?

Ada bermacam macam tipe orang tua dalam “memfasilitasi” masa depan anaknya.

Ada yang bersikap cuek ataupun memberikan kepercayaan penuh pada sang anak tentang bidang pendidikan / pekerjaan apa yang akan ditekuni anaknya kelak, namun ada pula yang “mengarahkan” hingga “memaksakan” anak mengambil jurusan tertentu yang notabene merupakan keinginan (obsesi) tersembunyi dari orang tuanya yang tidak kesampaian.

Namun sikap memaksakan kehendak tersebut sering menimbulkan masalah emosional pada sang anak di kemudian hari karena si anak merasa “terpaksa” menjalani sesuatu yang bukan keinginannya sendiri. Selanjutnya mudah ditebak bahwa anak tersebut akan tumbuh menjadi pribadi yang sangat menderita dan sulit berprestasi.

Walau “salah jurusan” belum tentu selalu disebabkan oleh kehendak orang tua, misal pada kasus sekedar “mengikut teman”, tidak memiliki informasi yang cukup sebelum memutuskan jurusan yang akan diambil, asal kuliah / bekerja atau karena mendapatkan pengalaman buruk atas pilihan sendiri, namun situasi tersebut berpotensi membuat seseorang selalu “menghindar” dan masuk ke siklus “uzur” yang semakin memperburuk keadaan.

Tidak jarang perasaan tidak bahagia tersebut berkembang menjadi perasaan minder, tidak mampu, tidak berdaya, benci pada diri sendiri, benci pada kehidupan, merasa kalah, gagal, putus asa, depresi kronis dan terkadang disertai keinginan bunuh diri.

Tentu saja bila sampai hal “paling buruk” terjadi pada putra kesayangan kita maka tujuan orang tua bekerja keras dan menyayangi anak menjadi hal yang sia sia. Bukankah pendidikan, pekerjaan, kehidupan pernikahan hanyalah “alat” seseorang untuk mengenal jati-dirinya sendiri dan sebagai sarana mengaktualisasikan dirinya.

Sebaliknya seorang anak yang tumbuh bahagia dan tau apa yang diinginkan dirinya berpeluang tau apa yang dinginkan orang tuanya sekaligus membahagiakan dirinya.

Ingin kembali nyaman? KLIK > https://servo.clinic/alamat/

4 pemikiran pada “Salah Jurusan ?

  1. Pak, saya seorang mahasiswa, merasa amat sangat salah jurusan sekali.

    Sampai sekarang, saya bingung kenapa saya dulu pilih jurusan keperawatan. Mungkin juga karena faktor dari orang tua.

    Saya benci banget dengan jurusan ini. Saya fobia dengan hal2 yg berhubungan dengan rumah sakit.. Saya jadi malas kuliah, padahal saya dulu adalah anak yang rajin.

    Saya strezz berat. Saya minatnya di jurusan gizi. Saya sering iri dengan teman2 yang di jurusan gizi.

    Sekarang saya menyesal sekali.. Saya jd berubah total.

    Saya merasa tidak cocok dengan keperawatan, karena saya tipe orang yg bingungan. Saya lebih cocok di jurusan yang dibalik layar.

    Saya gampang muntah bila mencium bau2 yg aneh..bahkan hanya melihat hal2 yg aneh pun saya ingin muntah, termasuk melihat pasien di rumah sakit. Saya pun ga berminat melihat darah, jarum suntik, infus, pasien kesakitan. Saya benci semua itu.

    Saya malah lebih suka membaca pelajaran2 teman saya yang kuliah di gizi. Saya sangat menyenanginya.

    • Mbak Anjar yang ingin jadi Ahli Gizi.

      Silahkan lihat artikel : Tinggalkan atau Ubah Minat Anda.

      Jika dipilih yang pertama bicarakan baik baik dengan kedua orang tua dan alasannya. Jika perlu minta bantuan dosen pembimbing untuk menjelaskannya.

      Jika yang dipilih yang kedua, Anda dapat meminta bantuan profesional.

  2. Apa saya salah jika saya memilih yang pertama?

    Orang tua saya sudah mengetahuinya dan ayah saya berkomentar “ya terserah”. Saya sudah ga berminat di jurusan keperawatan.

    Untuk menerima pelajaran saja saya lemah. Saya memang lemah dengan hal2 yang berbau medis, pdhl seorang perawat harus sigap & cepat berpikir, sementara saya kurang mampu untuk itu. Saya lebih nyaman bekerja di balik layar dimana saya berhadapan dengan 1 atau 2 orang saja.

    Kalaupun saya pindah jurusan, saya pindahnya ke D3 gizi, sementara saya sekarang di S1 keperawatan Fakultas Kedokteran. Di Fakultas ini ada 3 jurusan,,S1 gizi kesehatan,,S1 keperawatan,,S1 pendidikan dokter.

    Kalau pindah ke S1 gizi kesehatan jelas tidak mungkin. Saya bisa jadi obyek pembicaraan dan saya harus kuliah dengan adik kelas.

    • Mbak Anjar yang ingin jadi Ahli Gizi.

      Syukurlah jika orang tua Anda sudah memahami problem Anda. Keputusan selanjutnya ada di tangan Anda.

      Rasa malu karena harus kuliah dengan adik kelas dan merasa seolah olah menjadi obyek pembicaraan dapat dihilangkan dengan bantuan terapi.

      Selamat belajar mengambil resiko dari sekarang !

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s