Pertanyaan seputar Fobia atau Phobia ?

12/03/2007

1. Apa yang dimaksud dengan Fobia ?

Fobia adalah rasa ketakutan yang berlebihan terhadap sesuatu hal atau fenoma tertentu. Biasanya merupakan reflek kebiasaan yang sifatnya spontan, tidak normal dan tidak terkendali.

2. Bagaimana ciri ciri Fobia ?

Ciri ciri psikis biasanya muncul rasa cemas atau panik, tetapi tanpa dasar yang jelas. Sedangkan pada ciri ciri fisik gemetar, jantung berdebar debar, terkadang disertai nafas yang tersengal sengal.

3. Pada situasi seperti apa dan kapan Fobia dapat terbentuk ?

Fobia terbentuk oleh sebuah pengalaman buruk yang sangat ekstrim ataupun rentetan peristiwa yang sangat menakutkan (traumatik) dimasa lalu. Rentang waktu terbentuknya Fobia dapat dimulai sejak kanak kanak seperti trauma kelahiran (birth trauma) hingga dewasa seperti trauma terjebak lift.

4. Mengapa Fobia sangat merugikan ?

Pada kebanyakan orang fobia tidak dianggap penting atau mengganggu dirinya. Terutama pada fobia yang mudah dihindari seperti fobia cacing, fobia kecoak dsb. Bahkan sering menjadi bahan tertawaan sesama teman.

Akan tetapi pada fobia yang berhubungan langsung dengan pekerjaan seperti fobia lift, fobia ketinggian, fobia lalu lintas dsb. akan sangat menganggu produktifitas ybs. Bahkan berpotensi menghambat karir seseorang. Seorang teman bahkan pernah menolak sebuah perusahaan yang akan memberikan bayaran 10 kali lipat dari gaji yang sekarang saat tau aktifitas utamanya sering meninjau cabang perusahaan diseluruh dunia. Belum lagi level karir yang otomatis terhenti pada level mental yang sanggup ditanggungnya.

Persoalan lainpun dapat muncul jika “pola respon” fobia yang biasanya “lari dari masalah”, dipakai tanpa sadar oleh ybs. dalam merespon hal lainnya seperti persoalan keluarga, kesehatan, keuangan dsb. Biasanya energi ybs. akan menjadi sangat terkuras karena selalu merespon setiap masalah dengan cara yang salah.

5. Bagaimana cara menghilangkan Fobia ?

Pertama tama ybs. harus mengenali terlebih dahulu penyebab fobia. Pada kasus kasus tertentu bisa jadi sumber masalah tidak dikenali, hal tersebut disebabkan ybs. tidak ingin mengingatnya kembali karena peristiwanya sangat traumatik ataupun sudah lama terjadi.

Salah satu cara yang dapat membantu mengurangi fobia adalah dengan cara desensitisasi (pembiasaan). Penyebab fobia / sumber fobia didekati (desensitisasi) secara bertahap . Namun hal ini biasanya memerlukan tekad yang sangat kuat dan makan waktu.

Cara lain adalah dengan menimbulkan emosi lain / motif lain yang lebih kuat seperti motivasi uang pada “Fear Factor”. Atau saat dipuncak ketakutan naik Roaler Coaster. Walaupun perubahan dapat berlangsung cepat, namun hal ini perlu keberanian yang tinggi.

Atau dengan cara melakukan self hipnosis. Dalam keadaan relaks, diri menyediakan diri untuk melepaskan emosi negatif yang terkunci (katarsis). Namun hal ini memerlukan ketrampilan melakukan self hipnosis terlebih dahulu.

Jika usaha secara pribadi sudah dilakukan namun belum juga berhasil, Anda dapat meminta bantuan seorang Servotherapist.

Siapa yang mengalami juga ? KLIK > http://servoclinic.com/kesaksian/

Iklan

14 Responses to “Pertanyaan seputar Fobia atau Phobia ?”

  1. Wulan Says:

    Pak, bisa minta contoh kasus gak ?

  2. Tia Says:

    Saya karyawati 25 tahun.

    Sepertinya saya mengalami necrophobia/thantophobia atau takut mati.

    Ini semua bermula dari email yang saya terima tentang seseorang meninggal tanpa sempat sholat, hal tsb selalu bermain di kepala saya. Sejak itu saya jadi ketakutan sendiri dan tidak bisa konsentrasi ke yang lain.

    Walaupun saya berusaha menenangkan diri dengan sholat dll tetap saja ketakutan itu muncul ditambah lagi kalo mendengar/membaca berita mengenai hal tsb.

    Saya jadi putus asa dan jadi pesimis karena fobia itu. Apakah fobia saya bisa di atasi. Bagaimana cara mengatasinya. Apakah Servo Center buka di Balikpapan ?

    Kalau ada, tarifnya mahal gak untuk sekali konsultasi.

    Terimakasih.

    • Servo Clinic Says:

      Mbak Tia yang ingin Sembuh.

      Kemungkinan mbak Tia memiliki sifat perasa / sensitif yang kuat sehingga mudah menerima sugesti apapun baik positif ataupun negatif. Walau demikian sifat tersebut akan sangat bermanfaat jika mbak Tia tau cara menggunakannya yaitu menggunakan sifat “perasa” hanya untuk hal yang baik dan menyenangkan saja. Misal : mensyukuri kesehatan, anugerah rezeki, keluarga harmonis dsb, selebihnya harus pakai “pikiran”. Insya Allah problem mbak Tia dapat diatasi.

      Saat ini S.E.R.V.O Clinic belum memiliki cabang di Balik Papan.

      Apabila merasa belum juga terbantu, silahkan hubungi S.E.R.V.O Clinic !

  3. Unknown Says:

    Fobia itu kan macam-macam, dan banyak bgt jenisnya, apa fobia itu ada di level tak hingga (tak terhitung) jadi selalu up to date ?

    Ada ga fobia yang bener2 parah, sampai mengakibatkan si penderita harus dapat perawatan khusus ?

    Fobia dan takut itu kan bedanya tipis, ada lagi ga yang bener2 bisa ngeyakinin kita itu sekedar ktakutan biasa atau sudah pada taraf fobia ?

    • Servo Clinic Says:

      Betul !

      Subjek Fobia dapat apa saja mulai dari yang nyata sampai yang tidak nyata.

      Walau subjek Fobia bisa macam macam, namun mekanisme terbentuknya Fobia mengikuti pola yang sama.

      Semakin sering seseorang terpapar dengan sumber Fobia dapat semakin memperparah Fobia. Hal tersebut disebabkan emosi negatif yang terkunci semakin lama semakin menumpuk mengikuti siklus uzur.

      Fobia yang semakin parah berpotensi menimbulkan psikosomatis yaitu keluhan fisik akibat problem psikis bahkan terkadang disertai depresi pada diri ybs.

      Perbedaannya, pada takut yang normal “sumber takutnya” riil seperti takut pada hewan berbisa dsb. sedang fobia sumber takutnya sering kali tidak lazim dan tidak terkendali misal fobia pada cacing, pada keramaian dsb.

      Saran : Untuk Fobia yang berhubungan dengan aktifitas sehari hari seperti belajar, pekerjaan, sosial, keluarga dsb. sebaiknya di terapi pada kesempatan pertama, karena dapat mengganggu produktifitas sehari hari !

  4. Mala Says:

    Dear Isywara Mahendratto

    Saya Mala, umur 26 tahun.

    Saya tidak bisa naik sepeda, motor dan mobil. Saya sudah belajar naik sepeda, tapi gak bisa2. Apakah ada hubungan dengan fobia masa kecil ?.

    Saya juga sudah belajar naik mobil, tapi masih belum percaya diri juga. Kata orang tangan saya masih gak stabil ?

    Tahun lalu saya baru selamat dari sebuah kecelakaan cukup parah dan itu makin mengganggu saya. Apakah saya fobia ? karena ketidakbisaan saya ini sangat menghambat karir saya.

    Terima kasih.

    • Servo Clinic Says:

      Jika telah berusaha namun tetap sulit, kemungkinan secara mental telah terbentuk hambatan psikis (mental block) dalam hal naik kendaraan.

      Dapat dikatakan fobia berkendara, jika sewaktu mencoba berkendara, muncul rasa cemas, gugup, panik, takut dsb.

      Khusus fobia yang berhubungan dengan pekerjaan seperti takut lift, takut presentasi, takut keramaian, takut naik kendaraan dsb. sebaiknya diterapi pada kesempatan pertama karena berpotensi menghambat karir dan masa depan.

  5. Meiti Says:

    Selamat Siang Bapak Isywara M,

    Saya ingin konsultasi bagaimana cara menghilangkan phobia saat ujian…

    Begini saya sedang S2. Setiap selesai mau ujian dan berkas soal mau dikumpulkan, saya sangat ketakutan sekali apakah nama, nomor induk mahasiswa, dan urutan no soal sudah tertulis apa belum, sampai saya harus membuat salinan di kertas selembar.

    Tapi walaupun sudah disalin ulang, saya masih belum yakin, sampai saya harus mendatangi kantor jurusan dan minta cek kembali.

    Saya jadi malu dengan staf administrasinya. Bagaimana ya Pak ?

    Sekarang saya jadi malas belajar, bukan soa2 ulangan yang saya takuti, tapi hal2 tersebut diatas ?

    Apakah saya harus menemui seorang psikologi atau psikiater ?

    Adik saya punya ide untuk menggunakan kertas karbon per ujian dan saya sangat setuju.

    Mungkin untuk orang lain hal tersebut sangat berlebihan.

    Saya dulu tahun 1997 punya trauma, lupa mencantumkan no peserta UMPTN dan saya harus menemui panitia UMPTN untuk menulis no peserta ujian.

    Apakah seorang psikolog/psikiater bisa memberikan surat keterangan ke perguruan tinggi tentang perihal saya ini untuk menggunakan kertas karbon setiap ujian ?

    Terima kasih banyak.

    • Servo Clinic Says:

      Problem yang mbak Meiti alami, apabila berhubungan dengan takut lupa menulis identitas biasa disebut Amnesiphobia sedang kebutuhan mengecek berulang ulang apakah identitas telah ditulis lengkap, biasa disebut Obsesif Kompulsif. Lihat artikel berikut : Obsesif Kompulsif.

      Hal tersebut hampir pasti disebabkan oleh peristiwa traumatis tahun 1997 saat Mbak Meiti lupa mencantumkan nomer peserta UMPTN, akibatnya emosi terkunci (mengalami fiksasi) pada peristiwa tersebut sehingga setiap mbak Meiti menemukan situasi yang mirip dengan peristiwa tersebut (ujian) secara otomatis terpanggil kembali (regresi) ke peristiwa tersebut.

      Berita baiknya hal tersebut dapat dipulihkan. Sebaiknya terapi !

  6. Echa Says:

    Ada ga sih phobia takut untuk prcaya kpd org lain ?

    Kalau ada, apa istilahny dan sperti apa kasusnya ?

    • Servo Clinic Says:

      Saya belum menemukan istilah yang sesuai dengan yang Mbak Echa maksudkan, tetapi takut secara berlebihan untuk percaya kepada orang lain akibat trauma pernah dibohongi oleh seseorang dapat juga dikategorikan sebagai fobia.

      Memang ada istilah Xenophobia yaitu takut terhadap orang asing, namun apabila yang Mbak Echa maksudkan adalah curiga yang berlebihan pada orang lain silahkan lihat artikel : Paranoid.

  7. Prasetiyo Says:

    Saya mau bertanya.
    Saya baru belajar naik motor saat dibangku sekolah SMA, dikarenakan orang tua tidak mengizinkan dengan alasan belum cukup umur. Dalam beberapa bulan saya sudah bisa mengendarai motor, Tapi masalah saya adalah selalu tidak Percaya diri terhadap kemampuan saya dalam mengendarai motor sehingga menimbulkan perasaan gugup dan membuat konsentrasi saya jadi hilang. Pertanyaan saya apa masalahnya sehingga timbul perasaan seperti itu Dan apa solusi menghilangkan perasaan yg sangat mengganggu says itu?

    • Servo Clinic Says:

      Secara alami, semakin sering kita berkendara secara otomatis akan semakin meningkatkan keterampilan berkendara dan secara otomatis pula akan meningkatkan rasa percaya diri kita.

      Sementara perasaan tidak percaya diri yang sebelumnya Anda rasakan, lebih disebabkan oleh mekanisme pertahanan diri Anda yang menyangkal bahwa Anda saat ini telah mampu berkendara dengan baik dan layak.

      Jadi, terimalah kenyataan bahwa Anda saat ini telah mampu berkendara dengan baik dan layak !


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s