Sukses Presentasi ?

Sekilas, berpidato ataupun presentasi terlihat sebagai aktifitas yang sangat mudah dan menyenangkan.

Seorang pembicara terampil terlihat dapat dengan mudah menghidupkan suasana ataupun menjawab pertanyaan. Bahkan bagi presenter handal, “deal bisnis” dapat terjadi sebelum presentasi berlangsung.

Namun saat kita mendapatkan kesempatan melakukan aktifitas tersebut ternyata pidato ataupun presentasi dapat menjadi hal yang mengerikan. Berangsur angsur muncul perasaan cemas dan takut sekalipun hari “H” masih beberapa hari lagi. Terkadang disertai debaran jantung yang lebih keras, nafas menjadi pendek dan cepat, leher dan bahu menegang dsb.

Tidak jarang saat tiba waktu pidato, semua materi yang telah dihafal menjadi lupa dan semua hal yang telah dilatih sebelumnya menjadi berantakan. Mengapa hal tersebut dapat terjadi ?

Karena aktifitas berpidato lebih dominan bersifat “mental” ketimbang “nalar”. Menurut penelitian, dalam keadaan spontan maka komposisi sikap yang bekerja sekitar 88 persen mengandalkan insting.

Apabila seorang pembicara pemula diberi kesempatan menyampaikan buah pikirannya sampai selesai terlebih dahulu, kemungkinan tahapan berikutnya menjadi lebih mudah.

Namun berbicara dimuka umum merupakan medan liar yang dapat tiba tiba berubah, bahkan pertanyaan yang muncul terkadang diluar konteks dan sulit dimengerti. Dalam keadaan “spontan” inilah Kecerdasan Emosi seseorang menjadi sangat penting.

Bagaimana seorang pembicara harus tetap memegang “kendali” topik pembicaraan. Bagaimana seorang pembicara harus dapat membaca jalan pikiran si penanya termasuk motivasi penanya. Bagaimana seorang pembicara harus dapat menguasai keadaan sekalipun tidak memiliki jawaban atas pertanyaan.

Bagi seorang yang mengalami “Fobia” berbicara dimuka umum, biasanya audiens dipersepsikan sebagai sekelompok orang yang sedang mengancam dirinya dan dibayangan mental yang bersangkutan wajah si penanya tiba tiba berubah menjadi besar, berwarna dan sangat menakutkan dan setiap pertanyaan yang diajukan seolah “mengadili” sipembicara.

Akibatnya sering jawaban yang diberikan berbeda dengan maksud si penanya. Dalam keadaan terdesak maka si pembacara tidak lagi menyimak maksud pertanyaan dan hanya sibuk dengan pikirannya sendiri sesuai dengan apa apa yang telah dipersiapkan.

Untuk itulah sebelum bagian penjualan mendapatkan pelatihan mengenai “pengetahuan produk”, diperlukan “pemrograman nyali” terlebih dahulu.

Ingin cepat berubah? KLIK > https://servo.clinic/kesaksian/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s