Mempengaruhi Pasangan ?

Dalam kehidupan pernikahan, kadang kita dijengkelkan dengan sikap dan perilaku pasangan.

Sikap menyebalkan tersebut dapat berupa kebiasaan buruk yang remeh seperti meletakkan pakaian kotor atau handuk disembarang tempat, lupa meletakkan kunci mobil dsb. Atau yang agak berat seperti kebiasaan pulang larut, kebiasaan mabuk ataupun ringan tangan.

Repotnya kebiasaan buruk tersebut baru terlihat setelah beberapa tahun pernikahan. Rutinitas perkawinan membuat upaya “jaim” alias jaga image menurun dan sangat kontras sekali dengan saat pacaran. Maklum pada waktu pacaran lagi getol getolnya menarik perhatian.

Apalagi jika kemudian ditambah problem lainnya seperti problem ekonomi, problem pekerjaan, problem ipar & mertua, problem anak dsb. sering kebiasaan kebiasaan buruk tersebut menjadi pemicu pertengkaran yang hebat.

Hal tersebut dapat semakin diperparah oleh ketidak mampuan pasangan untuk saling mengkomunikasikan apa yang dipikirkan dan dirasakan. Akibatnya substansi masalah menjadi melenceng sangat jauh dan yang “dibahas” justru soal harga diri yang diserang.

Tips :

1. Jangan pernah berfikir dapat “merubah” jati-diri pasangan, tetapi hanya sebatas “mempengaruhi”. Kalaupun berhasil memaksa pasangan berubah, kita tidak lagi hidup dengan pasangan yang dulu kita nikahi, melainkan bersama “badut”. Perubahan sejati hanya dapat terjadi jika memang diinginkan oleh yang bersangkutan.

2. Ekspresikan apa yang kita “fikir” dan apa yang kita “rasa” mengganggu pada kesempatan pertama. Tetapi jangan pernah berharap pasangan menanggapi, mengaku salah apalagi “berubah”. Tanggapan tidak penting, tetapi yang penting pesan “nyampe”.

3. Mulailah dengan kata “Saya” bukan “Kamu”, misal :” Saya merasa terganggu dengan asap rokok mas Handsome, mas yang keluar ruangan atau saya ?” Tapi hindari statement :” Mas bagusnya berenti ngerokok deh,” apalagi pernyataan :”Kamu tuh kok nggak sadar sadar sih, mbok brenti ngrokok.”

4. Jangan pernah berfikir “final” dalam mengekspresi keinginan kita. Cobalah terus menerus menyampaikan pesan dengan “cara” yang tepat , waktu yang tepat, pilihan kata yang tepat. Penekanannya justru pada seberapa sering Anda mengulangi mengekspresikan perasaan Anda ketimbang pertanyaan sampai kapan Anda dapat bertahan.

5. Bertanyalah pada yang lebih berpengalaman, baca buku, majalah ataupun mengikuti pelatihan komunikasi, mengambil sesi konsultasi atau terapi. Konsultasi yang di rencanakan bukan berarti karena Anda “bermasalah”, tetapi Anda dapat belajar tentang “cara” mensikapi (atau mensiasati ?) pasangan Anda secara tepat.

6. Yakinkan diri Anda bahwa Anda dapat “mempengaruhi” pasangan Anda (tentunya untuk hal yang positif).

Ingin cepat berubah? KLIK > https://servo.clinic/alamat/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s