Kecanduan Belanja ?

Maraknya konsumerisme serta gaya hidup hedonis menambah daftar panjang jenis jenis kecanduan yaitu kecanduan belanja atau biasa disebut dengan shopaholic atau oniomania.

Beban hidup yang semakin berat, tempo kerja yang semakin cepat, kesulitan hidup yang semakin kompleks, persaingan kerja yang semakin ketat menimbulkan rasa “cemas” yang berlebihan. Belum lagi jika kecemasan tersebut disebabkan oleh trauma masa lalu ataupun sugesti negatif yang terus dipupuk.

Kebutuhan manusia akan “rasa nyaman” inilah yang dimanfaatkan bahkan dieksploitasi oleh para kapitalis sebagai tambang emasnya dengan cara membobardir konsumen dengan berbagai iklan produk (jika perlu dengan pencitraan yang menyesatkan) sehingga konsumen menjadi ketagihan dan menjadikan belanja sebagai sarana pelepasan ketegangan (katarsis).

Untuk mengetahui apakah Anda tergolong shopaholic atau tidak, ada sejumlah pertanyaan yang harus Anda jawab. Bubuhkan kata “Benar” atau “Salah” pada masing-masingnya.

1. Ketika saya merasa tertekan, biasanya saya belanja.

2. Saya menghabiskan banyak uang untuk barang yang tidak saya miliki namun tidak saya butuhkan.

3. Saya merasa gila saat saya berbelanja tapi setelah itu saya tidak terlalau peduli akan barang yang saya beli.

4. Saya memiliki banyak pakaian yang tidak pernah saya pakai dan sejumlah perkakas/alat yang tidak terhitung jumlahnya dan saya tidak pernah menggunakannya.

5. Saya sering merasa sembrono/gila-gilaan dan lepas kontrol ketika saya berbelanja.

6. Saya sering berbohong kepada teman-teman dan keluarga tentang uang yang saya habiskan.

7. Saya merasa sangat kacau dan terganggu dengan kebiasaan berbelanja yang saya lakukan

8. Setelah belanja gila-gilaan, saya kadang merasa hilang orientasi dan tertekan.

9. Sekalipun saya merasa sangat bingung tentang utang-utang saya, saya tetap berbelanja.

10. Kegiatan berbelanja saya banyak disebabkan masalah hubungan dengan diri sendiri atau pun dengan orang lain.

Apakah Anda menjawab “benar” sebanyak empat kali atau lebih dari pernyataan-pernyataan di atas? Jika ya, tampaknya Anda memiliki masalah yang serius dengan nafsu belanja.

Jika kebanyakan jawaban Anda atas pernyataan kuis ini “benar”, mungkin Anda membutuhkan lebih dari sekadar tips-tips yang sifatnya ekonomis untuk mengendalikan pengeluaran Anda.

Jika pola belanja Anda mulai mengganggu kehidupan Anda, pertimbangkan untuk mendatangi seorang profesional terapis. Dia akan membantu Anda untuk mencari tahu mengapa kebiasaan belanja Anda sangat sulit dikendalikan.

Shopaholic biasanya digolongkan sebagai “penyimpangan obsesif-kompulsif” yang dapat disembuhkan dengan bantuan profesional / terapis. (diambil dari berbagai sumber).

Ingin cepat berubah? KLIK > https://servo.clinic/kesaksian/

Iklan

6 thoughts on “Kecanduan Belanja ?”

  1. Pak Is yang baik,

    Istri saya mengalami kecanduan belanja yang parah.
    Apakah bisa saya mendapat jalan keluar dari masalah ini,pak ?
    Bisa minta bantuan jawaban per-email sebelum kami datang untuk konsultasi ?
    Kami ada di Surabaya, pak.

    Kami mengharap response dari bapak.

    Terima kasih

    1. Langkah pertama, pastikan motif berubah datang dari yang bersangkutan, artinya mengikuti terapi karena tidak enak dengan suami adalah dua hal yang berbeda dengan mengikuti terapi karena menginginkan solusi. Jika mengikuti terapi karena menginginkan solusi, Insya Allah peluang pulihnya besar.

      Biasanya, kecanduan belanja hanyalah AKIBAT dari adanya kebutuhan akan zona nyaman karena yang bersangkutan memiliki problem kecemasan. Untuk itu dengan ataupun tanpa bantuan terapis, akar masalah penyebab kecemasannya harus di temukan agar dapat dilakukan perbaikan kebiasaan.

      Saat penyebab kecemasan dihilangkan, secara otomatis kebutuhan akan zona nyaman yang diperoleh melalui belanja jadi hilang / terkendali.

      1. Dear Pak Is,

        Saya juga tidak tahu kecemasannya apa !
        Karena saya sudah mencukupi semua kebutuhannya, bahkan saya siap membantu untuk mengatur pengeluaran harian dengan minta dia diskusi dengan saya saat saya pulang dari kantor tapi istri saya tidak mau.

        Dari analisa saya, dia adalah tipe orang kompulsif, jadi kalau lihat barang yang diinginkan (meskipun sudah punya) dia akan berusaha beli dengan cara apapun.
        Tindakannya ini menimbulkan hutang yang menumpuk dimana-mana, mulai dari teman sekolah, teman di sekolah anak, rentenir, kartu kredit, tukang gadai dll.
        Tabungan yang saya kumpulkan perlahan habis, termasuk uang cadangan untuk sekolah anak-2.

        Rasanya semua celah untuk berhutang selalu dipakai, jika teman-2 sudah tidak ada, dia akan mendekati komunitas baru dan jika sudah akrab akan mulai berhutang lagi. Ini dilakukan bertahun-2 selama kurang lebih 17 tahun perkawinan kita.

        Jadi, sekarang semua surat mobil, tanah, rumah, dan barang-2 lain yang bisa digadaikan saya taruh dikantor. Semua perhiasan yang pernah saya belikan habis dijual.

        Saya rasa, keluarga istri juga pernah minta-2 uang dari dia, jadi karena dia tidak bisa mengelola uang dan mengontrol diri sendiri untuk membelanjakannya, kebiasaan berhutang terjadi terus.

        Ini membuatnya sakit kepala menahun, dan menggunakan obat-2 sakit kepala tingkat dan dosis tinggi termasuk obat penenang, karena dokter saraf yang kami datangi tidak tahu penyebab sakit kepala tsb.

        Istri saya juga dengan mudah memberi uang saku tambahan kepada anak-2 dan membiasakan mereka untuk hidup boros, dan dianggapnya saya yang hanya karyawan swasta bisa terus menghasilkan uang untuk mereka, tanpa memikirkan cadangan di masa tua nanti.

        Mohon bimbingan bagaimana kami bisa keluar dari masalah ini, pak.

        Istri saya juga rasanya mau berubah, tapi tidak tahu bagaimana caranya.

        Terima kasih atas responsenya, pak.

        Salam

      2. Sakit kepala menahun dapat merupakan salah satu indikasi adanya konflik bawah sadar antara rasa bersalah dengan ketidak mampuan mengendalikan keinginan belanja.

        Siklusnya kira kira sebagai berikut : Adanya penyebab kecemasan -> muncul rasa gelisah -> adanya kebutuhan zona nyaman -> menemukan zona nyaman di belanja -> kecanduan belanja -> timbul problem keuangan -> muncul rasa bersalah -> semakin gelisah dst. Jadi kecanduan belanja hanyalah AKIBAT.

        Jika usaha berubah telah dilakukan namun tidak juga berhasil, hal tersebut disebabkan oleh emosi ybs. telah terkunci (fiksasi) pada POLA tersebut, untuk itu, sebaiknya di terapi !

  2. artikel yang bapak tulis sangat menarik…
    mohon pencerahan refrensi yang bapak tulis dalam artikelnya…
    Terima kasih …

    1. Mohon maaf Bung Kevin, referensi untuk topik “kecanduan belanja” memang masih sangat sedikit sekali.

      Jika bung Kevin memilikinya, adakah bung Kevin berkenan sharing ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s