Post Traumatic Stress Disorder ?

Kenangan itu (peristiwa penembakan yang dilakukan oleh Patrick Purdy pada tanggal 17 Februari 1989 di Cleveland Elementary School, di Stockton, California yang menewaskan lima orang anak dan dua puluh sembilan luka luka) terus membayang bayangi dalam wujud mimpi yang menakutkan, menerobos pikiran anak anak yang tidur sendirian.

Selain mimpi mimpi yang mencemaskan yang membuat mereka ketakutan bahwa merekapun akan segera mati. Beberapa anak mencoba tidur dengan mata terbuka agar tidak bermimpi.

Semua reaksi ini dikenal dengan baik oleh para psikiater sebagai gejala utama gangguan stres pasca trauma atau PTSD (post traumatic stress disorder). Pada intinya, kata Dr. Spencer Eth, psikiater anak yang mengambil spesialisasi PTSD pada anak, trauma itu adalah “masuknya ingatan akan tindak kekerasan yang menjadi fokus utama; pukulan akhir dengan kepalan tangan, tusukan sebilah pisau, tembakan senapan. Ingatan merupakan pengalaman persepsi yang hebat-penampakan, bunyi dan bau mesiu; jeritan atau diamnya korban secara tiba tiba; muncratnya darah; dan sirine polisi.”

Momen mengerikan yang hidup ini, menurut para ahli saraf, menjadi ingatan yang menghiasi jaringan sirkuit emosi. Sebetulnya gejala gejalanya itu adalah tanda tanda amigdala yang terlalu banyak tergugah sehingga memaksa ingatan yang hidup akan suatu peristiwa traumatis terus menerus menerobos kesadaran.

Dengan demikian, ingatan traumatis itu menjadi pemicu-rambut mental, siap membunyikan tanda bahaya bila ada isyarat paling lemah bahwa momen yang menakutkan itu akan terjadi sekali lagi. Fenomena pemicu-rambut ini merupakan ciri khas berbagai macam trauma emosional, termasuk akibat penganiayaan fisik secara terus menerus pada masa kanak kanak.

Setiap peristiwa yang menimbulkan trauma dapat menanamkan ingatan ingatan pemicu semacam itu di amigdala; kebakaran atau kecelakaan mobil, terjebak dalam bencana alam seperti gempa bumi atau angin puyuh, diperkosa atau dirampok. Setiap tahun, ratusan ribu orang mengalami bencana semacam itu dan banyak atau sebagian besar yang berhasil lolos memperoleh semacam luka emosional yang tercetak di otaknya.

Sumber : Kecerdasan Emosional, Daniel Goleman, 1996.

Ingin cepat berubah? KLIK > https://servo.clinic/alamat/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s