Tanpa Beban ?

Mengapa tim non-unggulan Piala Uber Indonesia diluar dugaan mampu mengalahkan tim Jepang yang menjadi unggulan pertama di Grup Z ?

Namun demikian, menurut Susy Susanti, manajer tim Piala Uber, dari hasil evaluasi melawan Jepang, pemain Indonesia dinilai masih kerap terlalu bernafsu mengakhiri pertandingan seperti kekalahan Maria dari Eriko Hirose atau Adriyanti Firdasari yang dinilai bisa menang dua set, tetapi karena buru buru, malah kalah di set kedua.

Mengapa pemain Thailand, Tanongsak Saensomboonsuk yang oleh pelatih Udom Luangphetcharaporn tidak ditergetkan untuk menang, berhasil mengalahkan Taufik Hidayat dalam dua set di Piala Thomas Indonesia ?

Demikian pula beban ganda Sony Dwi Kuncoro sebagai pemain kunci dan harapan besar pendukung membuatnya kehilangan konsentrasi dan akhirnya kalah dua set dari Boonsak Ponsana 17-21, 15-21. “Saya sendiri merasa tidak main jelek. Pukulan pukulan saya memang banyak ketebak. Saya hanya sempat mengikuti hingga tiga atau empat poin, selanjutnya saya seperti blank dan tidak tahu harus bagaimana,” ujarnya.

Memang betul, strategi bertanding sangat penting, seperti penempatan pemain yang memperhitungkan “kelas” lawan tanding, menyimpan tenaga untuk partai berikutnya, mengumpan dengan pemain baru dsb., namun yang tidak kalah penting adalah mental bertanding atau kecerdasan emosional sang pemain.

Apa yang membuat pemain pemula ataupun non unggulan tiba tiba bisa mengalahkan pemain unggulan, padahal dari segi tehnik maupun pengalaman bertanding jelas berbeda ?

Tidak adanya “beban” membuat pemain pemula ataupun non unggulan berpeluang mengeluarkan permainan terbaiknya, sementara pemain senior ataupun unggulan seringkali terjebak pada “target” sebagai tujuan sehingga menjadi kehilangan jati diri / keunikan dirinya.

Pemain yang memiliki kecerdasan emosional yang tinggi berpotensi mampu bermain dibawah tekanan pendukung, tidak berbebani oleh target pelatih, dapat mengontrol emosi saat ketinggalan angka, sabar dalam menghadapi rally panjang yang melelahkan dsb.

Penanganan psikologis pemain harus bersifat individual dengan memperhitungkan keunikan dari masing masing pemain, sehingga tidak cukup hanya dengan tehnik motivasi induksi yang menyama ratakan semua pemain. Sebagai contoh, ada pemain yang termotivasi oleh dukungan penonton, namun ada yang justru menjadi stress saat mendengar teriakan penonton.

Pemain harus memiliki motif kemenangan yang objektif bahwa menjadi pemenang karena memang menang itu baik buat dirinya dan tim sehingga bukan karena hadiah ataupun balas dendam atas kekalahan sebelumnya.

Untuk itu kecerdasan emosional pemain seperti motif pribadi pemain, kemampuan pengendalian diri termasuk terbebas dari mental blocking harus di”program” sejak awal pembinaan.

Ingin tanding tanpa beban? KLIK > https://servo.clinic/alamat/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s