Sandiwara ?

Masih juga sehubungan dengan peristiwa Ryan, terjadi diskusi menarik di milis Hypnosis Indonesia :

Bung Eep :

Pada kasus si JAGAL ini, apakah juga terjadi hal yang sama ? (ybs. mencocokkan dengan dirinya, sesuai dengan dirinya dan merasa “perlu” untuk berubah, baru tahap “terapi” di tawarkan).

Dari informasi media televisi, dijelaskan bahwa saat masih duduk di bangku SMP Si JAGAL ini sempat dirawat / dimasukkan ke sebuah RS Jiwa selama 2 minggu (oleh keluarganya), kemudian diperbolehkan pulang oleh dokter karena dianggap sudah baik, artinya sudah dilakukan evaluasi dan mungkin terapi.

Apakah si JAGAL ini pada saat di RSJ tsb berhasil menipu si Dokter RSJ ?

Bagaimana utk mengevaluasi keberhasilan perawatan tsb bagi keluarga ?

Agar kejadian spt si JAGAL tidak terjadi….Ada tip2x khusus gak utk mengenali ciri2x org yg psikopat spt ini ?

Salam
Eep

Tanggapan Pribadi :

Justru disitu letak persoalannya, karena jalan berfikir seseorang
termasuk hal yang berada di luar zona kendali siapapun.

Tidak ada alat evaluasi yang dapat menjamin 100% ybs. tidak akan
mengulang kejahatan. Termasuk uji tes kebohongan, apakah bisa
mendeteksi pada pemain teater kawakan atau seorang psikopat ?

Menurut pendapat saya pribadi, pengendalian yang paling mungkin
adalah monitoring berkelanjutan dari rumah sakit jiwa, tetapi di
Indonesia apa mungkin ?

Pada tingkat dekstruksi tertentu misal kasus istri dokter yang telah
membunuh 3 orang pembantunya atau pembunuhan berantai dapat
berarti pemberlakuan “karantina” seumur hidup.

Jadi vonis sakit jiwa tidak berarti membebaskan pelaku kembali ke
masyarakat karena masyarakat umum pun perlu jaminan bebas dari
ancaman tersembunyi seorang psikopat yang “seolah” sembuh.

Ciri ciri psikopat ? Lihat >> http://id.wikipedia.org/wiki/Psikopat

Hmmmmm…. diskusi yang menarik !

Rekan rekan punya masukan ?

Ingin cepat berubah? KLIK > https://servo.clinic/alamat/

Tinggalkan komentar