Kimia Otak ?

Terjadi pembahasan menarik sehubungan dengan kasus Ryan di milis Hypnosis Indonesia sebagai berikut :

dr. Ferdinand :

Menyinggung tentang pendapatnya pak Isywara, ada sesuatu hal yang
mengganggu pikiran saya…
(agak biomolekuler dikit nih..!!!)

KIMIA OTAK (neurotransmitter) itu sebagai Subyek atau obyek?

Pada penelitian2 Neuroscience, didapatkan adanya perubahan Transmiter
otak pada “gangguan jiwa”. nah…yang duluan yang mana?

1. neurotransmiter mengakibatkan perubahan perilaku atau
2. Perubahan perilaku mengakibatkan perubahan neurotransmiter?

karena konsekuensi dari pernyataan ini sangat mempengaruhi arah terapi.

Ada pendapat dari teman2 sekalian? Ayo…yang maniak2 Biokimia
silahkan unjuk rembuk di sini…

Tanggapan Pribadi :

Dalam pemahaman saya, neurotransmitter dan perilaku bersifat REVERSIBLE dan DINAMIS, kecuali pada kasus psikopat, putus asa dsb.

Jadi komposisi neurotransmitter yang pada tahap awal (bayi)
diturunkan secara genetis, komposisinya dikemudian hari dapat berubah
tergantung dari bagian mana yang lebih banyak mendapat stimulasi,
demikian pula sebaliknya.

Contoh :

1. Bayi pria yang diasuh sebagai anak wanita dikemudian hari
berpotensi berperilaku seperti wanita (waria ?).

2. Penggunaan obat obatan yang bekerja pada susunan syaraf pusat
(SSP) dalam jangka panjang berpotensi menimbulkan perubahan perilaku.

Untuk durasi waktu yang lebih pendek, hal tersebut masih tetap
sejalan dengan prinsip NLP, dimana rangsangan fisik berpengaruh pada
mood seseorang, demikian sebaliknya.

Berbeda pada kasus psikopat, yang dengan sengaja “mematikan”
nuraninya dan “menerima” (baca : putus asa) ketidak laziman seperti
berbohong, merasa tidak bersalah, memanipulasi orang lain, masa bodoh
yang tidak pada tempatnya, tidak mau mengambil tanggung jawab,
bosanan, parasitik, tidak realistis, impulsif, suka melanggar hukum,
ngesek sembarangan, sering bercerai dsb sebagai jatidirinya, bisa
jadi karena merasa selalu menemukan jalan buntu dan “final” sehingga
untuk mereduksi rasa “sakit” tidak ada cara lain kecuali berdamai
dengan ketidak laziman tsb. ?

Atau bisa juga sebagai bentuk hukuman pada diri sendiri karena
menganggap dirinya telah melakukan kesalahan yang tidak terampuni
sehingga sekalian basah karena merasa dirinya sudah “terlanjur”
kotor, “terlanjur” berdosa dsb. ?

Berita baiknya adalah : jika kita masih bisa merasakan ada yang tidak
beres dengan diri misal, stress, cemas, takut dsb. berarti
mengindikasikan kita masih NORMAL. Sehingga rasa cemas, rasa bersalah
berfungsi semacam “warning” alamiah bahwa kita sedang berada pada
jalan yang salah.

Mungkin ada masukan dari rekan lain ?

Ingin cepat berubah? KLIK > https://servo.clinic/alamat/

3 pemikiran pada “Kimia Otak ?

  1. Jakarta, Agustus 2008

    Hal : Nominasi e-Learning Award 2008

    Kepada Yth:

    Pengelola http://servoclinic.com/

    Dengan Hormat.

    Berdasarkan hasil review kami terhadap berbagai web dan blog yang ada di Indonesia, kami beritahukan bahwa situs http://servoclinic.com/ masuk dalam nominasi e-Learning Award 2008 yang diselenggarakan oleh Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan, Departemen Pendidikan Nasional (Pustekkom Depdiknas).

    Untuk keperluan penilaian lebih lanjut yang akan dilakukan oleh Dewan Juri, mohon kiranya anda melengkapi formulir pendaftaran yang dapat didownload di http://www.e-dukasidotnet/elearningaward. Batas pengembalian formulir pendaftaran tanggal 31 Agustus 2008.

    Demikian surat ini kami buat, semoga anda dapat berpartisipasi. Atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih.

    Hormat kami

    Panitia e-Learning Award 2008

    Kontak Person:

    Hendro Gunarto (021-99174560 atau 08128155562)

    Adi Gama (021-92233166 atau 0818686220)

    Pendaftaran kami perpanjang hingga tanggal 31 Agustus 2008

  2. Kalau insight (tilikan) seseorang baik, dalam arti sadar diri jika ada gangguan jiwa dalam dirinya, apakah prognose selalu baik ?

    Apakah juga berarti orang tersebut non-psikosis ?

    • Jika dicermati, definisi serta kriteria DSM-IV-TR tentang berbagai gangguan seperti gangguan makan, gangguan tidur, gangguan seksualitas, gangguan identitas gender, gangguan terkait substansi, gangguan pengendalian impuls, gangguan kepribadian, gangguan psikotik dsb. sama sekali tidak menyinggung apakah gangguan tersebut sesuai dengan egonya (ego sintonik) ataukah tidak (ego distonik) karena memang sangat subjektif. Lihat artikel >> Homoseksual.

      Saya pribadi “melihat” sadar mempunyai masalah dan memiliki keinginan berubah membuat ybs. berpotensi dipulihkan, kecuali pada kasus kelainan genetika, cidera otak, faktor usia atau pada kasus akut. Tinggal lagi seberapa cepat ybs. menemukan “akar masalah” dengan ataupun tanpa bantuan profesional.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s