Pengajaran Matematika Salah Konsep ?

Pengajaran matematika di tanah air saat ini dinilai tidak relevan dengan tren global (Kompas, Kamis, 21 Januari 2010).

“Orientasi pendidikan matematika hanya bertumpu pada knowledge, padahal di banyak negara maju, matematika telah diarahkan pada expert thinking yang mencakup kemampuan analisis, pemecahan masalah dan rasa ingin tahu,” tutur Iwan Pranoto, pakar Matematika dari Institut Teknologi Bandung pada acara diskusi yang diadakan Asosiasi Guru Matematika Indonesia, Rabu, 20 Januari di Bandung.

Menurut pendapat saya pribadi yang sehari hari berkecimpung di bidang terapi, salah konsep pengajaran tidak hanya di bidang Matematika saja, melainkan hampir pada seluruh sistem pengajaran, akibatnya mekanisme pembelajaran yang seharusnya menyenangkan, berubah menjadi beban yang menakutkan.

Dikatakan menyenangkan karena aktivitas tersebut  memiliki mekanisme belajar yang sama saat seseorang belajar naik sepeda ataupun mobil. Yang membedakannya adalah apakah aktivitas yang dilakukan DIINGINKAN ataukah TIDAK oleh pelaku pembelajaran ?

Justru pada tahap inisiasi atau prakondisi inilah peran guru, pembimbing, mentor, orang tua dalam membangun rasa ingin tahu siswa sangat diperlukan. Sama seperti seorang terapis, seorang pembimbing ataupun mentor harus dapat :

  1. memberikan alasan yang kuat mengapa sebuah aktivitas DIINGINKAN
  2. mengajarkan tentang bagaimana harus bersikap, saat hasil yang diinginkan belum tercapai ataupun saat melampaui hasil yang diinginkan serta bagaimana mengontrol hal hal yang berada di luar zona kendali
  3. menjelaskan tentang kapan sebuah perencanaan, analisa, penalaran diperlukan
  4. mengajarkan tentang apa dan bagaimana pengelolaan resiko
  5. menunjukkan tentang kapan penalaran perlu di istirahatkan dan kapan sebuah keyakinan perlu dimunculkan.

Saat seorang siswa telah menyenangi subjek pembelajaran, tugas pembimbingan akan menjadi jauh lebih mudah bahkan hampir tanpa beban sama sekali karena aktivitas pembelajaran telah berubah menjadi kegiatan rekreasi yang menyenangkan.

Jadi tujuan pembelajaran adalah tentang bagaimana seorang anak didik memiliki kemampuan mengenali KEUNIKAN dan KAPASITAS dirinya sehingga “terbiasa” mencapai hasil atau setidaknya mendekati dengan hasil yang diinginkan serta mampu bereaksi secara tepat saat hasil yang diinginkan belum tercapai.

Siapa yang mengalami juga ? KLIK > https://atomic-temporary-10061447.wpcomstaging.com/kesaksian/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s