Kontes Korupsi ?

Seolah sebuah kontes kecantikan, pemberitaan media akhir akhir ini dipenuhi oleh maraknya dugaan penyalah gunaan wewenang serta korupsi secara silih berganti.

Mulai dari dugaan kasus suap anggota DPR yang tidak terhormat, hotel mewah penjara dengan fasilitas terbaik, perampokan penutupan bank oleh pemilliknya, hakim yang tertangkap tangan baik hati, petugas pajak yang kaya raya profesional, jaksa yang menuntut bebas tersangka teliti, pengacara yang makelar kasus profesional, polisi yang tersangka penyidik, tersangka yang kabur berobat dsb.

Tiba tiba saya jadi teringat pembicaraan beberapa tahun silam dengan almarhum Ibunda tercinta saat beliau menyaksikan sebuah peristiwa korupsi di televisi yang melibatkan seorang pejabat tinggi ternama. Beliau bertanya :”Kenapa ya pejabat tersebut kok masih melakukan korupsi, bukankah ybs. telah memiliki segalanya mulai dari pendidikan yang tinggi, jabatan yang tinggi, gaji yang besar, keluarga yang utuh dsb.?”

Waktu itu saya kesulitan untuk memberikan jawaban yang tepat karena saya sendiripun tidak mengerti alasannya, namun sekarang, setelah saya sering memberikan terapi perubahan perilaku pada banyak klien, saya mulai faham, mengapa hal tersebut dapat terjadi (masih perlu diteliti lebih lanjut).

Terlepas dari baik buruknya sistem pengawasan di lembaga atau perusahaan tempat yang bersangkutan bekerja, motif korupsi dapat disebabkan oleh adanya gangguan jiwa emosional akibat trauma kemiskinan di masa lalu sehingga ybs. terjebak dalam siklus uzur dan merasa tidak nyaman jika belum mengumpulkan harta sebanyak banyaknya.

Hal itu pula yang membuat seseorang sulit menghentikan kebiasaan korupsi (baca : kecanduan korupsi), ibarat seorang psikopat, sekali yang bersangkutan merasakan nikmatnya korupsi maka tidak ada seorangpun yang dapat menghentikan kebiasaan tersebut kecuali dirinya sendiri atau Tuhan yang menciptakan dirinya.

Sekalipun diancam dengan hukuman penjara, hal tersebut tidak akan menimbulkan efek jera, karena hukuman penjara masih bersifat “ancaman” dan belum tau kapan akan terjadi, sementara kenikmatan korupsi bersifat “nyata” dan “sekarang”.

Untuk itu upaya yang dapat dilakukan pemerintah selain pemberantasan korupsi dengan penerapan hukuman maksimal, adalah upaya perbaikan kualitas SDM melalui pendidikan kecerdasan emosional sedini mungkin serta perbaikan sistem kelembagaan secara menyeluruh dan terintegrasi.

Tanamkan bahwa menjadi kaya adalah sebuah pilihan yang dapat diraih melalui cara cara profesional atau cara cara kriminal.

Ingin memiliki sikap profesional? KLIK > https://atomic-temporary-10061447.wpcomstaging.com/kesaksian/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s