Semua orang dapat berbuat salah, namun tidak berarti nilai tersebut dapat membebaskan seseorang dari tanggung-jawab, apalagi sebagai “ijin” untuk menyakiti orang lain.
Memang betul, jauh lebih mudah menyalahkan orang lain atau keadaan dari pada menyalahkan diri sendiri, namun sadarkah kita bahwa dalam sebuah peristiwa yang tidak menyenangkan, selalu ada dua pihak yang terlibat?
Sebaliknya, apakah dengan menyalahkan diri sendiri berarti persoalan telah selesai, padahal kita semua sepakat bahwa tidak seorangpun mau menyakiti orang lain tanpa alasan, apalagi untuk tindakan yang dapat membahayakan dirinya sendiri.
Jadi pada sebuah peristiwa tidak menyenangkan, letak persoalannya bukanlah pada siapa yang benar atau siapa yang salah, melainkan dari apakah sebelum kejadian kita sudah memikirkan untung-ruginya dan jika telah terjadi apakah kita dapat mengambil pelajaran dan mau memperbaikinya pada kesempatan berikutnya ?
Lalu sebagai sebuah bentuk tanggung-jawab pada kehidupan, apa yang harus kita lakukan agar kita semua dapat terus TUMBUH ?
Sebelum mema’afkan orang lain, mulailah dengan mema’afkan diri sendiri karena ternyata jauh lebih mudah mema’afkan orang lain setelah kita mau mema’afkan diri sendiri.
Dan anehnya, memberikan ma’af yang disertai ketulusan hati, menjadikan kita lebih berharga dan sempurna di mata orang lain.