Konflik Dhani – Maia ?

02/02/2011

Tidak mudah menjadi anak yang bernama Al, El dan Dul.

Di saat hari ulang tahun sang Ibunda yang seharusnya merupakan hari bahagia bagi sebuah keluarga justru berubah menjadi konflik terbuka yang tidak saja berpotensi membuat anak-anak merasa cemas, tetapi juga malu.

Terlepas dari siapa yang benar ataupun salah, mengekspresikan perasaan kecewa, marah atau hal apapun yang dapat terkait dengan mantan pasangan, sebaiknya memang tidak dilakukan di depan media, melainkan langsung di depan yang bersangkutan sehingga tidak menimbulkan ketersinggungan ataupun salah faham yang tidak perlu.

Misal, keputusan Mahkamah Agung yang memenangkan hak asuh kepada Maia, begitu pula dengan kata kata sindiran kepada mantan pasangan tidak perlu diungkapkan secara terbuka kepada media. Bukankah mempermalukan pasangan di depan media, berarti pula mempermalukan anak anak ?

Sebaliknya memberikan pilihan yang sulit kepada anak anak seperti memilih ikut ibu atau ikut bapak, bukanlah cara bijak, karena apapun persoalan suami-istri tidak boleh mengurangi hak anak untuk mencintai dan memiliki kedua orang tuanya.

Sehebat apapun perbedaan antara Dhani dan Maia, yang diperlukan mereka berdua adalah pihak pihak yang dapat memediasi dengan resiko yang terkecil pada pertumbuhan emosional anak, bukan pihak pihak yang dapat memperuncing keadaan yang dapat merusak emosi ketiga anak mereka.

Jadi sebetulnya siapa sih yang disayang, anak-anak ataukah sayang pada ego masing masing ?

Ingin bebas konflik juga ? KLIK > https://servo.clinic/kesaksian/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s