Pengalaman Primer ?

Pada fase pembentukan kepribadian seseorang, pengalaman primer merupakan faktor yang sangat menentukan.

Biasanya tanpa disadari, seseorang menggunakan pengalaman primer sebelumnya sebagai rujukan dalam menghadapi persoalan yang datang berikutnya tanpa peduli apakah pengalaman tersebut positif ataupun negatif, tergantung dari waktu yang tersedia untuk berpikir.

Kualitas pengalaman primer inilah yang nantinya menentukan kepribadian seseorang apakah menjadi pribadi yang optimis ataukah pesimis, yang penuh percaya diri ataukah minder, yang tenang atau gampang panik dsb.

Itu sebabnya mengapa selain pertumbuhan fisik, pertumbuhan emosional pada tahap balita juga merupakan suatu hal yang sangat penting karena pada tahap inilah seorang bayi mulai belajar tentang bagaimana mengontrol rasa malu, memenuhi rasa ingin tau, berani mencoba, bekerjasama, dsb.

Sayangnya pengetahuan tentang bagaimana memperkenalkan perasaan positif pada balita, umumnya tidak dikuasai oleh para pasangan muda karena merupakan hal yang wajar pula jika seseorang baru mulai belajar menjadi orang tua setelah memiliki anak, apalagi sekolah mendidik anak masih terhitung langka.

Untuk itu diperlukan sikap proaktif para pasangan muda untuk mau secara mandiri membekali dirinya dengan pengetahuan parenting melalui majalah, buku, internet, pelatihan dan yang tidak kalah pentingnya adalah memastikan diri Anda terbebas dari problem kecemasan ataupun hambatan pribadi lainnya.

Bagaimana jika saat ini Anda merasa semuanya sudah terlanjur bahkan buah hati Anda sudah pada beranjak dewasa ?

Seperti kata pepatah, tidak ada rotan akarpun jadi, maka tidak ada kata terlambat untuk sebuah kebaikan. Untuk itu dengan ataupun tanpa bantuan profesional, biarkan diri Anda berubah mulai sekarang !

Fokuskan perubahan dimulai dari diri kita sendiri karena hal ini merupakan wilayah yang paling mungkin kita kendalikan dibanding pikiran orang lain.

Jadi jika diri kita yang sudah sangat senior saja masih belum mampu mengubah diri sendiri (baca : belum menemukan jatidiri), apalagi sang yunior yang masih bau kencur dan terus belajar.

Hanya saja yang perlu dipastikan adalah apakah yang mengajar dan apa yang diajarkan berorientasi pada siklus yang tumbuh !

Siapa yang sudah merasakannya ? Klik > https://servo.clinic/kesaksian/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s