Momok Ujian Nasional ?

Ujian Nasional diawasi sangat ketat.

Selain diawasi guru dari sekolah yang berbeda, penjagaan polisi,  juga dilakukan razia ponsel, bahkan di beberapa sekolah seperti di Bogor, Depok, Purwokerto, Semarang, Lamongan, Makasar dsb. dipasang sejumlah kamera pemantau (CCTV) di ruang ujian.

Jika semua pengawasan tersebut dimaksudkan untuk mencegah siswa berlaku curang seperti mencontek, menyalin bocoran dsb., hampir dipastikan tujuan pendidikan nasional gagal, karena belajar tidak lagi menjadi hal yang menyenangkan, melainkan menjadi ancaman bagi para siswa.

Tidak usah heran jika “persentase penduduk Indonesia berusia 15 tahun ke atas yang dapat memahami pernyataan pendek sederhana dalam kehidupan sehari hari meliputi kemampuan membaca dan menulis” dari Indikator International Human Development yang dikeluarkan UNDP tidak beranjak naik dan tetap bertahan di 92%, sejak tahun 2005 hingga 2010.

Bandingkan dengan Malaysia yang hanya 91,2% pada tahun 2005 dan terus meningkat setiap tahunnya berturut turut, 91,5% (2006), 91,9% (2007), 92,2% (2008), 92,6% (2009), 92,9 (2010) atau Singapura yang 93,9% pada tahun 2005 dan 95,2% pada 2010.

Kemandekan tersebut salah satunya dapat disebabkan oleh adanya pemahaman yang keliru yang ditularkan oleh para pendidik kepada para siswa, dimana target nilai ataupun kelulusan dipersepsikan  sebagai “tujuan” sehingga baik para pendidik maupun para siswa sama sama terobsesi pada “hasil”, jika perlu dicapai dengan cara cara yang tidak jujur.

Namun kekeliruan tsb. tidak sepenuhnya dapat dibebankan kepada para pendidik karena baik kepala sekolah ataupun guru hanyalah pelaksana dari sistem pendidikan nasional.

Padahal kebiasaan belajar hanya berfungsi sebagai “alat” seseorang mengembangkan cetak biru pembelajaran, guna memperluas zona kendali dirinya. Sangat disayangkan jika kebiasaan “belajar” yang seharusnya disukai, justru dijauhi SDM Indonesia karena dianggap sebagai momok yang menakutkan.

Kiranya perlu dilakukan perombakan total terhadap Sistem Pendidikan Nasional terutama pada visi-misi para penyelenggara pendidikan sehingga “belajar” difahami hanya sebagai “alat” untuk bertumbuh, bukan tujuan itu sendiri.

Ingin cepat berubah ? Klik > https://servo.clinic/kesaksian/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s