Demo BBM 2012 ?

30/03/2012

Setelah katarsis Mei 1998, idealnya reformasi bergulir ke arah Indonesia yang lebih baik.

Namun yang terlihat justru sebaliknya, semakin maraknya korupsi hingga ke pelosok, tawuran antar warga / mahasiswa, konflik antar lembaga, kasus narkoba, premanisme meningkat, pelanggaran HAM, komersialisasi pendidikan, balita kurang gizi, wabah penyakit meningkat, kemiskinan meningkat, masalah TKI, konflik perbatasan  dan yang terbaru demo buruh dan BBM.

Bagi lembaga tinggi negara seperti DPR, Pemerintah, MA dsb., dukungan ataupun simpati rakyat yang seperti apa yang diharapkan dari janji-janji yang tidak pernah diwujudkan, hukum yang tidak adil dan tebang pilih, tontonan keserakahan dan kemewahan, penyalah-gunaan kekuasaan, kebanyakan mengeluh alias curhat ?

Bagi para mahasiswa, berhentilah berharap belas kasihan dari para pejabat tinggi negara, dengan cara cara kekerasan, apalagi sampai melakukan perusakan. Apa yang Anda harapkan dari lembaga tinggi negara yang dipimpin oleh orang yang tingkat kecerdasannya baru sampai pada tahap memperkaya dirinya sendiri ? Tidakkah Anda melihat, bahwa kebanyakan dari mereka adalah para aktifis / pejuang yang hebat di masanya yang kemudian “masuk angin” saat mulai menjabat ?

Mengapa tidak kita mulai dari diri kita sendiri, mulai dari hal yang kecil dan mulai dari sekarang ? Bukankah mengubah diri sendiri sepenuhnya berada dalam zona kendali kita, sedang mengubah sistem berada di luar zona kendali kita, kecuali pemilik sistem sendiri yang menghendakinya ?

Bagi pemerintah, mulailah dari pembangunan SDM melalui pendidikan kecerdasan emosional (EQ), mulailah dari kepemimpinan yang visioner (lihat MODEL SISTEM), mulailah bekerja secara sistem (lihat MODEL S.E.R.V.O®), mulailah dari kesediaan turun kelapangan, mulailah pakai produk dalam negeri, pengelolaan sumber daya mandiri dsb.

Bagi para mahasiswa, mulailah menyusun barisan dengan keteladanan yang berbudaya, kemampuan intelektual yang tinggi, kepemimpinan yang cerdas, merebut kendali pimpinan pada kesempatan pertama, bekerja berdasarkan sistem, pengendalian emosi yang terukur, teguh pendirian (agar tidak masuk angin).

Ubahlah sistem hanya pada wilayah yang sepenuhnya berada dalam zona kendali Anda, Contoh : tindakan proporsional yang di lakukan seorang Joko Wi ataupun Dahlan Iskan. Jangan ubah ke samping apalagi ke atas karena Anda akan dianggap sebagai pesaing atau sedang melakukan kudeta.

Bukankah ini tugas para pemimpin dan untuk ini para pemimpin di gaji dengan pajak ?

Ingin Berubah ? KLIK > https://servo.clinic/kesaksian/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s