Sudah pernah lihat sebuah foto di Twitter yang coba membandingkan antara Susi Pudjiastuti, menteri Kelautan dan Perikanan dengan Ratu Atut Chosiyah, mantan Gubernur Banten ?
Pada etiket foto tersebut, figur Susi Pudjiastuti ditulis sebagai perokok, bertato, 2 kali kawin cerai, bergajulan, tidak berjilbab, tidak lulus SMA sedang figur Ratu Atut Chosiyah ditulis sebagai tak merokok, tak bertato, tak kawin cerai, santun, berjilbab, pendidikan tinggi.
Kita tidak tau apa yang menjadi motivasi si “pembanding”, apakah karena ybs. merasa sosok dirinya terwakili dalam figur seorang Susi Pudjiastuti ataukah karena menganggap seseorang yang tidak merokok, tidak bertato, tidak kawin cerai, santun, berjilbab, pendidikan tinggi adalah sebuah perilaku yang buruk ?
Mungkin saking bersemangatnya, ybs. lupa membandingkan “berapa persen dari orang yang merokok, bertato, kawin cerai, begajulan, tidak berjilbab, tidak lulus SMA” yang berhasil seperti ibu Susi Pudjiastuti dan lupa membandingkan “berapa persen dari orang yang tidak merokok, tidak bertato, tidak kawin cerai, santun, berjilbab, berpendidikan tinggi” yang melakukan tindakan tercela.
Bagaimana jika dengan meminjam cara berfikir seorang Buya Hamka, kita tidak lagi menilai seseorang secara subjektif, apalagi menggeneralisir secara membabi buta ?
Sehingga kita semua akan berkata :”Wow, seorang Susi Pudjiastuti yang perokok, bertato, 2 kali kawin cerai, bergajulan, tidak berjilbab, tidak lulus SMA saja berprestasi luar biasa seperti itu, bagaimana kalau ybs. tidak merokok, tidak bertato, tidak kawin cerai, santun, berjilbab, berpendidikan tinggi pasti bisa lebih hebat dari itu.”
Ingin hidup lebih berguna ? KLIK > https://servo.clinic/alamat/