Menerima Kenyataan ?

Berharap tim sepak-bola ataupun capres idola kita menang kompetisi adalah wajar karena hal tersebut mejadi alat untuk merepresentasikan diri dalam kehidupan sosial.

Di dalamnya terdapat harapan bahwa apa yang kita yakini melalui segenap pemikiran dan perasaan akan meraih hasil sesuai dengan yang kita harapkan.

Namun di sisi lain kita juga perlu menyadari bahwa ada hal hal yang tidak bisa kita kendalikan seperti pikiran orang lain, sistem, keberuntungan, keberpihakan, hasil dsb. sehingga sebaik apapun analisa kita, semantap apapun keyakinan kita tetap membuat “jagoan” kita memiliki peluang untuk menang atau kalah.

Lalu apakah kita harus merasa sakit hati atau terhina saat idola kita kalah, ataupun merasa euforia atau sombong saat idola kita menang, bahkan jika perlu kita putus hubungan dengan saudara atau teman yang berseberangan pilihan dengan kita ?

Bagaimana jika dengan memasukkan menang kalah sebagai resiko menjadi partisan justru membuat kita menjadi lebih bijak dan realistis dalam kehidupan.

Jadi letak persoalannya justru bukan pada soal menang kalahnya, melainkan lebih kepada apakah kita MENSIKAPI kemenangan dan kekalahan dengan cara yang tepat.

Ibarat orang sedang menimba ilmu, maka jika analisa kita benar maka kita mendapat dua pahala yaitu manfaat dan hikmah untuk menang dan jika analisa kita salah maka kitapun tetap mendapat satu pahala yaitu hikmah untuk tidak mengulangi kekalahan.

Ingin merasa Plong ? KLIK > https://servo.clinic/alamat/

Marah pada Mertua ?

DISCLAIMER : Kisah nyata berikut ini tidak dimaksudkan sebagai jaminan bahwa hasil terapi yang dicapai akan sama pada setiap orang, karena setiap kasus bersifat individu, tergantung dari kesediaan klien untuk berubah dan seberapa cepat akar masalah ditemukan !

Datang ke Servo Clinic seorang pengusaha dengan keluhan malas, depresi, sulit bergaul dan sulit tersenyum.

Keluhan ini mulai dirasa mengganggu sejak terjadi konflik hebat dengan pihak mertua akibat masalah bisnis.  Yang bersangkutan merasa kewenangan dan kewibawaannya sebagai pemimpin perusahaan menjadi “lumpuh” akibat terlalu banyaknya campur tangan pihak mertua yang juga memiliki beberapa perusahaan ditempat lain dan saudara istri yang juga bekerja di perusahaan tersebut.

Walaupun istri mendukung penuh terhadap apapun keputusan yang diambil suami, namun ybs. sulit bersikap tegas karena tidak ingin melukai perasaan sang istri sebab adanya resiko rusaknya hubungan sang istri dengan orang-tua dan keluarganya.

Akibatnya tanpa disadari ybs., malah menarik diri dan mengubah jati-dirinya dari seseorang yang pada awalnya penuh percaya diri menjadi pribadi yang kikuk, takut, grogi, minder, tidak tegas, mudah emosi dsb.

Pada waktu dilakukan penelusuran ulang terhadap masa lalunya, ditemukan telah terjadi pengulangan pola terhadap perasaan dizalimi, dimanfaatkan persis seperti yang dulu dialami sang ibu dari pihak keluarganya, sehingga membuat dirinya merasa tidak berdaya.

Disimpulkan bahwa telah terjadi proses identifikasi antara persoalan bisnis yang sedang dihadapi dirinya, dengan meniru bagaimana cara orang yang dihormatinya (baca : ibunya) mengatasi persoalan. Meskipun sebagai sebuah mekanisme pertahanan diri, “identifikasi” dapat mereduksi kecemasan, namun sebagai makhluk independen, dapat menyebabkan fungsi dirinya menjadi lumpuh.

Setelah dilakukan pemetaan ulang terhadap masalah, berikut resiko yang harus ditanggung, hanya dengan sedikit mengubah cara pandang akhirnya ybs. dapat pulang dengan perasaan yang lega dan “melihat” bahwa gentong pundi2nya justru sedang diisi oleh pihak mertuanya.

Ingin bebas marah ? KLIK > https://servo.clinic/alamat/

Untung Rugi Bercerai ?

Saat rasa benci pada pasangan hidup sudah sampai ke ubun ubun dan berfikir untuk bercerai, apakah Anda sudah mempertimbangkan hal hal sebagai berikut :

  • Apakah dengan bercerai berarti Anda akan terbebas dari penderitaan dan menemukan kebahagiaan ?
  • Apakah dengan bercerai, seluruh keluarga akan membela dan mendukung Anda atau malah menyalahkan Anda ?
  • Apakah dengan bercerai Anda merasa sedang membahagiakan anak anak Anda atau malah menyakiti mereka ?
  • Apakah dengan bercerai Anda merasa sedang menghadapi persoalan Anda atau malah sedang lari dari masalah ?
  • Apakah dengan bercerai, akan semakin memperpanjang langkah Anda atau malah semakin mempersempit hidup Anda ?

Bagaimana jika dengan mengubah diri Anda, pasangan Anda juga berubah ? Bagaimana jika dengan memperbaiki cara Anda berkomunikasi, pasangan Anda kembali mesra ?

Bagaimana jika dengan menghilangkan hambatan pribadi dalam diri Anda seperti rasa cemas, gampang panik, gugup, takut, curiga, justru membuat kehidupan perkawinan Anda semakin berguna, mau ?

Ingin Keluarga Harmonis ? KLIK > https://servo.clinic/alamat/