Ability

Ability adalah kemampuan, kecakapan, ketangkasan, bakat, kesanggupan; tenaga (daya kekuatan) untuk melakukan suatu perbuatan.

Kemampuan bisa merupakan kesanggupan bawaan sejak lahir, atau merupakan hasil latihan atau praktik.

Kemampuan dibedakan dari aptitude (kecerdasan), karena menunjukkan suatu kegiatan yang dapat dilakukan sekarang; sedang aptitude menunjuk perlunya ada latihan atau pendidikan sebelum suatu perbuatan dapat dilakukan pada waktu waktu mendatang.

Kapasitas (capacity) sering dipakai sebagai sinonim bagi kemampuan (ability), biasanya menyangkut satu kemampuan yang sepenuhnya bisa dikembangkan dimasa mendatang asalkan disertai pengkondisian latihan secara optimal.

Dalam praktiknya, kapasitas seseorang jarang sekali bisa dicapai sepenuhnya.

Lihat pula General Ability; Spesific Ability.

General Ability (kemampuan umum) :

  1. satu kemampuan yang umum terdapat pada semua tugas tugas intelektual dan diukur sampai derajat tertentu dengan semua tes kognitif. Singkatannya G atau g. Pada asasnya, G merupakan kemampuan untuk memahami relasi dan mampu menimbulkan relasi timbal balik. Lawannya Specific Ability.
  2. Inteligensi umum.

Specific Ability (kemampuan khusus) :

Satu kemampuan yang diungkapkan oleh fakta yang tidak berkorelasi dengan faktor faktor lain; sebagai lawan dari suatu kemampuan umum (general ability); yang memperlihatkan korelasi yang sedang sampai korelasi yang tinggi dengan kemampuan kemampuan lainnya.

Teori kemampuan mental Spearman menerima sebagai dalil, bahwa setiap tes pasti menuntut satu jumlah kemampuan umum dan satu jumlah kemampuan khusus tertentu.

Kemampuan umum adalah kemampuan yang sama yang digunakan dalam semua tes kognitif.

Kemampuan khusus adalah spesifik atau spesial bagi tes tertentu.

Sumber : Kamus Lengkap Psikologi, JP Chaplin, Penerjemah : Dr. Kartini Kartono.

Ingin cepat berubah? KLIK > https://servo.clinic/alamat/

S.E.R.V.O® Pencapaian Target ?

Kegagalan pencapaian target perusahaan seperti target keuntungan, target penjualan ataupun target target fungsi lainnya sering disebabkan oleh pemahaman yang salah terhadap paradigma “target”.

Pemahaman yang salah tersebut justru berpotensi menghambat pencapaian target itu sendiri, mengganggu kinerja fungsi, memperlemah kerja sama antar fungsi bahkan dapat menghilangkan momentum pencapaian target tahun berikutnya.

Sebelum menetapkan “dengan cara apa” suatu target akan dicapai, perusahaan harus memastikan terlebih dahulu bahwa target tersebut memang “diinginkan” oleh semua fungsi. Sebelum target tersebut menjadi sesuatu yang diinginkan maka seluruh fungsi harus “dibuat percaya” bahwa target tersebut dapat dicapai.

Oleh karena “percaya” adalah sebuah “peristiwa emosi” yang mana tidak dapat dikendalikan oleh prosedur sebaik apapun, hukuman seberat apapun, melainkan oleh “sikap mental positif” karyawan itu sendiri, maka diperlukan suatu “sarana pemrograman” yang dapat membuat karyawan tersebut “percaya”.

Disinilah metode S.E.R.V.O® dirancang untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Metode S.E.R.V.O® berangkat dari keyakinan bahwa seorang karyawan akan bersedia berubah jika ybs. memiliki “alasan yang kuat” untuk berubah. Dan jika ybs. telah memiliki alasan yang kuat untuk berubah maka harus terdapat “cara” yang dapat merubah atau memprogram dirinya secara “cepat”, “mudah” dan “nyaman”.

Dengan demikian paradigma yang mengatakan “sikap” dan “perilaku” kerja karyawan tidak mungkin diubah, tidak lagi berlaku.

Ingin cepat berubah? KLIK > https://servo.clinic/alamat/

Trauma, Fobia, Mania vs. Prestasi ?

Terdapat hubungan yang sangat erat, penting dan terkait satu sama lainnya antara pemulihan Trauma, Fobia, Mania, Kebiasaan Buruk terhadap “Prestasi” seseorang.

Mengapa demikian ?

Kejadian ekstrim ataupun yang dapat menimbulkan “trauma fisik atau psikis” yang dialami saat kecil, berpotensi menimbulkan “kecemasan” kronis pada kehidupan sesudahnya. Demikian pula dengan “sugesti ataupun mitos” yang salah yang ditanamkan dimasa lalu, walaupun intensitasnya rendah, namun jika dilakukan secara terus menerus dapat menimbulkan kecemasan serupa.

Selama tidak dilakukan katarsis (pelepasan ketegangan), emosi negatif yang “terkunci” pada peristiwa pahit semakin lama akan semakin terakumulasi mengikuti siklus peneguhan (mengalami fiksasi).

Seseorang dapat saja memaksakan diri (terpaksa) untuk menghadapi sumber kecemasan, misal karena tuntutan pekerjaan, akan tetapi biasanya menimbulkan kecemasan yang luar biasa ataupun ketakutan, biasanya disebut dengan Fobia. Hal ini, jika terjadi dalam jangka panjang akan sangat menguras energi dan berpotensi menimbulkan kelelahan kronis atau depresi.

Karena tubuh tidak dapat terus menerus tegang, biasanya “diri” akan melakukan kompensasi (lari dari masalah) dalam bentuk Mania, Kecanduan/Adiksi ataupun Kebiasaan Buruk lainnya. Kebiasaan ini memang dapat meredakan ketegangan sesaat, akan tetapi sangat merugikan karena menghilangkan kesempatan untuk “belajar” mengatasi persoalan.

Kehilangan kesempatan untuk “belajar” mengatasi persoalan berarti menghilangkan kesempatan seseorang untuk tumbuh dan berprestasi. Dan hilangnya kesempatan untuk tumbuh dan berprestasi, berarti memperkecil peluang seseorang untuk “naik derajat”.

Sulitnya seseorang untuk “naik derajat” berpotensi menimbulkan kecemasan baru dan kesedihan baru. Dan semakin cemas ataupun semakin depresinya seseorang berpotensi menimbulkan pikiran “BUNTU” dan perasaan “GAGAL”. Pikiran buntu dan perasaan gagal berpotensi menimbulkan “PUTUS ASA”

Untuk itu fokus terapi harus kepada pemecahan akar permasalahannya. Menghilangkan Fobia, Mania ataupun Kebiasaan Buruk tanpa menghilangkan akar permasalahannya cuma mengalihkan ke “bentuk” fobia, mania ataupun kebiasaan buruk lainnya.

Itu sebabnya, pemrograman Prestasi pada diri seseorang atau karyawan, baru dapat dilakukan setelah hambatan Psikis (mental blocks) dihilangkan terlebih dahulu.

Ingin berprestasi? KLIK > https://servo.clinic/alamat/