Suami Istri Bekerja ?

27/02/2007

  

Idealnya suami memiliki pekerjaan yang mapan dan istri tinggal di rumah dengan kemampuan mengelola keluarga yang hebat.

Namun disebabkan oleh partisipasi gender yang semakin meningkat, tuntutan hidup yang semakin kompleks, kesempatan pendidikan dan lapangan kerja kaum wanita yang semakin baik sehingga istri berkarir sudah merupakan kelaziman.

Perubahan tersebut berpotensi menimbulkan dampak pada pola komunikasi suami istri, pelaksanaan tugas rumah tangga, tanggung jawab mendidik anak, persepsi terhadap pasangan, adab / sopan santun dalam keluarga, konsep tentang keluarga, dsb.

Dalam skala yang lebih besar berpotensi menimbulkan pergeseran nilai mulai dari perubahan kebiasaan keluarga turun temurun, hubungan antar keluarga seperti orang tua-anak, mertua-menantu, hubungan kekerabatan bahkan dapat menimbulkan kesenjangan komunikasi antara generasi sekarang dan generasi tua dsb.

Dalam situasi seperti inilah (sesuai dengan situasi dan kesempatan yang berkembang) komunikasi antar suami istri menjadi penting. Komunikasi dimaksud tidak dalam konteks pemaksaan kehendak satu pihak atas pasangannya, melainkan untuk cari solusi bersama terbaik bagi pertumbuhan emosi anak, hubungan antar suami istri, hubungan antar keluarga, kebahagiaan pribadi, kesejahteraan keluarga dsb.

Tetapkan apa yang menjadi prioritas masing masing pihak berikut resikonya, misal siapa yang mencari nafkah, menemani anak belajar ataupun tugas keluarga lainnya, dengan demikian aktifitas lainnya bersifat dukungan (supporting). Sebelum terlibat terlalu jauh dengan aktifitas lain diluar prioritas tadi, pastikan kita menikmatinya (tidak merasa terpaksa atau sebagai korban).

Jka prioritas karir diserahkan pada siapa yang memiliki kesempatan yang lebih baik (bisa suami / istri) maka apapun resikonya harus ditanggung bersama tanpa saling menyalahkan (karena waktu untuk pasangan / anak jadi berkurang) ataupun tanpa perlu merasa bersalah meninggalkan anak (karena sudah ditemani pasangan). Jadi dapat saja si istri sebagai pencari nafkah utama dan suami diminta ikut mengurus anak / pekerjaan rumah tergantung siapa yang sempat. Demikian pula terhadap perkembangan karir kedepan, dapat saja terjadi atas kesepakatan bersama sang suami / istri yang memiliki peluang karir yang lebih baik seperti kesempatan sekolah, promosi karir di kota yang berbeda, maju duluan sekalipun beresiko mengerem karir pasangan lainnya.

Jika sudah demikian “sadari” bahwa keberhasilan karir salah satu pasangan karena terdapat andil pasangan lain didalamnya. Bagi suami yang telah berhasil, tidak ada alasan untuk kawin lagi karena menganggap istri sudah tidak “up to date”. Begitu pula bagi istri yang berhasil, tidak ada alasan untuk melecehkan suami karena memiliki penghasilan yang lebih tinggi. Tidak ada alasan bagi pasangan yang satu menjadi minder ataupun yang lain menjadi gede kepala karenanya.

Ingin Cepat Berubah ? KLIK > http://servoclinic.com/kesaksian/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s