Obsesif Kompulsif (OCD) ?

Obsesif Kompulsif adalah dorongan hati yang kuat untuk mengulang ulang tingkah laku tertentu dan biasanya bersifat sederhana serta kurang dimengerti manfaatnya.

Misal : mengecek kunci pintu berulang ulang, mencuci tangan dengan sabun berkali kali, mengusap usap tembok, mengepel lantai berulang kali, memeriksa dompet berkali kali dsb.

Didalam “Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders” edisi ke empat (DSM-IV) yang diterbitkan oleh American Psychiatric Association (APA), gangguan obsesif kompulsif digolongkan ke dalam kelompok gangguan cemas.

Alfred Adler (1931) berpendapat gejala patologis akan muncul jika kebutuhan anak untuk “merasa bisa” dihambat oleh lingkungan. Sehingga muncul perasaan negatif yang kuat seperti perasaan cemas, rasa bersalah, tidak berdaya dan sering disertai perasaan takut yang berlebihan.

Apabila hambatan tersebut berlangsung terus menerus dapat menyebabkan terkuncinya (fiksasi) emosi negatif seperti rasa takut / cemas dibawah sadar. Inilah yang kemudian menimbulkan kebutuhan akan rasa nyaman berlebihan.

Repotnya ybs. dapat terjebak kedalam siklus thanatos (uzur) yang semakin berat seperti : cemas, kompulsif, prestasi menurun, tambah dimarahin (jika lingkungan tidak memahaminya), merasa bersalah, tambah sedih, makin cemas, makin kompulsif dst.

Kebiasaan tersebut sudah tentu akan sangat mengganggu aktifitas sehari hari, seperti pekerjaan ataupun pergaulan.

Apakah Obsesif Kompulsif dapat di terapi dengan SERVO ?

Dapat, sejauh penyebabnya lebih bersifat psikis, bukan karena adanya gangguan di otak seperti infeksi, cidera, tumor otak. Dengan Servotherapy, survivor dibantu membebaskan emosi negatif (katarsis) yang terkunci (fiksasi).

Ingin cepat berubah? KLIK > https://servo.clinic/kesaksian/

4 respons untuk ‘Obsesif Kompulsif (OCD) ?

  1. Banyak artikel tentang OCD… namun jarang yang berisi penyelesaian dan penyembuhannya.

    Oh Tuhan bisakah aku terbebas dari OCD ini…

    Sudah tiga tahun aku terjerat OCD, awalnya cuma beberapa hal aneh yang “normal” saja, sekarang menjadi banyak hal yang aneh-aneh.

    Pertanyaan saya bisakah OCD disembuhkan ?

    Dan apakah ini bisa jadi karena faktor keturunan ? Karena saya melihat (sebelum saya menjadi OCD suffer) kakak saya juga melakukan hal aneh (OCD), dan pada waktu itu saya menganggapnya sebagai kelakuan yang aneh. Namun akhirnya saya memahami bahwa itu bukanlah hal yang “aneh” bagi seorang OCD suffer, karena kini saya tahu OCD suffer akan merasa khawatir dan tidak nyaman bila tidak melakukan hal aneh itu.

    Saya pernah bisa mengontrolnya untuk relaks dan nyantai saja, tidak perlu khawatir.. namun bertahan beberapa hari saja…

    Entahlah, mungkin pendapatku ini ada benarnya juga : “OCD ini semua berawal dari kekhawatiran”.

    Apakah adrenalin dalam tubuhku ini terlalu tinggi ? Menurut artikel, adrenalin juga mempengaruhi OCD, atau sebaliknya.

    • Bung Marhensa yang Ingin Sembuh.

      Dalam pemahaman saya OCD bukan faktor keturunan. Akan tetapi OCD dapat menular ke kita melalui induksi / modelling sama seperti kebiasaan latah, kesurupan dll.

      Relaksasi dapat meringankan OCD, akan tetapi selama akar masalahnya tidak dihilangkan tetap berpotensi muncul kembali atau berubah bentuk menjadi versi lain.

      Emosi, Pikiran dan Fisik merupakan satu sistem keseimbangan dan bersifat saling mempengaruhi (reversible). Gangguan keseimbangan pada salah satu elemen akan mempengaruhi elemen lainnya.

      Sebaiknya di terapi !

  2. Saya PNS 25 tahun. Saya minder kurang pede serta masa bodoh dengan lingkungan sekitar. Juga paranoid apatis dengan lawan jenis padahal kata teman di kantor tampilan fisik saya diatas rata-rata (cantik,bohay) hal ini mungkin disebabkan saya yang anak bungsu merasa terbebani,sepertinya saya dikorbankan oleh saudara yang lain secara halus untuk urus ibu dan kakak lelaki saya yang sakit jiwa. Saya enam bersaudara,empat saudara yang lain kebetulan PNS semua sudah nikah dan punya rumah sendiri. Buat tambah stress pulang kerja bersih-bersih rumah yang berantakan,masak untuk ibu dan kakak,nyuci baju saya juga baju mereka. Hal ini buat saya tak sempat bersosialisasi sama tetangga.ibu kakak sudah pernah diterapi di RSJ 3 bulan tapi tak ada perubahan. Saking sibuk urus dua orang ini saya sampai takut untuk berpacaran apalagi nikah. Solusinya!

    • Sebaiknya mbak Erni harus membicarakan masalah tersebut dengan saudara lainnya.

      Katakan terus terang bahwa sudah waktunya untuk mereka semua, sama-sama merawat ibu dan kakak secara bergantian atau jika tidak memungkinkan, paling tidak mereka berkontribusi secara finansial guna meminta bantuan tenaga profesional.

      Merawat orang-tua dan merencanakan pernikahan adalah dua hal yang berbeda, jadi tidak ada alasan untuk tidak menikah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s