Pelatihan Motivasi untuk Karyawan ?

Sering kita jumpai HRD Manager yang kecewa setelah melihat dampak “pelatihan motivasi” terhadap kinerja karyawannya, sehingga berfikir ulang untuk memfasilitasi pelatihan tersebut.

Biasanya “semangat” karyawan hanya bagus pada beberapa hari pasca pelatihan dan setelah itu kembali lagi pada kebiasaan lama.

Mengapa hal tersebut dapat terjadi ?

Letak “perubahan” sikap dan perilaku karyawan adanya di tabula rasa. Itu sebabnya materi pelatihan motivasi yang baik selain mengandung materi “olah nalar” juga harus disertai materi “olah rasa”.

Materi pelatihan harus dapat memberikan alasan mengapa seseorang perlu “berubah”. Selain itu motivator harus dapat menjelaskan mengenai mekanisme sikap dan perilaku, hambatan psikis (mental blocking) dan memberikan “cermin” yang sesuai bagi masing masing individu, sehingga mereka sendiri yang menentukan “cara respon” yang seharusnya sesuai dengan keunikan dirinya. Ibarat seseorang pengguna kacamata yang berusaha meyakinkan orang lain untuk menggunakan kacamata yang cocok bagi dirinya, namun belum tentu cocok bagi orang lain.

Selanjutnya memberikan tehnik dan cara cepat untuk berubah serta pengalaman langsung “nikmatnya” berubah. Jadi instruktur tidak hanya menginduksi peserta dengan pengalaman dan semangat yang menggebu gebu dari kesuksesan dirinya.

Ingin cepat berubah? KLIK > https://servo.clinic/kesaksian/

3 respons untuk ‘Pelatihan Motivasi untuk Karyawan ?

  1. Menurut saya hidup itu penuh pilihan dan apa yang kita pilih yang menentukan siapa, bagaimana dan di mana kita kemarin, saat ini maupun di kemudian hari.

    Pilihan itu sendiri ditentukan oleh latar belakang, pengalaman dan kemampuan seseorang untuk menganalisa seluruh informasi yang masuk.

    Kalau kita tanya kepada setiap karyawan maka mereka akan mengatakan bahwa mereka mau menjadi orang berhasil. Tetapi kenapa mereka belum berhasil juga sampai saat ini? Karena (1) mereka belum tahu cara untuk berhasil, (2) Tahu cara untuk berhasil tetapi tidak punya semangat atau kekuatan untuk mencapai keberhasilannya.

    Tidak punya semangat atau kemampuan untuk berhasil karena dirinya sendiri tidak mau berjuang dan berkurban untuk mencapai keberhasilannya, karena lingkungan sekitarnya tidak kondusif, atau karena kesempatan belum ada.

    Karyawan yang sudah di training kebanyakan tidak betul2 memanfaatkan ilmu yang di dapatnya. Mereka sudah puas dengan sekedar tahu cara untuk mencapai keberhasilan. Mereka mmilih untuk sekedar tahu saja.

    Jadi jangan kita menyalahkan trainer atau pimpinan kalau setelah memberikan pelatihan karyawannya tetap seperti sedia kala setelah beberapa saat. Semua salah si karyawan karena tidak punya keinginan dan tidak mau berubah.

    Dipa S Komala
    PT Mayora Indah Tbk.

    • Terima kasih atas tanggapan bung Dipa !

      Anda benar tentang alasan kenapa belum berhasil yaitu 1. Belum tau cara untuk berhasil dan 2. Sudah tau tetapi tidak mau.

      Khususnya untuk point 2. biasanya karena terdapat hambatan psikis (mental block) didalam diri ybs. yang disebabkan oleh pola pendidikan yang salah ataupun peristiwa traumatis dimasa lalu.

      Hal tersebut yang menyebabkan ybs. tanpa sadar selalu berorientasi pada masa lalunya (penolakan, kesakitan, ketakutan, pengalaman buruk dsb.) bukan pada masa depan (cita cita, sasaran pribadi, rencana dsb.). Hambatan inilah yang harus dihilangkan terlebih dahulu.

      Saat ini banyak perusahaan besar mulai melirik pelatihan kecerdasan emosi, pemrograman diri, pengembangan diri, life skill education khususnya yang berhubungan dengan produktifitas seperti kepemimpinan, nyali menjual, berani presentasi, peduli pelanggan hingga terapi fobia seperti fobia sosial, fobia ketinggian, fobia naik lift dsb.

  2. Ya saya setuju sekali dengan pernyataan ‘pola pendidikan yang salah ataupun peristiwa traumatis dimasa lalu’

    Saya perhatikan mereka yang berhasil dalam karir / hidup adalah orang2 yang memilih untuk selalu berpikir positif tentang dirinya sendiri dan lingkungannya sehingga memiliki orientasi mau dan bisa maju yang memprekondisikan diri mereka untuk menjadi lebih berhasil sejalan dengan perkembangan waktu.

    Nah pola berpikir positif tentang diri sendiri & lingkungannya banyak dipengaruhi oleh bagaimana seseorang di ‘bentuk’ oleh lingkungannya. Terutama orang tua dan keluarganya.

    Akan menjadi tugas yang tidak mudah di realisasikan bagi seorang manajer untuk mengubah pola berpikir bawahannya bila sejak kecil hingga dewasa sudah di bentuk oleh lingkungannya untuk berpikir negatif tentang dirinya sendiri dan lingkungannya. Memang bukan hal yang mustahil tetapi akan memerlukan usaha & biaya yang tidak sedikit.

    Pilihan yang terbaik adalah memulainya dengan merekrut SDM yang berpotensi menjadi karyawan handal. Melatih, membimbing dan membinanya sedemikian rupa sesuai tuntutan pekerjaan mereka saat ini dan di masa mendatang seraya memberdayakan mereka bila mereka sudah siap.

    Atau memaksa karyawan untuk memberikan pelatihan kepada rekan2nya secara bergantian agar mereka belajar dengan cara mengajar. Sebab mengajar adalah cara belajar yang terbaik. Dengan demikian mereka cenderung lebih mengingat & memahami materi yang mereka sampaikan.

    Dipa S Komala
    PT Mayora Indah Tbk.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s