Bulimia Nervosa ?

Bulimia Nervosa adalah gangguan makan yang melibatkan episode berulang dari perilaku makan berlebih lebihan dan tak terkontrol yang diikuti dengan tindakan kompensatoris untuk menyingkirkan makanan itu (misalnya dengan muntah secara sengaja, menyalahgunakan pencahar dan olah raga yang melampaui batas.

Anda mungkin merasa tidak asing lagi dengan bulimia nervosa baik dari pengalaman Anda sendiri maupun dari pengalaman teman Anda. Gangguan ini merupakan salah satu gangguan psikologis yang paling sering dijumpai di kampus kampus.

Ciri ciri Bulimia Nervosa menurut DSM-IV-TR meliputi :

  • Episode berulang binge eating (makan berlebih) yang ditandai oleh asupan makanan yang luar biasa banyak dalam waktu 2 jam, ditambah kekurangan sense of control terhadap makan selama episode episode ini.
  • Perilaku kompensatoris yang tidak pas dan berulang kali dilakukan untuk mencegah bertambahnya berat badan, seperti dengan sengaja merangsang muntah, penyalahgunaan obat pencahar, berpuasa atau olahraga secara eksesif
  • Secara rata rata, binge eating dan perilaku kompensatoris yang tidak tepat itu terjadi paling sedikit dua kali seminggu selama paling sedikit 3 bulan
  • Perhatian yang berlebihan pada bentuk tubuh dan berat badan.

Tanda utama bulimia nervosa adalah makan dalam jumlah besar biasanya lebih banyak junk food daripada buah dan sayur sayuran-dibanding jumlah yang dimakan kebanyakan orang dalam kondisi yang sama (Fairburn dan Cooper, 1993, Wilson dan Pike 2001).

Perasaan bahwa tindakan makan itu tidak dapat dikontrol (Fairburn dan Cooper, 1986) adalah kriteria yang sama pentingnya dengan jumlah makanan yang dimakan.

Kriteria penting lainnya adalah penderita berusaha mengkompensasi tindakan makan berlebihnya dan kemungkinan terjadi penambahan berat badannya. Hal ini hampir selalu dilakukannya dengan menggunakan purging techniques.

Tehnik tehniknya termasuk dengan sengaja merangsang muntah segera setelah makan, menggunakan pencahar (obat obatan untuk mengatasi sembelit) dan diuretik (obat obatan untuk membuang cairan dari dalam tubuh dengan meningkatkan frekuensi buang air kecil).

Sebagian penderita menggunakan kedua macam cara tersebut sekaligus. Sebagian lagi melakukan olah raga secara eksesif (meskipun olah raga berat biasanya lebih banyak dijumpai pada penderita anoreksia nervosa). Sebagian lainnya berpuasa dalam waktu yang cukup lama diantara waktu waktu binge.

Bulimia kronis dengan purging memiliki sejumlah konsekwensi medis (Pomeroy, 2004). Salah satunya adalah terjadinya pembesaran kelenjar ludah akibat sering muntah. Ini menimbulkan penampakan wajah chubby (gemuk).

Muntah berulang ulang juga dapat mengikis email gigi di permukaan bagian dalam gigi gigi depan. Yang lebih penting, muntah terus menerus dapat mengganggu keseimbangan cairan tubuh, termasuk tingkat sodium dan potasium. Kondisi yang disebut ketidak seimbangan elektrolit itu dapat mengakibatkan komplikasi medis serius bila tidak ditangani dengan baik, termasuk cardiac arithmia seizure (detak jantung yang terganggu) yang dapat berakibat fatal.

Masalah masalah usus akibat penyalahgunaan obat pencahar juga berpotensi serius, termasuk konstipasi berat atau kerusakan usus besar permanen.

Terakhir, pada jari jari tangan atau punggung telapak tangan sebagian penderita bulimia tampak kapalan akibat gesekan dengan gigi dan kerongkongan karena berulang kali memasukkan jari jarinya ke dalam kerongkongan untuk merangsang refleks muntah.

Seorang penderita bulimia biasanya juga menunjukkan gangguan psikologis lain, khususnya gangguan kecemasan dan gangguan suasana perasaan seperti fobia sosial atau gangguan kecemasan menyeluruh.

Gangguan suasana perasaan, khususnya depresi juga banyak muncul bersama bulimia. Selama bertahun tahun, salah satu teori yang paling menonjol menyatakan bahwa gangguan makan hanya sekedar cara untuk mengekspresikan depresi. Tetapi sebagain besar bukti menunjukkan bahwa depresi mengikuti bulimia dan mungkin justru merupakan reaksi terhadapnya (Hsu, 1990; Brownell dan Fairburn, 1995).

Terakhir, penyalah gunaan substansi, baik alkohol maupun obat obatan biasa menyertai bulimia nervosa.

Sebagai rangkuman, bulimia tampaknya terkait erat dengan gangguan kecemasan dan juga sedikit terkait dengan gangguan suasana perasaan dan gangguan penyalahgunaan substansi.

Sumber : V. Mark Durand & David H. Barlow, Psikologi Abnormal, 2006.

Ingin cepat berubah? KLIK > https://servo.clinic/alamat/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s