Luka Emosional ?

Sikap kasar Martin sebagai pengganti empati adalah ciri khas anak anak lain seperti dia yang pada usia amat muda telah dilukai oleh penganiayaan emosional dan fisik yang hebat di rumah. Martin adalah bagian dari satu kelompok yang terdiri dari sembilan anak semacam dia yang berumur satu hingga tiga tahun, yang terlacak dalam suatu pengamatan selama dua jam di pusat penitipan.

Anak anak yang teraniaya itu dibandingkan dengan sembilan anak lainnya di pusat penitipan itu yang sama sama berasal dari rumah tangga miskin dan bertekanan tinggi, tetapi secara fisik tidak mengalami penganiayaan. Perbedaan dalam hal bagaimana kedua kelompok anak anak itu bereaksi apabila anak lain terluka atau terganggu menjadi sangat jelas.

Dari 33 peristiwa semacam itu, lima orang di antara sembilan anak yang tidak dianiaya menanggapi kesedihan anak yang berada di sekitarnya dengan rasa prihatin, ikut bersedih atau empati. Tetapi dalam 27 peristiwa di mana anak anak yang dianiaya dapat bertindak demikian, tak satupun memperlihatkan keprihatinan sedikitpun; sebagai gantinya mereka bereaksi terhadap anak yang menangis dengan ungkapan rasa takut, marah, atau seperti Martin, serangan fisik.

Salah seorang gadis kecil yang teraniaya, misalnya, menampilkan wajah ganas dan mengancam terhadap anak lain yang sedang menangis. Thomas yang berumur satu tahun, seorang anak lain yang juga teraniaya, membeku ketakutan ketika ia mendengar seorang anak menangis di seberang ruangan; ia duduk tak bergerak sama sekali, wajahnya menampakkan ketakutan, punggungnnya tegak kaku, ketegangannya meningkat sewaktu tangis itu berlanjut-seolah olah bersiap siap untuk menyerang diri sendiri.

Dan Kate yang berumur dua puluh delapan bulan, yang juga teraniaya, sikapnya bisa disebut sadis; setelah memilih Joey, anak yang lebih kecil, Kate menendangnya sampai terpelanting ke tanah dan sewaktu Joey masih terbaring, Kate memandang kepadanya dengan penuh rasa sayang dan mulai membelai belai punggung Joey dengan lembut-tetapi kemudian belaian itu berubah menjadi pukulan yang makin lama makin keras, tanpa mengindahkan kemalangan Joey.

Kate terus memukulnya, membungkuk untuk menghantamnya enam atau tujuh kali lagi, sampai Joey merangkak menjauh.

Sumber : Kecerdasan Emosional, Daniel Goleman, 1996.

Ingin cepat berubah? KLIK > https://servo.clinic/alamat/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s