Pemadaman Empati ?

Di tengah hiruk pikuknya anak anak bermain di pusat penitipan anak, Martin, yang baru berumur dua setengah tahun, bertabrakan dengan seorang gadis kecil yang langsung mulai menangis. Martin meraih tangannya, tetapi sewaktu gadis yang terisak isak itu beringsut menjauh, Martin memukul lengan gadis kecil itu.Sewaktu air mata anak gadis itu terus mengalir, Martin memandanginya di kejauhan dan berteriak, “Jangan nangis ! Jangan nagis !” terus menerus setiap kali lebih cepat dan lebih keras.

Ketika Martin kemudian berupaya mengusap usap tangannya lagi, gadis itu menolak. Kali ini Martin memperlihatkan giginya seperti seekor anjing yang menyeringai, sambil mendesis ke arah gadis yang terisak isak itu.

Sekali lagi Martin mulai membelai gadis yang menangis itu, tetapi belaian belaian di punggung dengan cepat berubah menjadi pukulan dan Martin terus memukul gadis kecil yang malang itu, meskipun gadis itu menjerit jerit.

“Pertengkaran” yang membingungkan itu menjadi saksi bagaimana penganiayaan-dipukuli terus menerus, sekehendak suasana hati orang tua-telah membengkokkan kecenderungan alamiah ke arah empati dalam diri anak. (Mary Main dan Carol George).

Respon Martin yang aneh dan agak brutal terhadap kemalangan teman bermainnya adalah khas anak anak seperti dia, karena mereka sendiri telah menjadi korban pemukulan dan penganiayaan fisik lain sejak masa bayi. Respon ini sangat berbeda dengan ajakan simpatik yang normal dan usaha anak anak untuk menghibur teman bermainnya yang menangis.

Respon Martin yang kasar terhadap kemalangan di pusat penitipan anak itu barangkali mencerminkan dengan baik pelajaran pelajaran yang telah diperolehnya di rumah tentang tangisan dan kesedihan; tangis mula mula ditanggapi dengan tindakan menghibur yang lumrah, tetapi apabila berlanjut, langkah berikutnya adalah mulai dari memandang dengan tatapan mengancam dan membentak, hingga menampar atau memukul fisik langsung.

Barangkali yang paling menyedihkan Martin agaknya sudah kehilangan jenis empati yang paling primitif, yaitu naluri untuk menghentikan serangan terhadap seseorang yang terluka. Pada usia dua setengah tahun ia telah menampilkan dorongan moral kekejaman dan kesadisan yang sedang tumbuh.

Sumber : Kecerdasan Emosional, Daniel Goleman, 1996.

Ingin cepat berubah? KLIK > https://servo.clinic/alamat/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s