Gagal Berempati ?

Anak anak memperlakukan orang lain sebagaimana mereka diperlakukan orang.

Kekasaran anak anak yang teraniaya hanyalah versi lebih ekstrim yang terlihat pada anak anak yang orang tuanya menghukum dengan mengecam, mengancam dan bersikap kasar.

Anak anak semacam itu cenderung tidak memberi perhatian bila teman bermainnya kesakitan atau menangis, mereka tampaknya merupakan salah satu ujung kontinum sikap dingin yang puncaknya adalah keberutalan anak anak yang teraniaya.

Sewaktu menempuh kehidupan, sebagai kelompok, mereka cenderung menghadapi kesulitan kognitif dalam belajar, cenderung bersikap agresif dan tidak disenangi rekan rekannya (tidak mengherankan bila sikap kasar sewaktu taman kanak kanak merupakan pertanda masa depan), lebih mudah terkena depresi dan sebagai orang dewasa, cenderung melanggar hukum dan melakukan lebih banyak tindak kejahatan dengan kekerasan. (Robert Emery).

Kegagalan berempati ini terkadang, bila tidak malah sering, terulang selama bergenerasi generasi dengan orang orang tua yang kasar itu sendiri dianiaya oleh orang tua mereka sewaktu masih kanak kanak. (Cathy Spatz Widom).

Hal ini amat berbeda dengan empati yang diperlihatkan seperti biasanya oleh anak anak yang orangtuanya penuh perhatian, mengajarkan pada anak anaknya untuk peduli pada orang lain dan memahami bahwa sikap kasar bisa membuat orang lain merasa tidak senang.

Sumber : Kecerdasan Emosional, Daniel Goleman, 1996.

Ingin cepat berubah? KLIK > https://servo.clinic/alamat/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s