Rasa Takut ?

11/02/2008

Tindak kekerasan jauh lebih berbahaya daripada bencana alam seperti angin ribut karena, berbeda dengan korban bencana alam, korban tindak kekerasan merasa bahwa mereka sengaja dipilih sebagai sasaran.

Kenyataan tersebut menghancurkan asumsi tentang dapat dipercayanya manusia dan amannya dunia antar pribadi, asumsi yang tidak berlaku bagi bencana alam. Dalam sekejap, dunia sosial menjadi suatu tempat yang berbahaya, tempat di mana orang menjadi ancaman potensial terhadap rasa aman.

Kekejaman manusia membekaskan suatu pola yang mengarah pada rasa takut terhadap apapun yang serupa dengan serangan itu sendiri. Seorang pria yang dipukul di belakang kepalanya, tanpa pernah melihat penyerangnya, menjadi begitu ketakutan sesudah itu, sehingga bila sedang berjalan, ia akan berusaha berjalan pas di depan seorang wanita tua supaya yakin kepalanya tidak akan dipukul lagi. (Dr. Shelly Niederbach).

Seorang perempuan yang dirampok oleh seorang laki laki yang masuk ke lift bersamanya dan dengan ancaman pisau memaksanya keluar ke sebuah lantai yang tidak berpenghuni, menjadi ketakutan selama berminggu minggu bukan saja untuk masuk ke lift, melainkan juga masuk ke kereta bawah tanah atau ruangan tertutup manapun yang bisa membuatnya merasa terjebak; ia akan segera berlari setiap kali melihat seorang pria menaruh tangannya di jaket seperti yang dulu dilakukan oleh perampoknya.

Jejak rasa takut dalam ingatan-dan sikap terlalu waspada yang ditimbulkannya-dapat berlangsung seumur hidup, seperti ditemukan oleh penelitian terhadap mereka yang selamat dari Holocaust. Hampir lima puluh tahun setelah mengalami kelaparan, pembantaian orang orang yang mereka cintai dan teror terus menerus di kamp kamp maut Nazi, ingatan ingatan yang mengerikan itu masih menghantui.

Sepertiga mengatakan bahwa mereka pada umumnya merasa ketakutan. Hampir tiga perempatnya mengatakan bahwa mereka masih menjadi cemas menghadapi hal hal yang mengingatkan pada penganiayaan Nazi itu, misalnya melihat seragam, pintu yang diketuk, anjing anjing menyalak, atau asap yang membumbung dari cerobong.

Kurang lebih enam puluh persen mengatakan bahwa mereka hampir setiap hari memikirkan Holocaust itu, bahkan setelah setengah abad; diantara orang orang yang menderita gejala aktif, sebanyak delapan di antara sepuluh orang masih menderita karena mengalami mimpi buruk berulang kali. Sebagaimana dikatakan oleh seorang yang lolos dari maut, “Seandainya Anda pernah ‘merasakan’ Auschwitz dan Anda tidak mengalami mimpi buruk, Anda tidak normal.”

Sumber : Kecerdasan Emosional, Daniel Goleman, 1996.

Ingin bebas takut? KLIK > https://servo.clinic/kesaksian/

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s