Keprihatinan Masa Kini ?

Pada lingkaran khas yang menandai setiap kelas Self Science, angka yang mereka sebutkan tidaklah selalu setinggi hari ini.

Bila rendah-angka satu, dua atau tiga menunjukkan perasaan tidak nyaman-angka itu bisa membuka jalan bagi seseorang untuk bertanya, “Apakah kamu ingin berbicara mengapa kamu merasa demikian ?” Dan bila si murid menghendakinya (tidak ada orang yang ditekan untuk membicarakan hal hal yang tidak ingin mereka bicarakan), kesempatan itu memungkinkan dilepaskannya apa saja yang merisaukan-dan peluang untuk mempertimbangkan pilihan kreatif untuk mengatasinya.

Kesulitan yang muncul berbeda beda sesuai dengan tingkatan kelasnya. Di kelas kelas yang lebih rendah, masalah yang biasa terjadi adalah diejek, merasa ditinggalkan, takut.

Sekitar kelas enam muncullah serangkaian keprihatinan baru-sakit hati karena tidak diacuhkan ketika berkencan, atau ditinggalkan; memiliki sahabat yang kekanak-kanakan; kejadian buruk khas anak muda (“anak kelas tujuh menghantam saya”; “Teman teman saya merokok dan mereka selalu memaksa saya untuk merokok juga”).

Inilah topik yang semakin penting dalam kehidupan anak, yang terjadi di luar sekolah-pada waktu makan siang, pada waktu di bus menuju ke sekolah, di rumah seorang teman-bila memang diungkapkan.

Seringkali ini merupakan kesulitan yang dipendam oleh anak itu sendiri, sambil direnungkannya sendirian di malam hari karena tidak mempunyai teman untuk membicarakannya. Dalam Self Science, hal hal tersebut dapat menjadi “topik hari ini”.

Masing masing diskusi ini merupakan bahan potensial untuk sasaran utama Self Science yang menyoroti kepekaan anak serta hubungan anak tersebut dengan orang lain. Meskipun kursus tersebut mempunyai rencana ajaran, rencana ajaran itu bersifat luwes sehingga bila terjadi momen momen seperti konflik antara Rahman dan Tucker, momen tersebut dapat dimanfaatkan.

Masalah yang dimunculkan oleh para murid menjadi contoh hidup yang dapat digunakan murid dan guru untuk menerapkan keterampilan yang sedang mereka pelajari, seperti cara penyelesaian konflik yang mendinginkan pertikaian antara kedua anak itu.

Sumber : Kecerdasan Emosional, Daniel Goleman, 1996.

Ingin cepat berubah? KLIK > https://servo.clinic/alamat/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s