Pertikaian yang Tidak Menimbulkan Perpecahan ?

Sewaktu kelompok baru mulai mencari kursi mereka, Varga menganalisis apa yang baru saja lewat. Pertengkaran hebat serta peredamannya memanfaatkan apa yang telah dipelajari anak tentang penyelesaian konflik.

Apa yang memanas menjadi konflik biasanya dimulai, seperti dirumuskan oleh Varga, dengan “tidak berkomunikasi, membuat pengandaian dan melompat ke kesimpulan, mengirimkan pesan “keras” dengan cara yang membuat orang sulit mendengarkan apa yang kita katakan.”

Murid murid Self Science belajar bahwa tujuannya bukanlah menjauhi konflik sama sekali, melainkan menyelesaikan perselisihan dan kebencian sebelum berspiral menjadi perkelahian habis habisan.

Ada tanda bahwa pelajaran pelajaran awal ini digunakan dalam cara Tucker dan Rahman menangani pertikaiannya. Misalnya, keduanya melakukan usaha tertentu untuk mengungkapkan titik pandang mereka dengan cara yang tidak mempercepat terjadinya konflik.

Sikap asertif ini (berbeda dengan sikap agresif atau sikap pasif) diajarkan di Nueva sejak kelas tiga. Sikap asertif menekankan pengungkapan perasaan secara tegas, tetapi dengan cara yang tidak akan meningkat menjadi sikap agresif.

Meskipun pada awal perselisihan keduanya tak saling memandang, sewaktu perselisihan berlangsung terus mereka mulai memperlihatkan tanda tanda “mendengar aktif,” saling berhadapan, melakukan kontak mata dan mengirimkan isyarat isyarat diam yang memungkinkan seorang pembicara tahu bahwa ia sedang didengarkan.

Sumber : Kecerdasan Emosional, Daniel Goleman, 1996.

Ingin cepat berubah? KLIK > https://servo.clinic/alamat/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s