Emosi Inti ?

Alasan bahwa ada beberapa emosi inti, sampai tahap tertentu, bertumpu pada penemuan Paul Ekman dari University of California di San Francisco yang menyatakan bahwa ekspresi wajah tertentu untuk keempat emosi (takut, marah, sedih dan senang) dikenali oleh bangsa bangsa di seluruh dunia dengan budayanya masing masing, termasuk bangsa bangsa yang buta huruf yang dianggap tidak tercemar film dan televisi-sehingga menandakan adanya universalitas perasaan tersebut.

Ekman memperlihatkan foto foto wajah yang memperlihatkan ekspresi ekspresi dengan ketepatan teknis kepada orang orang dengan budaya yang terpencil seperti suku Fore di Papua Nugini, suku terpencil berkebudayaan zaman batu di dataran tinggi terasing dan menemukan bahwa orang orang dimanapun mengenali emosi dasar yang sama itu.

Universalitas ekspresi wajah untuk emosi barangkali untuk pertama kalinya diamati oleh Darwin yang menganggapnya sebagai bukti bahwa daya evolusi telah mencapkan isyarat isyarat ini dalam sistem saraf pusat kita.

Dalam mencari prinsip dasar, saya mengikuti pemikiran Ekman dan yang lain lainnya yang menganggap emosi berdasarkan kerangka kelompok atau dimensi dengan cara mengambil kelompok besar emosi-marah, sedih, takut, bahagia, cinta, malu dan sebagainya-sebagai titik tolak bagi nuansa kehidupan emosional kita yang tak habis habisnya.

Masing masang kelompok ini mempunyai inti emosi dasar di titik pusatnya, dengan kerabat kerabatnya mengembang keluar dari titik pusat tersebut dalam proses mutasi yang tak berujung. Tepi luar “lingkaran emosi” diisi oleh suasana hati yang secara teknis, lebih tersembunyi dan berlangsung jauh lebih lama daripada emosi (meskipun agak langka terus menerus berada di puncak amarah sepanjang hari, misalnya tidaklah jarang seseorang berada dalam suasana hati yang mudah marah, mudah tersinggung, sehingga serangan marah kecil kecilan dapat dengan mudah terpicu).

Di luar suasana hati itu terdapat temperamen, yaitu kesiapan untuk memunculkan emosi tertentu atau suasana hati tertentu yang membuat orang menjadi murung, takut atau bergembira. Dan di luar bakat emosional semacam itu, ada juga gangguan emosi seperti depresi klinis atau kecemasan yang tidak kunjung reda, yaitu ketika seseorang merasa terus menerus terjebak dalam keadaan memedihkan.

Sumber : Kecerdasan Emosional, Daniel Goleman, 1996.

Ingin cepat berubah? KLIK > https://servo.clinic/alamat/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s