Respon yang Cepat tetapi Ceroboh ? (#3)

Paul Ekman berpendapat bahwa kecepatan, dimana emosi dapat menguasai kita sebelum kita menyadari bahwa mereka telah mulai, sangat penting bagi sifatnya yang amat mudah beradaptasi: emosi menyiapkan kita untuk menanggapi peristiwa peristiwa mendesak tanpa membuang waktu untuk merenung renung apakah kita harus bereaksi atau bagaimana kita harus merespons.

Dengan memanfaatkan sistem yang dikembangkannya untuk mendeteksi emosi dari perubahan perubahan tak kentara pada ekpresi wajah, Ekman dapat melacak emosi emosi mikro yang membayang selintas di wajah dalam waktu kurang dari setengah detik.

Ekman serta rekan rekannya menemukan bahwa ekspresi emosi mulai muncul dalam perubahan perubahan otot wajah dalam waktu sepersekian ribu detik setelah peristiwa yang memicu reaksi tersebut dan bahwa perubahan perubahan fisiologis yang khas pada emosi tertentu-seperti berhentinya aliran darah dan meningkatnya detak jantung-juga hanya membutuhkan sepersekian detik untuk mulai. Kecepatan ini terutama berlaku bagi emosi hebat seperti rasa takut terhadap ancaman mendadak.

Ekman berpendapat bahwa, secara teknis, memuncaknya emosi berlangsung amat singkat, hanya dalam hitungan detik bukannya dalam hitungan menit, jam atau hari. Alasan Ekman adalah bahwa amatlah tidak baik bagi emosi untuk menguasai otak dan tubuh selama waktu yang panjang tanpa memperdulikan lingkungan yang berubah.

Apabila emosi yang disebabkan oleh suatu peristiwa tunggal mau tak mau berlangsung menguasai kita setelah peristiwa itu berlalu dan tanpa mengingat hal lain yang terjadi di sekitar kita, berarti perasaan kita bukanlah panduan yang baik dalam mengambil tindakan. Agar emosi berlangsung lebih lama, pemicunya haruslah dipertahankan, sehingga emosi tersebut dapat bertahan, seperti apabila meninggalnya seseorang yang kita cintai membuat kita berkabung terus.

Apabila perasaan itu bertahan selama beberapa jam, lazimnya perasaan itu menjadi suasana hati, sebuah bentuk yang lebih teredam. Suasana hati menentukan nada perasaan, tetapi suasana hati bukanlah pembentuk yang sedemikian kuat bagaimana kita mencerap dan bertindak seperti halnya puncak emosi.

Sumber : Kecerdasan Emosional, Daniel Goleman, 1996.

Ingin cepat berubah? KLIK > https://servo.clinic/alamat/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s