Tanpa Nurani ?

Apakah Very Idam Henyansah alias Ryan, 30 tahun, penghuni Margonda Residence yang diduga telah membunuh 11 orang-bisa lebih-seorang psikopat ?

Pendapat para ahli berbeda beda, Hari Suherman, psikolog dari Universitas Padjadjaran Bandung, mengkategorikannya sebagai psikopat. Adapula sebagian ahli yang mengkategorikannya sebagai gangguan kepribadian antisosial.

Irmansyah, psikiater dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia tidak mau terburu buru menyimpulkan sebagai psikopat, karena diperlukan pemeriksaan kejiwaan yang intensif terlebih dahulu sebelum membuat kesimpulan.

DSM IV TR memberikan kriteria untuk gangguan kepribadian antisosial antara lain sikap tidak peduli dan pelanggaran hak hak orang lain, tidak mematuhi norma norma sosial, tindakan melanggar hukum, suka memperdaya orang lain termasuk berbohong, agresif, suka berkelahi/ melakukan penyerangan, tidak peduli, tidak bertanggung jawab dalam pekerjaan, tidak menyesal karena menyakiti orang lain dsb.

Berdasarkan deskriptif Cleckley, Robert Hare dan teman sejawat memberi enam kriteria dalam Revised Psychopathy Checklist (PCL-R) adalah : pesona palsu, harga diri yang kebesaran, rentan terhadap kebosanan, bohong patologis, menipu / manipulatif, tidak ada penyesalan.

Terlepas dari masuk kelompok manakah Ryan, satu hal yang menarik dari kasus Ryan adalah pada waktu yang bersamaan ybs. mampu melakukan dua perilaku yang berseberangan yaitu perilaku yang dianjurkan oleh agama seperti rajin sholat, bersikap tenang, percaya diri dengan perilaku berbohong (?), membunuh (?), cinta sejenis (?) dsb.

Ada beberapa mekanisme perilaku lain yang “tidak bekerja” seperti rasa berdosa, rasa bersalah, rasa takut dsb. Perilaku tersebut sangat mirip dengan perilaku korupsi di departemen Agama/Pendidikan, pendeta / guru yang melakukan pelecehan seksual, pengedar narkoba yang memangsa anak anak dsb.

Yang perlu diteliti adalah apakah perilaku tersebut bersifat keturunan ataukah melewati fase pergulatan, tarik menarik terlebih dahulu ?

Apakah ybs. merasa sudah tidak ada jalan lain kecuali “membunuh” nuraninya dan “menerima” (baca : putus asa) ketidak laziman seperti berbohong, merasa tidak bersalah, memanipulasi orang lain, masa bodoh yang tidak pada tempatnya, tidak mau mengambil tanggung jawab, bosanan, parasitik, tidak realistis, impulsif, suka melanggar hukum, ngesek sembarangan, sering bercerai dsb sebagai jatidirinya, sehingga untuk mereduksi rasa “sakit” tidak ada cara lain kecuali berdamai dengan ketidak laziman tsb. ?

Apakah perilaku tersebut sebagai akibat saat seseorang berfikir menemukan jalan buntu terhadap persoalan, kemudian memutuskan untuk sekalian basah karena merasa dirinya sudah “terlanjur” kotor, “terlanjur” berdosa dsb. ?

Apabila ya, menjadi sebuah tantangan pada para profesional / terapis untuk mensosialiasikan ke para pihak bahwa dengan ataupun tanpa bantuan profesional selalu ada “solusi” bagi setiap persoalan.

Diperlukan juga adanya jaminan pengurangan hukuman / wajib terapi bagi pelaku kejahatan yang bersedia bertobat ataupun mau berobat, serta perlindungan hukum bagi para profesional dari tuduhan tidak melaporkan kejahatan yang diketahuinya, guna keterbukaan klien dan mencegah jatuhnya korban baru.

Ingin cepat berubah? KLIK > https://servo.clinic/alamat/

2 pemikiran pada “Tanpa Nurani ?

  1. Tetapi dengan membunuh lebih dari 1 orang saja opini publik sudah mencap dia biadab, apalagi ini yang ktanya kemungkinan lebih dari sebelas orang weekk huebat choi…, tapi kalau bisa cara2 dia membunuh jangan terlalu dipublikasikan karena takut nanti akan ditiru oleh orang lain.

    Sebetulnya solusi yang paling cepat dan murah adalah harus selalu terjalin komunikasi antara ortu dan anak2, sehingga keduanya tau keadaan masinng2.

    Tq.

  2. Saya yakin sebetulnya dia punya hati nurani juga, kan sijagal tidak tiap hari atau minggu melakukannya.

    Jika kita membaca buku psikologi terkadang hati nurani tidak ngefek, jika nafsu yang negatif masuk maka nafsu itu akan menutupi hati nurani seseorang.

    Kita manusia selalu hidup memakai berbagai topeng sehingga hati nurani juga bisa berpindah-pindah. Nah kebetulan sijagal ini hati nurani kalau dia lagi mengajar ngaji baik, tetapi kalo nafsunya lebih besar untuk memiliki sesuatu yang berharga maka dia akan membunuh.

    Karena pembunuhan pertama sampai ke 10 lancar makanya, dia selalu melakukannya, ok

    Tq

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s